Orang yang Hubbuddun-ya maka akan mengalami penderitaan-penderitaan, yakni :

1. Penderitaan yang pertama :
Bila dia itu berpisah dengan yang dicintainya. Ini menimbulkan penderitaan atau kesengsaraan yang hebat. Makanya terkadang ada orang yang kehilangan sesuatu, kemudian orang tersebut menjadi gila. Apa sebab bisa sampai menjadi gila ? Sebab terlalu mendalam cintanya terhadap sesuatu, yang kemudian sesuatu tersebut hilang dan berpisah dari dirinya. Adapun cinta yang tidak bisa dikalahkan itu ada 3, yakni :
1. Cinta kepada Alloh Ta’ala.
2. Cinta kepada Rosululloh SAW.
3. Cinta kepada Jihad Fii Sabilillah.
Jadi kita boleh mencinta isteri kita, boleh mencintai anak kita, boleh mencintai keluarga kita, boleh mencinta harta benda kita, akan tetapi cinta kita tersebut tidak boleh mengalahkan cinta kita kepada Alloh, Rosululloh dan Jihad Fii Sabilillah.
Jangan percaya dengan nyanyian-nyanyian yang dalam nyanyian itu ada kata-kata : “Engkau adalah aku. Aku adalah engkau. Aku dan engkau adalah identik, ibarat besi dibakar, bila dipegang besinya, maka apinya yang kena. Bila yang dipegang apinya, maka yang kena adalah besinya. Tanpa engkau, aku tidak ada artinya apa-apa (Ini namanya gila).
Ada lagi yang berbunyi : “Oh bintang kejora, sampaikanlah salamku kepada dia, beritahukanlah bahwa aku berada disini”. Ini namanya nyanyian-nyanyian pengikis iman.
Ada lagi nyanyian yang tidak boleh ingat kepada Gusti Alloh itu : “Buka buku ingat kamu, makan ingat kamu, minum ingat kamu, kentut ingat kamu”. Coba sih kalau benar cinta, waktu kentut lalu diempokno, ke hidungnya yang mencintai tersebut, bagaimana ? Pastilah bertengkar, padahal cinta itu ikhlas benar. Cinta itu apabila tidak bertemu dengan yang dicintainya, maka akan mengalami kesusahan yang mendalam. Dan tambah mendalam cintanya, maka akan bertambah sangat susahlah kalau tidak berjumpa dengan yang dicintai tersebut.
Kalau yang dicintai itu harta benda, maka ketika akan mati, pasti cengap-cengap, karena selalu ingat kepada yang dicintainya, ingat akan sawahnya, ingat akan isterinya. Dalam hatinya berkata : Sawahku nanti diambil oleh siapa ? Isteriku masih muda, nanti juga diambil oleh siapa ?
Jadi orang yang sangat mendalam cintanya kepada dunia, maka ketika akan berpisah dengan harta benda, yakni pada saat sakarotul maut, maka orang tersebut mengalami siksaan yang hebat, karena akan berpisah terhadap apa yang dicintainya.
2. Penderitaan yang kedua ;
Apabila sesuatu yang dicintainya itu selama-lamanya tidak dia jumpai lagi, maka ini akan menimbulkan tambah menderita lagi.
3. Penderitaan ketiga :
Ketika di akhirat, orang lain sama menerima kenikmatan-kenikmatan, akan tetapi dirinya mengalami kemelaratan yang abadi, mengalami haus yang abadi, lapar abadi. Jadi orang yang Hubbuddun-ya itu aka mengalami penderitaan yang bertumpuk-tumpuk, yang penderitaannya tidak bisa dibayangkan betapa hebatnya penderitaan tersebut. Orang yang didalam hatinya sudah dominan penuh dalam hatinya akan cinta dunia, maka :
  • Tidak ada tempat lagi didalam hatinya untuk mencintai Alloh Ta’ala.
  • Tidak ada tempat lagi untuk cinta kepada Rosululloh.
  • Tidak ada tempat lagi untuk cinta kepada Jihad Fii Sabilillah.
  • Tidak ada tempat lagi untuk cinta kepada kemanusiaan.
Adapun yang ada hanyalah tempat untuk cinta kepada dunia saja, katanya : Saya dan dunia adalah satu, saya timbul dari dunia, dan saya kembali kepada dunia.
Maka kalau orang sudah seperti itu mendalam cintanya terhadap dunia atau harta benda, maka penderitaannyapun juga akan mendalam kalau pisah dengan dunia.
Jadi kita boleh itu mencintai dunia atau harta benda, akan tetapi tidak boleh berlebih-lebihan sampai mengalahkan cinta kepada Alloh, Rosululloh dan Jihad Fii Sabilillah. Dan supaya mencintai dunia tidak berlebih-lebihan, lalu diadakanlah ibadah yang namanya ibadah Zakat, baikpun itu Zakat Mal ataupun Zakat Fithrah.