Kanjeng Nabi SAW dawuh :

QOOLA ROSUULULLOH SHOLLALLOOHU’ALAIHI WASALLAMA  QOWAAMUD DUNYAA BI ARBA’ATIN ASY YAA-AN AWWALUHAA BI’ILMIL ‘ULAMAA-I WATS TSAANI BI ‘ADLIL ‘UMAROO-I WATS TSAALITS BISAKHOWATIL AGHNIYAA-I WAR ROOBI’U  BID DU’AA-IL FUQOROO-I WALAULAA ‘ILMUL ‘ULAMAA-I LAHALAKAL JAAHILUUN  WALAULAA BISAKHOOWATUL AGHNIYAA-I LAHALAKAL FUQOROO-I WALULAA DU’AA-UL FUQOROO-I LAHAKAL AGHNIYAA-I WALAULAA ‘ADLUL ‘UMAROO-I LA AKALA BA’DLUN NAASI BA’DHON KAMAA YA’KULU DZI’BUL GHONAAMI
Artinya:”Tegaknya Masyarakat dunia dengan 4 perkara , 4 pilar :
1) Ilmunya para ‘Ulama (ilmunya orang yang berilmu).
2) Adilnya pemerintah
3) Dermawannya orang-orang yang kaya.
4) Do’anya orang-orang yang Fakir”.
 
Seandainya tidak ada ilmunya orang-orang yang berilmu pasti rusak orang-orang yang bodoh. Seandainya tidak ada dermawannya orang-orang yang kaya, pasti  rusak orang-orang faqir. Seandainya tidak ada do’anya orang-orang yang Faqir rusaklah orang-orang yang kaya. Seandainya tidak ada adilnya pemerintahan pasti makan manusia dengan manusia yang lain, seperti macan Tutul makan kambing.
(dalam kitab Dhurrotun Naashihiin bab Fadl-lul ilmi Majlis III).
 
Kanjeng Nabi dawuh, tegaknya masyarakat dunia ini disebabkan adanya 4 soko guru (pilar).
Coba kalau orang-orang yang pandai-pandai itu ilmunya tidak disebar luaskan, pelit terhadap ilmunya, maka masyarakat akan tetap bodoh dan  orang yang bodoh itu akan dimakan oleh orang-orang yang pandai, oleh orang-orang yang pintar. Itulah orang yang bodoh akan menjadi rusak, maka :
~ Orang yang bertani tidak mengerti ilmunya pertanian
~ Orang yang berdagang tidak mengerti ilmunya perdagangan
~ Orang yang bikin sambel tapi tidak mengerti ilmunya membikin sambel, sehingga dikasih kapur, maka rusak jadinya.
 
Jadi kalau tidak ada ilmunya orang yang berilmu, mesti akan menjadi bodoh , dan kalau bodoh bagaimana…?, maka akan jadi santapan. Bayangkan orang yang mengerti hukum tapi tidak mengajar hukum kepada masyarakat, malah menakut-nakuti “Ini hukumannya 10 tahun”, belum-belum sudah ditakut-takuti semacam itu.
 
Tidak tahu prosesnya hukum, yang ujung-ujungnya adalah uang,  tidak perlu susah-susah memproses sendiri tahu beres saja. Ini kalau menurut Jayabaya namanya adalah :
Wong bisu mutusi perkoro (Orang bisu menyelesaikan perkara).
 
Maksudnya orang bisu itu adalah uang, di situ ada gambarnya, tapi tidak bisa berbicara (bisu), tapi bisa menyelesaikan masalah (perkara), dibela dipersidangan tidak selesai-selesai tapi diambilkan orang bisu jadi oke!
 
Kalau Umaroknya tidak adil maka kejadiannya seperti sekarang ini, satu sama lain saling caplok mencaplok, jegal menjegal, makan memakan seperti Macan (Harimau) makan kambing.
 
Kalau yang berilmu terus mau menyebarkan ilmunya, pemerintahnya adil, orang kayanya dermawan, orang Faqirnya masih mau berdo’a, maka negara ini akan menjadi tenteram (tegak).
 
Orang faqirnya mau berdo’a itu menunjukkan sabarnya, kalau tidak mau berdo’a berarti tidak sabar. Dan bila tidak sabar maka orang-orang kaya itu akan dikroyok , diserang ramai-ramai oleh kaum Faqir, akan rusak dunia ini. Karena kalau tidak direbut kekayaannya itu bagaimana, sedang orangnya itu kaya….! tapi pelitnya seperti itu, tidak mau dermawan.
 
Ada orang yang kaya, melayani orang-orang yang butuh bantuan uang, dipersilahkan untuk pinjam, tapi dipinjamkan dengan senjata anak apanah. senjata ini mengenanya tidak seberapa, tapi baliknya senjata itu membawa usus. Dipinjami 10 000 , lima hari kembali menjadi 30 000, itu namanya bukan dermawan, tapi membunuh orang. Kalau semacam itu rusak masyarakat .
 
Ulama’nya tidak menyebarkan ilmunya, yang kaya tidak dermawan digenggam saja tidak melebar pada orang lain, dan orang yang fakir tidak mau berdo’a, memandang dikanan kirinya gemerlapan, tidak sabar, maka dirampok. Seperti ini akan rusak semuanya.
 
Makanya masyarakat ini menurut dawuhnya kanjeng Nabi SAW tiangnya ada empat.
1) Ilmunya Ulama’
2) Adilnya Pemerintahan
3) Dermawannya orang Kaya
4) Do’anya orang Faqir
 
Kita bisa bayangkan di Indonesia ini mayoritas beragama Islam, orang Islamnya banyak yang kaya, dan bila orang-orang Islam yang kaya itu mau dermawan tidak mementingkan hawanya maka tidak akan ada Mushola yang bobrok (rusak). Kadang ada mushola yang sampai keadaannya bobrok seperti kandang Kambing, ada orang-orang Islam akan mendirikan Mushola / Masjid dengan mencegat minta-minta di pinggir jalan, ada yang dijalan-jalan minta sumbangan dengan membawa kendaraan (mobil), apa tidak lebih baik mobilnya dijual…! (mobil sewaan)
 
Ada yang dengan membaca dalil, ada yang membaca sholawat untuk minta-minta sumbangan, itu semua karena bakhilnya orang-orang Islam yang kaya. Umpama orang kayanya dermawan tidak sampai terjadi hal-hal semacam itu.
 
Ada yang minta sumbangan dengan dimuqoddimahi dalil dan ceramah :”Monggo ibu-ibu, bapak-bapak jihad fi sabilillah, syurganya dibuka, supaya pinaringan selamat, pinaringan barokah, monggo nabung di tabungan Akhirat”. Kemudian membaca sholawat.
 
Dan memang sungguh keterlaluan orang-orang kaya itu.
 
Kalau tiang empat itu bisa tegak, Insya Alloh masyarakat dunia akan tegak.