Ada beberapa qishoh yang diceritakan dalam hadits Nabi, didalamnya menerangkan tentang keutamaan-keutamaannya dzikir Laa ilaaha illalloh, diantaranya :

Pada suatu saat, ketika Rosululloh berkumpul dengan para shohabatnya dan sedang menerangkan tentang berita adanya neraka dan bagaimana keadaannya, maka datanglah seorang pemuda yang hendak sowan kepada kanjeng Nabi.
Konon pemuda itu didalam kehidupannya sehari-hari banyak bergelimang di lumpur kema‘shi-yatan.
Dan secara kebetulan, pemuda itupun ikut mendengarkan cerita tentang neraka dari kanjeng Nabi tersebut.
Begitu mendengar cerita tentang neraka, secara tiba-tiba pemuda itu langsung tersungkur jatuh dan tak sadarkan diri, sehingga para shohabat yang menyertai kanjeng Nabi dibuatnya bingung.
Kemudian kanjeng Nabi mendekati pemuda itu, lalu jari telunjuk kanjeng Nabi menunjuk sampai menyentuh ke arah jantungnya pemuda tersebut, dan bersabda :
QUL LAA ILAAHA ILLALLOH
(bukan Qul Subhaanalloh),
Kemudian pemuda itu sadar dan membaca :
LAA ILAAHA ILLALLOH.
Maka Nabi bersabda lagi :
FABASYSYIRUU, FABASYSYIRUU, FABASYSYIRUU, DAKHOLTAL JANNAH. (diulang sampai tiga kali).
Artinya : “ Gembiralah kamu, gembiralah kamu, gembiralah kamu, kamu akan masuk surga “.
Kanjeng Nabi menunjuk ke arah pemuda itu memakai jari telunjuk kanan, oleh sebab itu janganlah kita sembrono dengan jari telunjuk kanan kita, mengapa ?
Karena setiap tahiyyat dalam sholat, kita pasti membaca syahadat :
ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLOH
maka bila sampai pada saat membaca syahadat, ketika bersamaan dengan membaca ILLALLOH itulah jari telunjuk kanan kita harus menunjuk.
Jadi menunjuknya itu bukan pada saat bacaan ASYHADU, tapi pada saat bacaan ILLALLOH.
Padahal jemari itu banyak, mengapa ketika membaca ILLALLOH itu tidak memakai jari kelingking ?
Mengapakah yang dipakai itu jari telunjuk ?
Jari telunjuk ini jadi isyarah :
ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLOH.
Mengenai masalah ini memang ada asrornya.
***
Kadang-kadang kita perhatikan ; banyak yang feqihnya itu tidak pas, misalnya :
– Ketika tahiyyat, lututnya itu lebih maju dari pada jari telunjuknya atau sebaliknya yakni jari telunjuknya lebih maju dari pada lututnya.
Adapun yang benar menurut ilmu feqih adalah antara lutut dan jari telunjuk itu majunya tidak saling melebihi, harus pas sejajar, jangan dilebihkan dan jangan dikurangi.
Anehnya, kadang-kadang malah dipermainkan, bila sampai pada bacaan ILLALLOH maka jari telunjuknya menunjuk ke depan tapi dengan digerak-gerakkan.
– Contoh lagi yang pernah kita perhatikan : Ketika takbir itu gerakannya seperti menyambar nyamuk, kedua tangannya diangkat tidak sampai arah-arah telinga dan sendakepnya dibawah dada. Ini kalau dilihat tidaklah sedap potongannya dan garapannya kasar.
– Ruku‘ pun juga begitu, jangan hanya njengongok saja seperti orang yang sakit punggung.
– Begitu juga diwaktu salam, menengok ke arah kanan dan kiri itu sampai pipinya bisa dilihat oleh orang yang ada dibelakangnya.
– Mengenai jaraknya shof dalam berjama‘ah juga begitu, jangan terlalu dekat sebab bila terlalu dekat bisa kesundul orang di belakangnya atau kepancal orang didepannya dan akibatnya bisa bertengkar.
Hal-hal seperti yang pernah kita lihat diatas itu adalah tidak cocok dengan ilmu feqih yang diterangkan dalam Kitab I‘aanatuth Thoolibiin, Kitab Taqrib, Kitab Safiinatun Najaa.
Dan kalau sampai ketahuan oleh orang ahli feqih maka pastilah nanti disalahkan.
Oleh sebab itu, walaupun sedikit-sedikit, ya menurut kemampuan, kita haruslah menyesuaikan dengan ilmu feqih, biar tidak dimarahi orang awam.
Bila anda melihat tayangan di televisi tentang orang yang sedang berjamaah sholat di Mekkah, modelnya juga bermacam-macam, contohnya :
Kalau menurut ilmu feqih ; bila bergerak lebih dari tiga kali selain gerakan dalam sholat maka sholatnya itu bathal, akan tetapi sebagian orang asing yang ikut jamaah di Mekkah justru seenaknya, ini bagaimana ?
Masak hukum itu tidak sama, kalau disini berbuat seperti itu hukumnya bathal atau tidak diterima, tapi kalau di Mekkah masak diterima, apakah begitu ?
Kadang-kadang dalam tayangan televisi; di Mekkah itu kita jumpai orang yang sedang sujud kok dilangkahi.
Bila diukur dengan kebudayaan di Indonesia, maka perlakuan seperti itu memang tidak sopan, tetapi kalau disana mungkin saja tidak.
Walaupun mereka kita marahi : “ Kamu itu gila ya ! “, pasti mereka akan diam saja karena memang tidak tahu bahasanya, yang diketahui mereka adalah bahasa arab : “ Anta majnuun “.
Memang pernah ada seseorang yang baru naik haji kemudian bertamu ke rumah kami, ia berkata:
“ Semua orang sana (orang Mekkah) itu tidak punya kesopanan“.
Lho, orang yang di Mekkah itu bukan semuanya orang Arab, tapi ada orang India, ada orang Eropa, ada orang Asia, dari bermacam-macam negara kumpul jadi satu, oleh sebab itu apabila kita hendak pergi menunaikan ibadah haji, kita haruslah siap mental, karena kebudayaannya orang yang pergi haji itu bermacam-macam.