Aqal merupakan sifat dasar / sifat pokok / fondamental asasi / sifat prinsip yang membedakan antara manusia dengan hayawan.
Letak perbedaan pokok antara manusia dengan hayawan itu ada dua, yaitu :
            1. Terletak pada aqal.
            2. Terletak pada agama.
Kalau aqal dan agama tidak ada pada manusia, maka perbedaannya dengan hayawan tidak ada. Dan bila perbedaannya dengan hayawan tidak ada, berarti yang ada kesamaannya, karena perbedaannya hanya disitu.
Istilah sekarang, sifat yang menjadi pembeda antara manusia dengan hayawan itu dinamakan PRIKEMANUSIAAN. Jadi sifat PRIKEMANUSIAAN itu juga bisa disebut sebagai sifat prinsip pembeda antara manusia dengan hayawan.
Adapun mengenai arti dari PRIKEMANUSIAAN itu sendiri banyak pendapat, diantaranya :
* Ada yang mengatakan bahwa PRIKEMANUSIAAN adalah sifat welas winelasan (sifat kasih sayang). Kalau masih punya rasa welas, seperti misalnya B welas kepada si A, dikatakanlah berprikemanusiaan.
Bila prikemanusiaan itu demikian, berarti diantara hayawan juga ada yang berprikemanusiaan, karena hayawan juga punya sifat welas winelas (sifat kasih sayang). Sebagai bukti :
Perhatikan ayam : Misalnya ada induk ayam yang punya 12 anak. Maka si induk ayam itu kalau melihat anaknya kepanasan atau kehujanan pastilah diajak berteduh, lalu anaknya ada yang ngusel (menyelinap) di sayap induknya. Sejak pagi anaknya sudah dicarikan makan, tempurung-tempurung dibuka, sampah-sampah diungkap cari rayap, jika sudah ketemu, lalu anaknya dipanggil semua dan bila ternyata kurang, dicarikannya lagi.
Apakah sifat induk ayam yang kasih sayang terhadap anaknya itu juga bisa dikatakan berprikemanusiaan ?
Perhatikan merpati : Disaat mengerami telornya, bila yang betina mengeram, maka yang jantan berangkat mencari makan karena bersifat kasih sayang terhadap pasangannya. Dan dilain waktu posisi si betina juga digantikan oleh pejantannya, sedangkan si betina ganti mencari makan. Apakah sifat merpati yang demikian ini (bersifat welas-winelasan), bisa dikatakan berperikemanusiaan ?.
 Coba diangan-angan !. Kalau PRIKEMANUSIAAN diartikan begitu, lalu apa bedanya dengan hayawan, karena hayawan juga bisa.
Jadi jelaslah PRIKEMANUSIAAN itu bukanlah begitu. Tapi akhir-akhir ini pilih mudahnya saja.
* Ada lagi yang mengartikan bahwa PRIKEMANUSIAAN   adalah pandainya persatuan. Bila PRIKEMANUSIAAN artinya demikian berarti semutpun juga berprikemanusiaan.
Perhatikan semut : Semut itu pandai persatuan, bahkan setiap bertemu dengan temannya kadang mengucap salam.
Semut A : Assalaamu’alaikum.
Semut B : Wa’alaikum salaam.
Semut A : Ada kabar apa ?..
Semut B : Kabar baik, ada obyek bangkai cecak.
Semut A : Kira-kira besarnya seberapa ..?
Semut B : Lumayan.
Semut A  : Kira-kira butuh tenaga berapa ?…100 tenaga ?
Semut B : Ah kurang.
Lalu banyak yang datang untuk gotong-royong, ada yang narik, ada yang mendorong, tapi ada juga yang naik saja, ada yang makan saja, bahkan ada yang naik sambil makan (mau enak sendiri). Hal ini banyak membuat teman-temannya yang melihat menjadi iri, maka banyak juga yang ikut naik sambil makan. Sehingga sampai di tempat, tinggal tulangnya saja.
Setelah tiba ditempat, yang mendorong dan yang menarik baru tahu kalau dagingnya habis : Lho, mana dagingnya, kok habis ?. Padahal saya yang mendorong dan menarik, mengapa tidak diberi bagian?. Kata yang mendorong dan menarik dengan kesal.
Melihat semut yang pandai persatuan, pandai gotong-royong itu apakah lalu semut juga dinamakan berprikemanusiaan?.
Sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an :
DZAHABALLOOHU BINUURIHIM WATAROKA HUM FII DHULUMAATILLAA YUBSHIRUUNA
Artinya:”Menghilangkan Alloh atas cahayanya orang-orang Kafir (cahayanya orang-orang kafir itu dilenyapkan). Dan tinggal orang-orang kafir itu dalam kegelapan dan orang- orang kafir itu sama tidak mengetahui”. (Al Baqoroh /S.2 / ayat 17)
Ketika kita  mengumbar hawa / membiarkan api diri menyala besar tanpa diimbangi dengan unsur air, sehingga api hawa kita  membakar aqal kita, membakar kesadaran, maka jadilah terbakar. Jangan dikira yang bisa terbakar itu hanya kulit luar saja, dalam diri manusia juga bisa terbakar. Sebagaimana sering diucapkan oleh orang-orang : terbakar pikiranku, panas hatiku. Jadi panas itu ada panasnya kulit dan ada panasnya hati. Dan hidup kita ketika belum dapat sinarnya hidup, sehingga kita  masih dalam kegelapan. Karena itu hendaklah berusaha agar dapat cahaya hidup.
Sesungguhnya cahaya hidup itu ada dua macam :
1.    Ada cahaya hidup yang dari dalam.
2.    Ada cahaya hidup yang dari luar.
Cahaya hidup yang dari dalam, namanya Aqal.
Cahaya hidup yang dari luar, namanya Wahyu.
Jadi Aqal dan Wahyu itu sama-sama cahayanya. Bedanya hanya, kalau Aqal itu cahaya dari dalam sedangkan Wahyu itu cahaya dari luar. Dan pertemuannya dua cahaya itu namanya “NUR CAHYO” (Sang Hyang Nur Cahyo).
NUR adalah bahasa Arab, bahasa Jawanya : CAHYO
CAHYO itu bahasa Jawa, bahasa Arabnya : NUR.
Jadi NUR CAHYO kalau disalin dalam bahasa Arab jadinya NUR-NUR dan kalau disalin dalam bahasa Jawa jadinya CAHYO-CAHYO. Dan NUR yang banyak itu bila disalin dalam bahasa Arab menjadi :
Artinya : “Kumpulan cahaya, atau cahaya-cahaya”.
Kalau satu cahaya, bahasa Arabnya :
Nur Cahyo / Nur-Nur / Cahyo-cahyo, di istilahkan dalam Alqur-an :
NUURUN ‘ALAA NUURIN   (AL AYAH)
Artinya :” Cahaya di atas cahaya

Jadi cahaya hidup itu ada dua macam, yaitu : Cahaya hidup yang dari dalam, namanya Aqal dan cahaya hidup yang dari luar, namanya wahyu.

Dan terhadap 2 cahaya ini kita harus bisa mendapatkannya, agar hidup kita bisa terang benderang, tidak menjadi hidup yang gelap gulita.

 

***