Bagaimana hati bisa baik ?. Bisanya baik itu melalui Khusnul Khuluq atau budi pekerti yang baik. Dan didalam hati itu sudah ada benih-benih budi pekerti, kita tinggal menghidupkan saja.  Nabi Muhammad sendiri diutus kedunia itu untuk menyempurnakan kebaikan akhlaq.

QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLAALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAMA.
INNAMAA BU’ITSTU LI-UTAMMIMA SHOOLIHAL AKHLAAQ.
Bersabda Rosulullohi s.a.w : Titik berat saya diutus itu untuk menyempurnakan kebaikan akhlaq.

Akhlaq itu adanya didalam hati maka kalau manusia itu akhlaqnya baik / budi pekertinya baik ;

  • Bila mempunyai ilmu, ilmunya akan sampai kepada kearifan.
  • Bila memegang ekonomi, ekonominya akan sampai kepada pemerataan.
  • Bila memegang kekuasaan, kekuasaan itu akan sampai pada pengayoman.
  • Kalau menjadi perwakilan, maka perwakilannya akan sampai kepada amanat.
  • Bila memegang hukum (jaksa / hakim), maka akan sampailah kepada keadilan.
  • Kalau penataran, penatarannya akan sampai kepada ketauladanan.

 

Ini semua akan terbukti kalau memang budi pekertinya baik. Tapi bila akhlaqnya atau budi pekertinya tidak baik maka :

  • Ilmunya tidak sampai pada kearifan.
  • Ekonominya tidak sampai pada pemerataan, walaupun dikatakan : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Jangankan sampai seluruh rakyat Indonesia, tetangganya saja tidak dihiraukan.
  • Pemerintahannya tidak sampai pada pengayoman.
  • Perwakilannya tidak sampai pada amanat.
  • Hukumnya tidak sampai pada keadilan, hanya kantornya saja yang berlebel kantor keadilan, namun isinya dagangan (perkara dibuat dagangan, ditawarkan berani berapa kamu?. Bila kamu berani sekian, maka akan saya bebaskan).
  • Penatarannya tidak sampai pada keteladanan.
  • Politik tidak sampai pada peraturannya.           

Wal hasil semuanya tidak ada manfaatnya sama sekali kalau hatinya tidak berisi akhlaq makarimah. Dan negarapun hukumnya tidak akan bisa menjadi KHUKUUMAN ROOSYIDA. Juga banyak pencaplok-pencamplok, pengemis-pengemis (bukan pengemis yang tidak punya uang). Yang mana dalam Joyo Boyo Babat telah lambangkan dengan istilah jaman edan. Sebenarnya yang edan itu bukan jamannya tapi orangnya.                       

Selanjutnya dalam Joyo Boyo diterangkan : Bila ikut edan tidak jadi dandanan, tidak ikut edan tidak kebagian (karena dicuri oleh yang edan-edan). Edan (gila) itu ada yang gila pangkat, gila harta benda. Makanya (lanjutan Joyo Boyo) : Ewuh oyo ing pambudi. Ewuh itu sulit, oyo ing pambudi itu pekerjaan. Tilahi wong cilik koyok gabah den interi, golong-golong ngalor, golong-golong ngidul, sing ngulon ngetan, sing ngetan ngulon, tempuk dadi siji nok tengah.

(Keadaan rakyat kecil seperti gabah diputar, bergolong-golong ke Utara, bergolong-golong ke Selatan, yang di Barat ke Timur, yang di Timur ke Barat, akhirnya bertemu jadi satu ditengah). Bila sudah bertemu ditengah, jadilah tabrakan atau demo.                       

Itulah jaman edan dan didalam jaman edan itu ada : Titit tuit damar mati muliho, kodok lungguh dinglik sabuk nekel gak duwe duwek, tanah Jowo dibagi, wong Jowo kari separoh, Cino kari sak jodo, Londone ora kanggo.

Apa orang Jawa habis ? Tidak, orang Jawa malah banyak.

Tapi mengapa dikatakan tinggal separoh ?.Karena yang separohnya bento (gila).

Cinanya kok disebut tinggal sejodoh, apa habis?. Tidak, hanya saja jadi W.N.A / W.N.I.

Mengapa disebut : Belandanya tidak berguna?.  Karena Belandanya sudah tidak menjajah, tapi sifat penjajahannya itu masih merata, banyak adu domba.     

KEUTAMAAN AKHLAQUL KARIMAH.

Ada salah seorang shohabat bertanya kepada Nabi Muhammad s.a.w, wahai Nabi si A itu ibadahnya tekun, wiridannya tekun, tahajutnya juga rutin akan tetapi budi pekertinya jelek,  dengan tetangganya saja dia tega, itu bagaimana Nabi ?

Jawaban Nabi Muhammad : Dia itu calon penghuninya neraka.

Padahal dia itu sholat, tapi kok menjadi penghuninya neraka ?.

Sebab dengan tetangganya tidak baik, mudah su’udlon. Dilirik saja sudah su’udlon (dikira karena sebab lirikan itu dagangannya tidak laku). Bila benar berarti orang yang melirik itu hebat, dilirik saja dagangannya bisa nggak laku apalagi bila dipandang, terlebih lagi bila dimasuki rumahnya. Sakit sedikit merasa disantet. 

***