Di dalam bulan puasa Romadhon ini merupakan satu kesempatan yang sebesar-besarnya yang diberikan kepada kita untuk meraih nilai-nilai Taqwalloh. Jangan dilalaikan kita harus sungguh-sungguh dan siap menyambut Sayyidusy Syuhur (Puncaknya Bulan).

Kalau kita meremehkan bulan Romadhon berarti kita meremehkan Al Qur’an dan meremehkan Nabi Muhammad. Masak kita kalah dengan perut? Masih kalah dengan masakan? Memang puasa tapi siangnya mengumpulkan berbagai macam makanan. Katanya puasa tapi mengancam makanan.
Menurut Kanjeng Nabi kalau kita berpuasa:
LISH SHOO-IMI FARHATAANII FARHATUN ‘INDA IFTHORI WAFARHATUN ‘INDA LIQOO-I ROBBIHI
Artinya   :        Orang yang berpuasa di dalam bulan Romadhon itu mempunyai 2 kegembiraan:
1.  Gembira di waktu berbuka.
2.  Gembira di waktu nanti di akhirat bertemu dengan Alloh.
Apabila kita berpuasa dan kita tahu kalau waktu sudah menunjukan pukul 4 dan waktu meningkat lagi menunjukan pukul 5 kegembiraan kita juga meningkat lebih-lebih sudah 17.30 tambah meningkat. Karena sudah dekat dengan yang di ancam itu.
Apabila menoleh kesana-kemari dan mengetahui ada kelelawar yang terbang dan sudah mendengar bedug kita belum minum itu sudah merasakan segar. Kalau tidak berpuasa kemudian mendengar bunyi bedug akan terasa biasa.
Walaupun sangat gembira akan tetapi kalau berbuka supaya diatur.
Minum minuman yang manis-manis terlebih dahulu, itu sunahnya Rosul. Misalnya makan kurma, pokoknya yang manis-manis.
Jangan ini dan itu disantap, katanya apabila tidak di habiskan Sholat Tarawihnya tidak bisa khusyu’.
Apakah makanan itu yang menyebabkan khusyu’?
Pada waktu berangkat Tarawih perutnya kenyang sehingga jalannya pelan-pelan setelah sampai di masjid dan imam belum datang kemudian membaringkan punggung setelah imamnya datang justru tertidur.
Jadi sedikit-sedikit, karena menurut hadits usus itu dibagi menjadi 3 bagian:
1.     Sepertiga untuk air
2.     Sepertiga untuk makanan.
3.     Sepertiga untuk pernapasan.
Banyak makannya pasti banyak minumnya. Kalau banyak minumnya pasti banyak ngantuknya. Banyak ngantuknya banyak tidurnya sehingga banyak lupanya. Dan orang yang tidur itu aman.
AMANATAN NU’AASAN
Artinya   :        Orang ngantuk itu aman.
Karena sudah tidak memikirkan hutang.
***