QOLA ROSUULULLOHI SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAMA :

AS SAKHOO’U SYAJAROTUN MIN ASYJARIL JANNATI AGHSHOONUHAA MUTADALLIYAATUN FID DUN-YA FAMAN AKHODZA BIGHUSNIN MINHAA QOODAHU ILAL JANNATI. WAL BUKH-LU SYAJAROTUN MIN ASYJARINNAARI AGHSHOO NUHAA MUTADALLIYAATUN FID DUN-YA FAMAN AKHODZA BIGHUSNIN MIN AGHSHOONIHAA QOODAHU DZAALIKAL GHUSNU ILAAN NAARI. (AN ALI) ROWAAHUL ‘ADII WAL BAIHAQI FII SYA’BIL IMAANI. JAMI’USH SHOGHIR / II / SIN / 61.

Bersabda Rosulullohi shollallohu alaihi wasallama :

Sifat dermawan itu adalah sebuah pohon dari sebagian pohon-pohon surga yang cabangnya didekatkan di dunia, maka barangsiapa yang memegang dengan cabang pohon tersebut, menariklah cabang pohon itu kesurga. Dan sifat kikir adalah sebuah pohon dari sebagian pohon-pohon neraka, cabangnya didekatkan ke dunia, maka barang siapa yang memegang diantara cabang-cabangnya, menariklah cabang pohon itu ke neraka.

Hadis ini keterangan dari shohabat Ali, diriwayatkan oleh imam ahli hadis, imam ibnu Adi, imam Baihaqi dalam kitabnya Sya’bil iman. Dinukil oleh Syekh Jalaluddin ImamSayuti didalam kitabnya Jami’ush Shoghir jilid II hal 61.

Sebabnya kami menyertakan pula kitab dan jilidnya serta perowinya, supaya tidak menjadi ulasan kong kalikong, tutup mata ngrogoh kantong. Kalau sampean punya kitabnya lihat sendiri hadisnya.

 

Dermawan itu bahasa Arabnya SAKHO’UN / SAKHIYYUN. Maka seumpama ada orang yang sedang ngobrol-ngobrol dengan bahasa yang dicampuri Arab lalu berkata si Ahmad itu orang yang SAKHO’, berarti yang dimaksudnya adalah si Ahmad orang yang dermawan.

Kita sama mengetahui bahwa dermawan itu adalah suatu sifat ghoib, bukan materi, bukan benda. Dimana letaknya sifat ghoib tersebut? Adalah di hati. Lalu dalam hadis diatas kok diterangkan bahwa dermawan adalah SYAJAROH (sebuah pohon) ? Silahkan dikritisi.

Yaitu pohon dari sebagian (MIN), bukan keseluruhan, maksudnya dari sebagin pohon-pohon surga (ASY-JARIL JANNAH). Dan pohon tersebut ada cabangnya, ada ranting serta sub ranting.

Jadi kalau SYAJARUN itu mufrod, artinya 1 pohon, sedangkan kalau ASY-JARUN itu jamak, artinya pohon-pohon surga. Dari kalimat SYAJAROH inilah akhirnya timbul istilah sejarah.

Dari sini tahulah kita kalau pohon-pohon disurga itu banyak, satu diantaranya bernama pohon SAKHO’  (dermawan), padahal SAKHO’ itu adalah sifat hati. Kalau begitu pohonnya itu pohon apa? Jangan-jangan sampean bayangkan seperti pohon jati, bukan. Coba masalah ini diangan-angan sendiri, bukankah semuanya juga punya hati.

Kenapa SAKHO’ (dermawan) itu dalam hadis yang lain dikatakan QORIIBUN MINALLOH (dekat dengan Alloh)?.

Dan kenapa pula pohon SAKHO’ itu cabangnya didekatkan kedunia (AGHSHOONUHAA MUTADALLIYAATUN FID DUN-YA)?

Untuk mendekatkan pemahaman; kita semua ini adalah manusia. Dan bila manusia itu mati atau rohnya sudah meninggalkan jasmaninya, biasanya di istilahkan dengan apa? Di istilahkan dengan meninggal dunia (meninggalkan dunia). Lho katanya meninggalkan jasmani tapi kok dikatakan meninggalkan dunia? Memang jasmani itu dari dunia makanya disebut meninggal dunia.

FAMAN AKHODA     : Maka barang siapa yang memegang.

BIGHUSNIN MINHA : Dengan cabang dari pohon itu.

QOODAHU               : Menariknya.

ILAL JANNATI         : Ke surga.

Jadi kalau memang ada pohon SAKHO’ / SAKHIYYUN (dermawan) yang cabangnya mendekati dunia terus dipegangnya, maka yang memegangnya akan ditarik ke surga. Jadi mudah ya masuk ke surga itu, tidak usah naik masjid.

Adapun istilah lain dari pohon SAKHO’ adalah SYAJAROTUT THUUBA (ini istilah dalam hadis Nabi). Jadi kadang pohon yang di surga itu disebut SYAJAROTUS SAHIYYUN artinya Pohon dermawan, kadang juga disebut SYAJAROTUT THUUBA, artinya Pohon kebahagiaan.

Lalu bagaimana pohon yang di neraka? Dalam hadis diatas diterangkan :

WAL BUKH-LU        : Dan sifat kikir itu.

SYAJAROTUN         : Sebuah pohon.

MIN ASY-JARIN NAARI : Sebagian dari pohon-pohon neraka.

Jadi pohon-pohon neraka itu juga banyak, tidak hanya satu dan diantara pohon-pohon neraka itu ada yang dinamakan pohon bakhil atau pohon kikir.

AGHSHOONAHA       : Cabangnya

MUTADALLIYAATUN FID DUN-YA :     Didekatkan di dunia.

FAMAN AKHODZA BIGHUSHNIN :       Barang siapa yang memegang.

MIN AGHSHOONIHA : Dari antara cabang-cabangnya.

QOODAHU              : Menariknya.

DZAALIKAL GHUSNU : Itu cabang.

ILAN NAARI            : Ke neraka.

Dengan demikian berarti mencari surga itu tidak sulit, hanya dengan dermawan. Hanya dengan dermawan akan bisa masuk surga. Kalau tidak dermawan haram masuk surga dan halal masuk neraka. Sebagaimana diterangkan dalam hadis Nabi:

QOOLA ROSUULULLOHI SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAMA :

LAA YADKHULAL JANNATA ILLA ROHIIM.

Bersabda Rosulullohi shollallohu ‘alaihi wasallama :

Tidak bisa masuk surga kecuali orang yang kasih (orang dermawan).

Di hadis yang lain :

QOOLA ROSUULULLOHI SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAMA :

LAA YADKHULAL JANNATA KHUBBUN WALAA BAKHIILUN WALAA MANNAANUN

Bersabda Rosulullohi s.a.w :

Tidak bisa masuk surga orang yang berkhianat, orang yang pelit dan orang yang memberi sedikit namun ingin dibalas banyak oleh orang yang diberinya.

Yang demikian ini tidak bisa masuk surga karena tidak dermawan.

Jadi MANNAANUN (orang yang memberi sedikit tapi mengharapkan balasan banyak dari orang yang diberinya, yang istilah Jawanya nulung mentung), ini tidak akan bisa masuk surga.

Kalau kurang jelas silahkan menyimak surat yang namanya Al ma’un. Bukankah surat ini sudah sering kita baca?

 

SURAT AL MAA’UUN

Surat Al maa’uun (tulisannya MIM,  ALIF, ‘AIN, WAWU, NUN) artinya adalah sesuatu yang berguna, sesuatu yang bermanfaat. Didalam surat tersebut diterangkan :

AROAITAL LADZII YUKADZ-DZIBU BIDDIIN (1). FADZAALIKALLADZII YADU’UL YATIIM (2). WALAA YAHUD-DLU ‘ALAA THO’AAMIL MISKIIN (3). FAWAILUL LIL MUSHOLLIINA (4). ALLADZIINAHUM ‘AN SHOLAATIHIM SAAHUUN (5). ALLADZII NAHUM YUROO’UUN (6). WAYAM NA’UUNAL MAA’UUN (7).

Ayat ini diawali dengan pertanyaan AROAITA (Tahukah kamu Muhammad?).

Tahukah kamu Muhammad orang-orang yang mendustakan agama, pembohong agama, pembual agama? (1).

Nabi Muhammad tidak tahu siapa yang dimaksud pendusta agama. Lalu dijelaskan oleh Alloh, sebagaimana lanjutan ayat diatas.

Mereka itu orang-orang yang menghardik anak yatim. (2).

Dan tidak mendorong atas makanan kepada fakir miskin. (3).

Setelah itu lalu ayat nomer empatnya ada ancaman.

Neraka wel untuk orang-orang yang mengerjakan sholat. (4).

Orang yang bagaimana sholatnya?

Yaitu orang-orang yang lupa dari tujuan sholatnya (5)

Bukan lupa akan sholatnya tapi lupa dari tujuan sholat.

Lalu apa tujuannya sholat?

Diantara tujuannya sholat adalah sebagaimana diterangkan pada ayat sebelumnya, yaitu : Menolong anak yatim dan fakir miskin. Ini diantara tujuan sholat.

Oleh karena tujuannya sholat lupa, yang di ingat hanya sholatnya saja, ya WAILUN, artinya mendapat neraka wel. Meskipun sholatnya beberapa puluh tahun, bila lupa tujuannya ya neraka wel.

Lanjutan ayat diatas :

Orang-orang yang hanya ingin dipuji (riya’) (6).

Dan mereka mencegah atau menghalang-halangi dari sesuatu yang bermanfaat (7).

Misalnya ada orang yang mau membantu orang lain, lalu dihalang-halangi. Jadi orang yang hartanya hanya untuk dirinya sendiri, rizkinya tidak di alirkan kepada yang membutuhkan, meskipun tetangganya kelaparan dibiarkan saja kelaparan dan juga menghalang-halangi orang lain yang ingin membantu orang lemah, ini jelas neraka wel.

Makanya bila banyak orang yang bakhil akan banyak orang yang sengsara, banyak orang yang tidak bisa merasakan kegembiraan. Kenapa banyak yang sengsara? Karena adanya kebakhilan. Makanya orang bakhil itu meskipun sholat, puasa, haji dst tetap patut dimasukkan neraka wel. Gayanya saja sholat, puasa tapi berbahaya. Ini menurut pandangan Alqur-an surat Al maa’uun. Sampean hafalkan surat ini. Nanti takut menghafalkannya, tidak usah takut.

Surat Al maa’uun inilah yang mengilhami kyai Ahmad Dahlan sehingga melahirkan organisasi Muhammadiyah.

* Semoga manfaat !!