KEWAJIBAN TAQWA
Pada setiap khutbah jum‘at kita selalu diberi wasiat taqwa :
ITTAQULLOOHA.
Adapun kita bisa melaksanakan wasiat taqwa itu apabila kalimat taqwa Laa ilaaha illalloh itu betul-betul masuk dalam ruh kita.
Kalau taqwa itu hanya diwasiatkan/dipesankan saja tapi tidak pernah dipraktekkan, ya sia-sia saja, walaupun wasiat itu diulang-ulang sampai 1000 jum‘at atau 2000 jum‘at.
Umpama ada orang yang kita beri keterangan bahwa titik sentral ajaran Islam adalah Laa ilaaha illalloh (AFDLOLUDZ DZIKRI LAA ILAAHA ILLALLOH), tapi kalau tidak dipraktekkan, bagaimana ?
Itu kan hanya menerangkan keutamaannya saja, adapun kita bisa meraih atau merasakan keutamaan-keutamaan itu adalah tergantung prakteknya bagaimana.
Dalam Alqur-an diterangkan bahwa :
Kalimat thoyyibah Laa ilaaha illalloh itu dilambangkan laksana pohon thoyyibah, yang buahnya itu ada di atas langit, dan setiap hari buahnya dapat dirasakan.
Akan tetapi kalau semua itu hanya diomongkan saja atau hanya mengetahui dosis pupuknya saja, namun sawahnya tidak pernah digarap sama sekali, ya sampai kapanpun tetap saja tidak bisa merasakan buahnya.
Begitu juga contohnya dengan orang yang sakit, kalau hanya dibacakan resepnya tapi pilnya tidak diminum, maka tidak akan sembuh dari penyakitnya.
Jadi seandainya pupuk atau obat itu hanya diomongkan saja, tidak dipraktekkan, tidak diamalkan, maka resep tinggal resep, akhirnya pohon tetap tidak subur atau penyakitnya tetap diderita.
Adapun untuk praktek dzikir Kalimat Taqwa itu jelas ada methodenya.
Jadi dzikir itu tidak asal gerak-gerak saja, tapi harus mengerti teorinya, harus mengerti geraknya.
Lalu bagaimanakah methodenya dzikir Laa ilaaha illalloh itu ?
Didalam ayat Alqur-an kita diperintah :
WADZKURULLOOHA KATSIIROO.
(Q.S. Al Jum‘ah / 10).
Artinya : “ Dzikirlah kepada Alloh sebanyak-banyaknya “.
Dan dzikir yang paling menonjol adalah dzikir Laa ilaaha illalloh.
Adapun methodenya dzikir itu dinamakan Thoriqoh, jadi Thoriqoh itu adalah methode untuk dzikir.
Coba kalau kamu mengadakan kumpulan dengan orang banyak dalam rangka berdoa bersama-sama, ketika membaca Subhaanalloh atau membaca Alhamdulillah itu kepalanya tidak memakai gerak-gerak, akan tetapi bila sudah waktunya membaca Laa ilaaha illalloh pastilah gerak semuanya.
Mengertikah dengan apa yang dimaksud dalam gerakan ini ?
Bagi yang ahli Thoriqoh, pasti ia tahu bahwa geraknya itu mengikuti skema ;
LAA ILAHA : ditarik dari puser, lalu naik, kemudian ke arah kanan.
ILALLOH : masuk ke hati.
Tapi bagi yang bukan ahli Thoriqoh, ketika melihat orang-orang disekitarnya pastilah bertanya-tanya : “ Lho kok memakai gerak-gerak ? “.
Karena tidak faham, akhirnya hanya ikut-ikutan saja, yang penting ikut gerak, ini namanya amal tanpa ilmu.
**
Apakah kita ini masih membutuhkan Thoriqoh ? padahal agama Islam itu sudah sempurna, sebagaimana tersebut dalam Alqur-an :
ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINAKUM WA-ATMAMTU ‘ALAIKUM NI‘MATII WARODLIITU LAKUMUL ISLAAMA DIINAA.
(Q.S. Al Maa-idah / 3).
Artinya : “ Pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu bagimu, dan Aku cukupkan ni`matKu atas kamu, dan Aku ridlo Islam itu menjadi agama bagimu “.
Thoriqoh itu adalah jalan atau cara atau methode. Dan semua ibadah itu ada caranya atau methodenya;
Sholat ada methodenya/caranya, zakat ada methodenya/caranya, puasa ada methodenya/caranya, Dan cara-cara itu dinamakan Thoriqoh.
Jadi, ada thoriiqotush sholat, ada thoriqotuz zakat, ada thoriiqotush shiyaam, ada thoriiqotul hajji, dan ada thoriiqotul ‘umroh “.
Jadi Thoriqoh itu methode/cara/jalan untuk melaksanakan sholat, untuk melaksanakan puasa, untuk melaksanakan zakat, semuanya itu ada methodenya, semuanya itu ada caranya, semuanya itu ada thoriqohnya.
Oleh karena jika ditanyakan: “ Apakah kita memerlukan Thoriqoh ? “.
Maka jawabannya dengan pertanyaan lagi : “ Apakah kita sholat ? “.
Bila dijawab : “ Iya, kita sholat “, berarti kita juga telah mempraktekkan thoriqotush sholat.
Begitu juga halnya dengan masalah dzikir.
Kita diperintah dzikir, sebagaimana disebutkan dalam Alqur-an :
WADZKURULLOOHA.
Dan menurut hadits Nabi, dzikir yang paling menonjol adalah dzikir Laa ilaaha illalloh.
Adapun cara untuk melaksanakan dzikir Laa ilaaha illalloh itu juga ada thoriqohnya, yang dinamakan thoriiqotudz dzikir.
Rukun Islam Ada lima, yaitu syahadat, sholat, zakat, puasa, hajji.
Rukun Islam yang pertama ya jelas syahadat.
Jikakalau memang sholat itu ada teorinya/thoriqohnya, zakat ada teorinya/thoriqohnya, puasa ada teorinya/thoriqohnya, hajji ada teorinya/thoriqohnya, mengapakah rukun Islam yang pertama yakni syahadat itu tidak ada teorinya/thoriqohnya ?.
Memang yang banyak terdapat didalam kitab-kitab yang dijual di toko-toko buku adalah cara/teori/thoriqohnya sholat, zakat, puasa, hajji, akan tetapi walaupun cara/teori/thoriqohnya syahadat itu tidak ada dalam kitab-kitab pada umumnya, bukan berarti cara/teori/thoriqohnya itu tidak ada, kemudian tahukah pembaca bagaimanakah teorinya syahadat itu ?.
Anda pasti tidak tahu karena tidak diterangkan dalam kitab apapun. Dan satu-satunya cara untuk bisa mengetahuinya adalah dengan masuk Thoriqoh.Karena Thoriqoh-Thoriqoh itu adalah mengajarkan cara/thoriqohnya dzikir Laa ilaaha illalloh atau cara/thoriqohnya syahadat .
Kita tidak cukup hanya dengan mengucapkan :
ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLOH
 
Sedangkan kita itu memiliki jasmani dan ruhani, apakah cukup hanya dengan lesan saja, apakah cukup dengan hanya mengucapkan : “ Aku sholat, aku zakat, aku puasa, aku hajji “, tanpa thoriqoh, tanpa methode, ya jelas tidak cukup.
Oleh karena syahadat itu harus ada methodenya, berarti kita harus masuk Thoriqoh, terserah Thoriqoh apa yang anda pilih, apakah Thoriqoh Naqsaban-diyyah, Thoriqoh Qodiriyyah, Thoriqoh Maturidiyyah, Thoriqoh Sanusiyyah, ataukah Thoriqoh yang lain ?.
Kalau tidak ikut Thoriqoh-nya dzikir lalu kapan bisa mengamalkan syahadat atau dzikir Laa ilaaha illalloh secara mendalam ?
Ya jelas tidak bisa.
Di Malaysia, orang-orang itu takut kalau mendengar kata Thoriqoh.
Ini kan aneh, kalau takut terhadap Thoriqoh, ya jangan sholat, jangan puasa, karena sholat dan puasa itu juga ada thoriqohnya.
Didalam Alqur-an, yang banyak diterangkan hanyalah keutamaan-keutamaannya dzikir Laa ilaaha illalloh, seperti :
LAA ILAAHA ILLALLOH MIFTAAHUL JANNAH.
Artinya : “ Laa ilaaha illalloh itu kuncinya surga“.
Ini hanyalah menerangkan tentang keutamaannya saja, tidak menerangkan teorinya.
Sedangkan teorinya haruslah dengan bai‘at, makanya di toko-toko kitab itu tidak ada, karena hal ini memang masalah asror, jadi harus berbai‘at kepada tokoh-tokoh Thoriqoh yang ahli.
Ini kami terangkan agar kita ini mempunyai penjelasan seandainya ada orang yang nanti bertanya kepada kita, agar kita nanti tidak salah menjawabnya.