1.  KENIKMATAN  DI  SYURGA.

QOOLA  ROSUULULLOOHI  SHOLLALLOOHU  ‘ALAIHI  WASALLAM  :  KULLU  NA’IIMIN  JANNATI  WAKULLU  HAMMIN  MUNQOTHI’UN  ILLAA  HAMMA  AHLIN  NAARI.

(‘An-Anas)-Rowahu Ibnu La’ala – Jami’ush Shoghir / II / Bab huruf (Zak).

Bersabda Rosululloh SAW : “Segala kenikmatan itu berubah kecuali nikmatnya ahli Syurga, dan segala kesusahan itu putus kecuali kesusahannya ahli neraka”.

JANNAH   : Syurga.

NAAR :   Neraka.

ADDUNYA  :   Alam Dunia.

 

Syurga adalah tempat kenikmatan, tempat kebahagiaan, tempatnya kesenangan dan sifatnya abadi ( KHOOLIDIINA  FIIHAA ). Oleh sebab itu semua orang yang mengalami kenikmatan di syurga akan tetap nikmat dan itu tidak akan berubah. Kenikmatan tidak akan berubah menjadi niqmat, kesenangan tidak akan berubah menjadi kesusahan, kesehatan tidak akan berubah menjadi sakit, kekuatan ahli syurga tidak akan berubah menjadi kelemahan. Mudanya ahli syurga tetap, tidak akan berubah menjadi tua. Bangunnya (jaganya) ahli syurga tetap, tidak akan berubah menjadi ngantuk. Di syurga tidak ada orang yang tidur karena sudah tidak ada kesulitan, karena tidur itu untuk istirahat. Berhubung sudah tidak ada kepayahan jadi tidak ada tidur, semua nikmat yang ada di syurga itu bersifat abadi. Tidak ada sakit, macam-macam penyakit tidak ada. Susah sedikitpun tidak ada, tidur tidak ada. Lebih-lebih mati, itupun tidak ada. Itu kehidupan di syurga, tetap makan akan tetapi tidak berak. Tetap minum tetapi tidak kencing, tidak ada ingus, kalau ada kencing berarti ada kotor.

Manusia pernah mengalami senang saja, makan, minum, tapi tidak berak, tidak batuk tidak pilek. Akan tetapi lupa, yaitu pada waktu di dalam perut ibu. Istilahnya jabang bayi, suci. Di dalam perut makan sari-sari, akan tetapi tidak berak, tidak kencing, tidak batuk, tidak pilek. Anda tanyakan kepada orang-orang wanita yang sedang hamil!. Apa pernah anaknya batuk di dalam perut. Jadi kehidupan di dalam syurga itu senang saja, kejar-kejaran. Sampai di dalam Al-Qur’an disebutkan :

 ‘ALAA  SURURIN  MUTAQOOBILIIN.

Senang-senang, kejar-kejaran, hadap-hadapan, suap-suapan dibawahnya pohon Thuuba (SYAJAROH  THUUBA). Dihembus oleh angin rohmat sepoi-sepoi basah, bagaimana tidak senang hidup di dalam syurga.

Oh..! Syurga engkaulah yang aku cita-citakan.

Oh..! Neraka aku menjauh dari kamu.

2. KESENGSARAAN  DI  NERAKA.

Begitu pula neraka adalah tempat kesusahan yang tidak akan  منـقـطــع  (tidak akan putus). Susah tidak akan berubah menjadi senang, sakit tidak akan berubah sembuh. Apakah di neraka juga mengalami lapar?. Di dalam neraka juga merasakan lapar, ahli neraka berkata kepada malaikat : “Malaikat saya itu lapar, oleh malaikat diberi makan kayu Zaqum, satu kali gigitan pahitnya 40 tahun. Mengapa pahitnya seperti ini?. Kamu dulu kesenangannya juga pahit seperti ini (bakhil), mengapa bentuknya bulat-bulat. Diterangkan di dalam Al Qur’an buahnya Kayu Zaqum itu seperti kepalanya Syaithon. RUUSUSY-SYAYAATHIINI.

Kesusahan di dalam neraka tidak pernah berubah. Siapakah di dalam neraka yang mengalami kesengsaraan sangat berat?. Yang paling berat ialah orang-orang ‘Alim, ‘alim (berilmu) tapi tidak mengamalkan ilmunya. Orang ‘Alim yang di neraka itu mempunyai sepatu dari api, kalau dipakai panasnya bisa dirasakan sampai ke otak.

Seluruh penderitaan di neraka tidak akan berubah menjadi kenikmatan, seluruh kenikmatan di syurga tidak akan berubah menjadi kesengsaraan. Kesenangan di syurga dan kesusahan di neraka itu sifatnya abadi “KHOOLIDIINA  FIIHAA”.

3.  KEHIDUPAN  DI  ALAM  DUNIA.

Dunia itu bukan tempat seperti di syurga, bukan tempat seperti di neraka. Oleh sebab itu nikmat yang ada di dunia pasti berubah-ubah. Senang berubah menjadi susah, susah berubah menjadi senang. Malam berubah menjadi siang, siang berubah menjadi malam. Terang diganti gelap, gelap diganti terang. Panas diganti dingin, dingin diganti panas. Kemarau diganti penghujan, penghujan diganti kemarau.

Di dunia terus mengalami perubahan, berubah dengan kekekalan. Oleh sebab itu kita berada ditengah-tengah dunia ini pasti kena perubahan, kalau hidup di dunia minta senang terus itu namanya gila. Jadi hidup di dunia ini pasti mengalami perubahan-perubahan, dari sehat berubah menjadi sakit. Setelah sakit berubah lagi menjadi sehat, setelah dipuja orang kemudian dicela orang. Setelah dicela kemudian dipuja orang, gembira-susah, susah-gembira. Setelah dapat laba kemudian mengalami pailit, setelah pailit kemudian dapat laba.

Jadi kalau ada orang berkata : Saya ini merasakan susah terus-menerus, itu mustahil. Adanya orang tersebut merasakan susah jelas pernah mengalami gembira, kalau tidak pernah gembira untuk apa merasakan susah. Oleh sebab itu kita harus menginsyafi, kita itu berada di dunia. Kalau bisa selamat dari perubahan-perubahan tentulah para nabi-nabi :

ASYADDUL  BALAA-U  AL  ANBIYAA’.

Yang sering mengalami kesulitan justru para Nabi.

Ini harus di insyafi, di sadari. Orang celaka itu tidak sadar.