Terlalu sering kita tidak peduli dengan orang lain. Masa bodoh. Kita asyik beribadah, tapi tidak peduli dengan lingkungan kita. Apakah diantara kita ada yang ingin masuk surga sendirian atau ingin selamat sendirian, ingin hidup enak sendiri ? Hal itu tidaklah mungkin bisa, mustahil. Seumpama bisa lalu untuk apa para Nabi itu sulit-sulit menyampaikan ajarannya? Makanya dalam surat Al ashr diterangkan : Bila tidak ingin masuk golongan yang merugi, maka harus juga :

WATAWAA SOUBIL HAQQI, WATAWAA SHOUBISH SHOBR.

Jadi tidak cukup hanya AMANU WA’AMILUSH SHOLIHAT (Iman dan beramal sholeh), tapi harus juga

WATAWAA SOUBIL HAQ, WATAWAA SHOUBISH SHOBR.

“Mengajak-ajak kepada kebenaran dan mengajak-ajak kepada kesabaran”.

Jadi harus mengajak masyarakat kepada kebenaran dan mengajak masyarakat kepada kesabaran.

 

Kita harus menyadari bahwa untuk mengajak masyarakat kearah kebenaran itu memang berat, kadang dicaci maki, dicela dan lain sebagainya. Karena sifat masyarakat itu merdeka, merdeka mencela, merdeka mengkritik, merdeka mengritisi dan lain sebagainya. Tapi harus sabar, harus TAWA SHOUBISH SHOBR.

Kadang ada yang baru mulai da’wah lalu  kena kritik sedikit langsung mengeluh dan mendoakan tidak baik kepada yang mengritiknya, mudah-mudahan dia nanti ditabrak motor. Padahal dia sendiri tidak mau jika tertabrak motor. Bila mendoakan orang lain ketabrak motor berarti apa bedanya dengan golongan yang keras?. Jadi dikritik sedikit saja sudah marah, rupanya dia bukan calonnya juru da’wah. Juru da’wah itu seharusnya ulet, tidak mudah marah.

Maka seandainya ada yang mengritik kita, mungkin dengan kata-kata : Dia pidato itu paling-paling demi untuk mencari berkat. Tidaklah usah marah, tidaklah usah diseriusi, bilang saja jika saya dapat berkat nanti sampean tak kasih. Begitu saja kan beres.