Dalam tiap-tiap hari kita pasti membaca IHDINASH SHIROOTHOL MUSTAQIIM. Dalam sholat fardlu saja sudah 17 kali dibaca, belum lagi kalau mengerjakan sholat sunat, tentunya lebih dari 17 kali. Belum lagi bagi yang suka wiridan Fatehah, kadang sampai 500 kali sehari. Jadi sebenarnya kita itu sering membaca : IHDINASH SHIROOTHOL MUSTAQIIM. (tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus).

Lalu apakah SHIROOTHOL MUSTAQIIM itu ….?
Mengenai masalah SHIROOTHOL MUSTAQIIM ini tafsirnya macam-macam, diantaranya :
Ada yang menafsirkan SHIROOTHOL MUSTAQIIM itu Islam. Sedangkan ayat :
GHOIRIL MAGHDLUUBI ‘ALAIHIM WALADL-DLOO-LLIIN
Artinya: “Bukan jalan yang dimurkai Alloh (MAGHDLUUB)dan bukan jalan yang sesat (DLOO-LLIIN )”.
MAGHDLUUB ditafsirkan jalannya orang Nasroni.
DLOO-LLIIN ditafsirkan jalannya orang Yahudi.
Dan diantara kedua jalan itu (antara SHIROOTHOL MAGHDLUUB DAN SHIROOTHOD DLOO-LLIIN) itulah SHIROOTHOL MUSTAQIIM, yaitu Islam.
Kalau yang dinamakanSHIROOTHOL MUSTAQIIMitu Islam, ini bisa membingungkan. Dikarenakan orang yang mengerjakan sembahyang juga Islam. Sehingga jadinya bila didalam sembahyang itu minta ditunjukkan SHIROOTHOL MUSTAQIIM berarti sama dengan sudahIslam minta ditunjukkan kepada Islam lagi (“Ya Alloh, tunjukkanlah kepada kami jalan agama Islam”). Bagaimana ini, sudah Islam minta ditunjukkan Islam lagi. Dan terhadap diri kita yang sudah lama melaksanakan sholat juga termasuk belum tahu agama Islam. Buktinya masih minta ditunjukkan SHIROOTHOL MUSTAQIIM(Islam).
Ada juga yang berpendapat SHIROOTHOL MUSTAQIIM itu Alqur-an. Pendapat ini di dasarkan pada surat Yasin, ayat 1 sampai 4.
yaasiin (1) wal qur’aanil hakiim,(2) innaka laminal mursaliin (3) ‘alaa shiroothim mustaqiim.(4) (Yasin / S.36).
Artinya : Yasin (1). Perhatikan Alqur-an yang penuh hikmah (2). Sesungguhnya engkau Muhammad adalah salah seorang diantara Rosul-Rosul (3). Di atas jalan yang lurus (Shirothol Mustaqim) (4).
Dengan alasan ini mereka berpendapat bahwa SHIROOTHOL MUSTAQIIM adalah Al Qur’an.
Bila SHIROOTHOL MUSTAQIIMditafsirkan Al Qur’an, berarti sama dengan beranggapan bahwa petunjuk jalan dengan jalan itu sama. Dikarenakan Alqur-an adalah petunjuk sedangkan SHIROOTHOL MUSTAQIIM adalah jalan. Dan antara petunjuk jalan dengan jalan tentunya lain. Seperti misalnya plang petunjuk jalan yang ada di pinggir jalan yang menunjukkan arah-arah Surabaya – Gresik sekian kolimeter itu jelaslah tidak sama dengan jalannya sendiri (jalan Surabaya – Gresik). Masak untuk membedakan antara plang dengan jalan saja tidak tahu.
Dan terhadap diri kita yang sudah sering berdo’a:   IHDINASH SHIROOTHOL MUSTAQIIMitu apakah sudah tahu akan SHIROOTHOL MUSTAQIIM…?. Kalau masih belum tahu SHIROOTHOL MUSTAQIIMberarti doa kita belum kabul, mungkin ada yang sampai 70 tahun belum juga terkabul. (Nanti masih belum terkabul, sudah keburu mati).
Mungkin juga ada yang merasa dalam fikirannya “Aku sudah tahu SHIROOTHOL MUSTAQIIM. Kalau sudah tahu SHIROOTHOL MUSTAQIIMmengapa masih minta ditunjukkan…?. Waktu Dzuhur minta ditunjukkan, ‘Asyar minta ditunjukkan, Maghrib, Isya’, Subuh minta ditunjukkan. Adanya minta ditunjukkan adalah bukti kalau belum tahu.
Persoalan ini adalah persoalan yang sulit, karenanya perlu dapat cahaya hidup. Kesimpulannya kalau belum dapat 3 cahaya / 3 nur ( 1. NURUL ‘AQLI    2. NUR WAHYU (HIDAYAT)   3. NUR MUHAMMAD) berarti hidupnya masih dalam kegelapan. Dan bagi yang telah mendapatkan 3 cahaya hidup itu maka jalan hidupnya atau perjuangannya akan selalu disinari oleh cahaya hidup, sehingga selamat.