Rosululloh SAW dawuh :

QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAMA : NI’MATAANI MAGHBUUNUN FIIHIMAA KATSIIRUN MINAN NAASI ASH SHIHATU WAL FAROOGHU (AN IBNU ABBAS) ROWAHUL BUKHORI WAT TURMIDZI WA IBNU MAJAH / JAMMI’USH SHOGHIR JILID II/BAB HURUF NUN/ HAL.188.
Artinya:”Bersabda Rosululloh SAW : Ada dua nikmat disamarkan atau dikacaukan keduanya kebanyakan dari manusia,
 1). Nikmat sehat 2). Nikmat kesempatan”.
Jadi ada dua nikmat yang disamarkan :
1). Nikmat sehat, (nikmat waras)
2). Nikmat kesempatan.
Masalah ini biasanya banyak manusia yang lupa, banyak manusia yang kacau balau, banyak yang tidak sadar, banyak yang lalai, menghadapi dua nikmat ini.
Di waktu mata kita sehat, tidak terasa bahwa nikmat sehatnya mata itu adalah nikmat yang besar. Dan tidak terasa, dunia yang begitu besar, dilihat dengan mata yang kecil ini, tidak terasa kalau itu adalah nikmat yang besar. Baru terasa kalau sedang sakit, nikmat sehat diambil, bahwa sehat itu adalah nikmat yang besar. Sehingga harta benda berapa ratus juta dikorbankan untuk mengembalikan kesehatan.
Di waktu berjalan, sehatnya kaki, dipakai berjalan tiap hari, tidak terasa berapa juta langkah, sedang satu langkah satu nikmat. Ini tidak terasa, baru terasa nikmat kalau sudah lumpuh. Bagaimana nikmatnya kita melihat orang yang berjalan, tapi kalau belum lumpuh tidak terasa kalau itu nikmat, itu namanya Maghbuunun (disamarkan).
Di waktu nikmatnya lesan, berapa juta kalimat kita ucapkan. Kadang-kadang bicara di warung kopi, dari Maghrib sampai Shubuh, tidak dihitung, tidak wiridan, hanya ngomong saja dan kopi diisi terus berkali-kali, ini tidak terasa kalau itu nikmat. Coba itu sudah berapa juta kalimat, kalau sakit bisu (tidak bisa ngomong) betapakah susahnya.
ALAMATNYA ORANG YANG TERTU TUP NIKMAT
Kata orang Tashowwuf, orang menyadari, merasakan nikmat setelah nikmat itu di ambil, adalah alamatnya orang yang tertutup akan nikmat. Merasakan nikmat kalau sudah dalam keadaan sakit. Setelah matanya sakit baru merasa nikmat sehatnya mata. Bila sakit telinganya, baru merasakan nikmat sehatnya telinga. Kalau sakit lesannya, baru sadar, merasakan akan nikmatnya lesan.
Itulah alamatnya orang yang tertutup nikmat, dan bila diangan-angan hal seperti itu menurut Bapak Kyai adalah berat, berarti diri kita terutup nikmat tidak terasa. Kadang karena tidak terasa nikmat, nikmat sehat, nikmat besar, pada dirinya, cuma karena perkara sedikit saja bisa menutupi.
Contohnya demikian :
Saya ini cuma mempunyai modal Rp 3.000,- saya buat kulakan garam ke pasar , kemudian hujan, sedang dagangan saya hanya garam, maka habislah garam saya,kena hujan, bagaimana ini….!
Seperti itu tidak terasa, mestinya masih lumayan, masih diberi nikmat. Semua nikmat pada dirinya tertutup, cuma karena garam itu tadi.
Bukti kalau kita itu tertutup, diberi nikmat sehat satu tahun tidak terasa kalau itu waktu yang cukup lama. Kemudian kita sakit 3 hari saja, yang diingat-ingat, yang dirasakan cuma 3 hari itu saja, yang satu tahun tidak dirasakan. Apalagi orang seperti itu ada yang menjenguk, maka akan mengatakan :” Sudah lama saya ini sakit”. Ditanya sudah berapa hari, dijawab:”Sudah lama, sudah dari dulu”. Ditanya lagi berapa hari, dijawab :”Sudah tujuh hari”. Dan tidak ada orang yang bilang:”Sudah lama saya ini sembuh”. Itulah alamatnya orang yang tertutup oleh nikmat. Jadi yang diperlihatkan itu cuma sakitnya saja, sedang sehatnya tidak diperlihatkan sama sekali. mengenai hal ini semua pasti mengakui, dawuhnya Bapak Kyai :”Ini sudah pasti, mengakui semua, termasuk saya”.
Untuk itu kita minta maaf kepada Alloh, padahal Alloh berfirman :
WASY KURUU NI’MATALLOOHI
Artinya:”Bersyukurlah atas nikmat Alloh”.(An Nakhl /S.16/ayat 114
Manusia ini tidak imbang sama sekali, oleh sebab itu jelaslah banyak manusia yang tertutup nikmat sehat.
Bersambung “Nikmat kesempatan”