INNA ‘IDDATASY SYUHUURI ‘INDALLOHI ITSNAA ‘ASYARO SYAHRON (AL AYAH) (AT TAUBAT / 36).

~    Inna ‘Iddatasy Syuhuuri : Sesungguhnya bilangan bulan-bulan.            .
~    ‘Indallohi : Bagi Alloh.
~    Itsnaa ‘Asyaro Syahron : Dua belas bulan. (Itsna itu dua, Asyaro itu sepuluh).
Jadi bulan-bulan bagi Alloh itu jumlahnya ada 12 bulan. 12 bulan tersebut adalah:
1.   Syahrun Muharom : Bulan Muharom atau Asy Syuro. Sebutan mudahnya bulan Syuro.
2.   Syahrun Shofar : Bulan Shofar, sebutan mudahnya bulan Sapar. Shofar artinya adalah kuning, kalau Shod-nya diganti Sin, jadinya Safar, artinya musafir (berjalan di waktu malam).
3.   Syahrun Robii’ul Awwal (Maulud).
4.   Syahrun Robii’ul Akhir.
5.   Syahrun Jumaadil Ula.
6.   Syahrun Jumaadil Akhir.
7.   Syahrun Rojab.
8.   Syahrun Sya’ban.
9.   Syahrun Romadhon / Syahrus Shiyaami / Syahrus Shobar.
      Jadi bulan Romadhon itu namanya banyak.
10. Syahrun Syawal.
11. Syahrun Dzulqo’dah.
12. Syahrun Dzulhijjah.
Terhadap 12 bulan itu Rosululloh bersabda : 
QOOLA ROSUULULLOHI SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAMA :
SYA’BANU BAINA ROJABIN WA SYAHRI ROMADLOON, TAGHFULUN NAASU ‘ANHU TURFA’U FIIHI A’MAALUL IBAADI FA UHIBBU AN-LAA YURFA’U ‘AMAALI ILLA WA ANAA SHOO-IMUN (‘AN USAMAH, ROWAHUL BAIHAQI).
Bersabda Rosulullohi s.a.w : Bulan Sya’ban ditengah-tengah antara bulan Rojab dan bulan Romadhon, melupakan manusia dari padanya, dinaikkan di dalamnya amal-amal hamba. Maka aku suka tidak dinaikkan amalku kecuali aku dalam keadaan berpuasa.
Hadits keterangan dari shohabat Usamah. Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, tersebut di dalam kitab Sya’bul Iman. Kemudian dinukil oleh Imam Jalaludin Suyuti dalam kitabnya “Jami’ush Shoghir, Jilid II, Bab Huruf Sin, hal 65.
 
Hadits ini menceritakan :
Bulan Sya’ban itu letaknya ditengah-tengah antara bulan Rojab dan bulan Romadhon”.
Bila kita teliti dalam pernyataan Hadits ini ada sedikit keanehan. Bukankah semua orang Islam sudah tahu kalau bulan Sya’ban itu letaknya ditengah-tengah antara 2 bulan tersebut. Sampean juga pasti tahu, masak tidak tahu, bila tidak tahu ya keterlaluan. Kadang-kadang sampean menyebutnya dengan istilah bulan ruwah. Karena ingat dengan ruhnya nenek moyang. Dan biasanya pada bulan tersebut melakukan bersih-bersih kuburan. Walau begitu Rosul masih menunjukkan letaknya bulan Sya’ban?
 
BAINA ROJABIN WASYAHRIN ROMADHON
Mengapa demikian? Ada apa dengan bulan Sya’ban?
Disamping itu Nabi Muhammad juga menyampaikan :
 
TAGHFULUN NAASA ‘ANHU
“Melupakan manusia akan bulan Sya’ban”
Siapakah yang dimaksud An Naas (manusia yang menurut Nabi Muhammad banyak melupakan bulan Sya’ban)? Ya tentu saja umat Islam
Bila dalam Hadits di atas dikatakan: (Taghfulun Naasa ‘Anhu) berarti banyak orang Islam yang melupakan bulan Sya’ban. Apakah benar orang Islam banyak yang melupakan bulan Sya’ban dan kenapa?
Bukankah kalau terhadap letaknya (urutan) bulan Sya’ban orang-orang Islam juga tahu yaitu di tengah-tengah antara bulan Rojab dan bulan Romadhon dan juga ingat bila saat memasuki bulan Sya’ban? Tapi mengapa dalam Hadits Nabi diterangkan demikian, yaitu:
1. Nabi Muhammad menunjukkan akan letaknya bulan Sya’ban, yakni antara dua bulan, bulan Rojab dan bulan Romadhon.
2. Nabi Muhammad mengatakan kalau manusia itu melupakan bulan Sya’ban.
Bagi orang tasawuf pernyataan Nabi Muhammad yang demikian itu pasti ada rahasia yang tersembunyi.
Yang dimaksud melupakan itu adalah :
1.   Lupa kalau bulan Sya’ban adalah tempatnya Turfa’u Fiihi A’maalul ‘Ibadi (dinaikkan amal-amal hamba di dalamnya).
Jadi di bulan Sya’ban itu amal-amal hamba dinaikkan.
2.  Banyak yang lupa kalau bulan Sya’ban adalah bulan ke delapan. Inipun ada rahasianya
Seumpama sampean tanya kepada temannya, bulan Sya’ban itu bulan yang keberapa?
Maka biasanya banyak yang lupa, coba saja. Tapi kalau sampean tanya bulan Juni itu bulan ke berapa, bulan Oktober itu bulan ke berapa atau lainnya, pasti akan dijawabnya dengan mudah. Namun kalau yang ditanyakan itu Sya’ban bulan yang keberapa, pasti banyak yang lupa. Bulannya sendiri kok dilupakan.
3.  Banyak yang melupakan maknanya Sya’ban.
Maknanya Sya’ban adalah cabang-cabang kebaikan. Karena memang banyak kebaikan di dalamnya, namun banyak dilupakan.
4.  Lupa juga dengan Nishfu Sya’ban. Lupa kalau di malam Nishfu Sya’ban itu waktu turunnya wahyu kepada Malaikat maut untuk menentukan kematian manusia di dalam satu tahun kedepan. Jadi seumpama ada orang yang meninggal dunia sebelum bulan Sya’ban ini berarti turunnya ketentuan itu pada bulan Sya’ban tahun kemarin. Dan untuk ketentuan kematian setelah bulan Sya’ban ini turunnya pada malam
Nishfu Sya’ban tahun ini. Jadi setelah Nishfu Sya’ban itu Malaikat tinggal mencabut saja, karena perintahnya sudah ada (ketika Nishfu Sya’ban).
Jadi malam Nishfu Sya’ban itu adalah juga malam yang mustajabah, yang cocok untuk permintaan :
1.  Minta tetap imannya sampai akhir hayat.
2.  Minta ditambahi umur panjang tapi bermanfaat.
3.  Minta rizki yang barokah.
5. Lupa juga kalau bulan Sya’ban itu adalah bulan turunnya ayat :
INNALLOHA WA MALAA-IKATAHU YUSHOLLUUNA ‘ALAN NABI… (Al ahzab / 56)
Ayat ini turun pada bulan Sya’ban, tahun 5 Hijrah. Jadi turunnya perintah membaca sholawat itu pada tahun 5 Hijrah. Itulah sebabnya bulan Sya’ban disebut sebagai bulannya Rosululloh. Makanya Rosul pernah bersabda :
ROJABUN SYAHRULLOH WASYA’BANU SYAHRII.
“ Rojab itu bulannya Alloh dan Sya’ban itu bulanku “
Sabdanya lagi :
SYA’BANU SYAHRII WA ROMADHONU SYAHRULLOH.
“Sya’ban bulanku dan Romadhon bulannya Alloh”
Jadi yang dianggap bulannya Alloh itu ada 2 yaitu: Bulan Rojab dan bulan Romadhon. Adapun bulan Sya’ban adalah bulannya Rosululloh.
Kenapa yang “sentral” itu banyak dilupakan? Karena kebanyakan orang-orang Islam itu fikiranya dan perhatiannya tersedot ke dua bulan, yakni ke bulan sebelumnya (Rojab) dan bulan sesudahnya (Romadhon). Di bulan Rojab ada peringatan isro’ mi’roj, satu bulan penuh. Sedangkan di bulan Romadhon ada puasa Romadhon, Nuzulul Qur’an, Lailatul Qodar, belum lagi mengumpulkan kurma dan sebagainya. Jadi perhatiannya orang Islam itu banyak kesedot ke kesibukan di dua bulan, bulan sebelumnya dan sesudahnya, sehingga bulan yang ditengahnya (Sya’ban) terlupakan.