Nabi Muhammad SAW dawuh :

QOOLAROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAMA : IHDZARUU ZALLATAL ‘AALIMI FAINNA ZALLATAHU TUKAB KIBUHU FIN NAARI.
(‘AN ABI HUROIROH) ROWAHUL FIRDAUS/ JAMI’US SHOGHIR// I/ ALIF /18.
Artinya:”Bersabda Rosululloh SAW : Berhati-hatilah kamu akan tergelincirnya orang-orang yang Alim, maka sesungguhnya tergelincirnya dia itu , ia ditungkepkan ke dalam Neraka”.
Di sini ada kata-kata IHDZARUU artinya hati-hatilah kamu / takutlah kamu.  Hati-hati terhadap apa …?. ZALLATAL ‘AALIM yaitu tergelincirnya orang-orang ‘Alim, ini membahayakan.
Nabi Muhammad SAW dawuh :
QOOLAROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU SHOL LALLOHU ‘ALAIHI WASALLAMA : SHINFAANI MINAN NAASI IDZAA SHOLAHA SHOLAHAN NAAS WA-IDZAA FASADA FASADAN NAAS AL’ULAMA’ WAL ‘UMARO’ (‘AN IBNU ABBAS)
Artinya:”Bersabda Rosululloh SAW: Dua golongan dari manusia, tatkala baik dua golongan itu baiklah segala manusia dan tatkala rusak dua golongan itu, rusaklah segala manusia, dua golongan itu Ulama’ dan Pemerintah”.
Menurut dawuhnya Nabi Muhammad SAW, Jika dua golongan itu baik, masyarakat manusia dunia menjadi baik, tapi jika dua golongan itu rusak, masyarakat manusia di dunia ini akan menjadi rusak.
Masyarakat menjadi baik bila Ulama dan Umarok itu baik, tetapi masyarakat dunia ini akan menjadi rusak bila Ulama dan Umaroknya menjadi rusak.
Mengapa masyarakat menjadi baik dan rusak…?
Karena dua golongan itu sama-sama diikuti ummat. Ulama itu Informal, juga diikuti masyarakat, merupakan pimpinan yang diikuti orang banyak. Kalau yang diikuti itu rusak, maka pengikutnya juga ikut rusak . Ulama dan Umarok rusak masyarakatnya juga ikut rusak. Dan kalau Ulama’nya baik, Umaroknya baik, maka masyarakatnya akan menjadi ikut baik. Ulama’ yang sedikitnya punya murid 10 saja, umpama Ulama’ itu bicara, maka murid yang 10 itu akan mengikutinya, bila yang dibicarakan itu hal yang tidak baik, apakah 10 orang muridnya itu tidak rusak…? pasti akan ikut rusak. Dan yang  10 itu lama-kelamaan akan menjadi 20, 30, 40 dan seterusnya, sehingga ratusan.
Kadang-kadang ummat itu keterlaluan, lebih percaya ucapannya ‘Ulama dari pada Al Qur-an dan Hadits, ada yang semacam itu, tidak perlu ditunjukkan contohnya. Meskipun melanggar Al Qur-an dan Hadits, kalau yang berbicara itu ‘Ulama, mereka tidak pikir panjang lebar,  langsung berangkat saja. Itu namanya Taqlid (buta), kata mereka bahwa itu namanya adalah:
SAMI’NAA WA ATHO’NAA
Kalimat itu seharusnya terhadap Rosul (kami dengar, kami thoat), tetapi terhadap ‘Ulama jangan terburu-buru sami’naa wa-atho’naa (kami dengar kami thoat). Tidak usah terburu-buru, karena belum tentu itu merupakan ‘Ulama (yang benar), tapi kalau ternyata yang ditaati itu ‘Ulama Su’, ini malah berat, bukan sami’na wa- atho’naa tapi jadinya sami’na wasu’naa (taat kepada ulama’ Su’).