Kalau rukun Islam yang kedua adalah Sholat, yang maknanya ialah :
  • Menundukkan jasmani.
  • Menundukkan ruhani.
  • Menundukkan akal fikir.
  • Menundukkan rasa hati.
Maka rukun Islam yang ketiga ialah mengeluarkan Zakat. Jadi yang ditundukkan kepada Alloh Ta’ala itu bukan hanya jasmani, ruhani, akal fikir dan rasa hati saja, akan tetapi harta benda atau uangnyapun ditundukkan kepada Alloh Ta’ala yakni dengan mengeluarkan Zakat.
Sebab kalau uangnya tidak ditundukkan kepada Alloh Ta’ala ini akan bisa menimbulkan bahaya yang besar. Uang itu bahasa Arabnya ialah “Maalun”, dan Maalun itu sendiri artinya condong atau dalam bahasa Jawanya itu mangklung. Dan memang semua orang itu condong kepada uang, kalau uang itu tidak ditundukkan, maka lama-kelamaan uang itu dianggap sebagai Tuhan.
Sering kita mendengar : Uang itu Kuasa, semuanya dapat diatur dengan uang. Orang yang berkata uang itu kuasa, itu termasuk sudah musyrik, akan tetapi tidak terasa bahwa dirinya jatuh kepada musyrik.
Kalau orang itu condongnya terhadap uang sudah terlalu condong, maka namanya sudah “Hubban” yakni artinya cinta. Dan kalau cintanya sudah terlalu, maka namanya “Isyek”, dan orang yang sudah Isyek itu dinamakan “Aasyik”. Dan yang dicintai namanya “Ma’syuuk”.
Kalau cintanya kepada sesuatu sudah terlalu cinta, maka ini akan bisa menjadikan buta dan tuli. Orang yang sudah seperti itu, maka dengan dirinya sendiri orang tersebut tidak tahu, begitu juga terhadap yang dicintainyapun dia tidak tahu, sebab apa ? Sebab dirinya dibakar oleh api cinta.
ALHUBBU NAARULLOOH
Rosululloh SAW. pernah bersabda :
QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAM : HUBBUDDUN-YAA RO`SU KULLI KHOTHII-ATIN (Al Hadits).
Artinya : “     Bersabda Rosululloh SAW : Cinta dunia itu kepalanya segala keluputan”.
QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAM : HUBBUTSTSANAA-I MINANNAASI YU’MII WAYUSHMI (Al Hadits).
Artinya : “     Bersabda Rosululloh SAW : Cinta pujian dari manusia itu bisa membutakan mata dan bisa menulikan telinga’.
Jadi cinta pujian, seperti beribadah ingin dipuji sebagai ahli Zuhud, terkadang ada yang berkata : Saya ini Sholat Tahajjud jam 3 sampai jam 4, biasanya sampai dapat 70 sampai 150 rokaat, tapi tadi malam itu cuma dapat 60 rokaat, tapi sudah fajar. Demikian itu kok disampaikan kepada orang lain, ini dikarenakan hanya ingin dipuji sebagai orang yang ahli Tahajjud.
Kembali kepersoalan Hubbuddun-ya. Adzab pada sakarotul maut yang sangat hebat, itu timbulnya dari Hubbuddun-ya ; cinta dunia, makanya kita harus berhati-hati mengenai masalah cinta dunia ini. Untuk itu kita harus belajar, dan untuk belajar supaya tidak mencintai harta benda sampai keterlaluan, maka kita diperintah melak-sanakan ibadah Zakat, yakni menyisakan sebagian harta benda kita untuk diberikan kepada Fakir Miskin. Jadi ibadah Zakat itu ialah satu ibadah yang tujuannya agar Syahadatnya itu tidak dikotori oleh Hubbuddun-ya ; cinta dunia.
Jadi kita boleh mencintai dunia atau harta benda, akan tetapi tidak boleh berlebih-lebihan sampai mengalahkan cinta kepada Alloh, Rosululloh dan Jihad Fii Sabilillah. Dan supaya mencintai dunia tidak berlebih-lebihan, lalu diadakanlah ibadah yang namanya ibadah Zakat, baikpun itu Zakat Mal ataupun Zakat Fithrah.
Zakat itu adalah melepaskan sebagian hartanya untuk diberikan kepada orang Fakir Miskin. Terkadang ada Zakat yang berputar-putar yakni ; Bapak Zakatnya diberikan kepada anaknya, dan anaknya Zakatnya diberikan kepada bapaknya. Ini namanya Zakat rekayasa, dan ini menunjukkan sifat kikirnya. Ini masalah ibadah Zakat. Jadi Zakat itu ibadah menundukkan harta benda kepada kehendak Alloh Ta’ala.