Kita sering mendengar sebuah perkumpulan atas nama Allah SWT. Baik itu lembaga pendidikan Islam seperti pondok pesantren, yayasan Islam atau organisasi Islam. Akan tetapi hakekat persatuan dan pertemuan adalah  persatuan dan pertemuan hati. Hati yang saling mencintai karena Allah SWT, mudah melupakan kepentingan pribadi dan keluarga.
 

Jika makna ini tersingkiran maka akan kita temukan sebuah suasana  keluarga pesantren, seperti adanya peristiwa disaat belum lama Kiai sepuh meninggal, anak-anaknya berebut dapur santri, kantin dan pembagian jumlah santri yang ikut. Karena santri di anggap sebagai aset yang mendatangkan keuntungan.

Dalam sebuah yayasan atau organisasipun bisa terjadi  demikian. Pergantian kepemimpinanpun kadang dilakukan dengan cara yang tidak beradab seperti perebutan kekuasaan dalam sebuah pemerintahan. Main olok, fitnah dan mencari-cari kejelekan orang yang diperkirakan menghalanginya untuk sampai kepada kepemimpinannya.

Kenapa yang semacam ini terjadi ? Pesantren, yayasan dan organisasi menjadi ajang pertikaian dan  tempat suburnya dendam dan dengki para keluarga dan pengurusnya.

Rasulullah pernah meyebutkan “Ada amal yang secara lahir adalah amal akhirat akan tetapi sama sekali tidak ada nilai akhiratnya. Ada amal yang terlihat secara lahir sebagai amal dunia akan tetapi sarat dengan nilai akhirat.
Artinya ada sesuatu yang tersembunyi dibalik gebyar sebuah rutinitas dan aktivitas yang menjadi standar penilaian sebuah amal. Ia adalah ” niat ” yang tersembunyi didalam kalbu. Dan disitulah tempat penilaian Allah SWT yang sesungguhnya. Dan hanya Allahlah yang tahu dan  akan menilai.

Orang yang berjuang Karena Allah  akan selalu berfikir bagaimana sebuah Pesantren, Yayasan dan Organisasi itu maju dan berkembang. Tidak meributkan kenapa dia tidak memimpin.
Dalam hal ini ada tanda-tanda dhohir yang harus dicermati yang akan menghantarkan kita kepada makna ketulusan dalam berjuang. Diantaranya adalah dengan tidak meremehkan kelompok lain atau lembaga lain selama  dalam sebuah perjuangan di jalan Allah SWT. Sebab meremehkan adalah kesombongan yang akan  menghantarkan seseorang untuk cinta pangkat dan sanjungan.

Seorang Ustadz yang mempunyai jamaah besar dalam pengajiannya akan begitu mudah mengomentari dan meremehkan Ustad lain yang jamaahnya lebih sedikit. Seseorang yang mempunyai santri banyak begitu mudah meremekan oraang lain yang santrinya lebih sedikit. Atau seseorang yang berpendidikan Luar Negeri begitu mudah meremehkan orang yang pendidikanya hanya di Dalam Negeri saja. Itu adalah benih-benih  Anti ketulusan. Dari kebiasaan meremehkan orang lain dan kelompok lain inilah akan subur kerakusan pangkat dan sanjungan. Sehingga sebuah keluarga besar Pesantren, Yayasan dan Organisasi menjadi ajang pertikaian dan tempat suburnya kedengkian dan dendam. Semoga Allah memberi kita ketulusan dalam berjuang!