Kalau Laa ilaaha illalloh itu sudah menjadi ruhnya ruh kita maka walaupun jasad kita sudah dikubur, tapi ruh kita tidak akan lepas dari Laa ilaaha illalloh.
Seumpama di akhirat nanti ditanya oleh malaikat, bila orang Arab pertanyaannya adalah :
“ Man robbuka ? “,
kalau orang Jawa pertanyaannya adalah :
“ Sopo pengeranmu ? “.
Bagi orang yang betul-betul mengamalkan Laa ilaaha illalloh, maka pertanyaan dari malaikat itu tidak usah dijawab, karena Laa ilaaha illalloh itu akan keluar sendiri.
Jadi Laa ilaaha illalloh itu nanti akan keluar sendiri, dan malaikat tidak akan melanjutkan pertanyaannya lagi, malaikat berkata :
“ Tamassak, sudah tidurlah wahai pengantin baru “.
 Akan tetapi sebaliknya, bagi orang yang lupa akan Laa ilaaha illalloh, pasti tidak akan bisa menjawab, hanya berkata :
“ Haihaata, haihaata “,
akhirnya ia hanya akan jadi pesakitan oleh malaikat.
Walaupun Ruhaninya sudah kemasukan Laa ilaaha illalloh terus, tapi kalau tidak diamalkan maka apa yang telah dimasukkan itu nanti akan keluar sendiri, dan kalau nanti ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir, pasti tidak bisa menjawab, hanya ha-hu saja, sebab sudah lupa dengan apa yang telah diamalkan.
Laa ilaaha illalloh adalah kalimatudz dzikri, kalimat yang paling afdlol, neraka manakah yang berani terhadap Laa ilaaha illalloh?
Karena yang dimakan oleh neraka itu adalah dosa-dosa manusia.
Adapun orang yang mengamalkan Laa ilaaha illalloh adalah orang yang sucinya suci.
Jadi kalau ingin keluar dari Thoriqoh itu tidak sulit, mudah saja, tidak usah bilang kepada mursyid atau tidak usah bilang kepada yang membai‘at, asalkan tidak diamalkan berarti sudah hilang atau keluar dari Thoriqoh dengan sendirinya.