Yang dikatakan raja di dalam panggung hidup manusia itu adalah hati. Sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi:

QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAM : ALQOLBU MALIKUN FAIDZAA SHOLAHAL MALIKU SHOLAHAT RO’IYYATUHU WA IDZAA FASADAL MALIKU FASADAT RO’IYYATUHU. (‘AN ‘AISYAH) ROWAAHU ABU SA’ID WAL HAKIM WA ABU NA’IM FII KITAABITH THIB.
Artinya:”Bersabda Rosululloh S.A.W : Hati itu adalah Raja, tatkala bagus rajanya maka baguslah rakyatnya, dan tatkala rusak rajanya maka rusaklah rakyatnya”.

QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAM : WA INNA FIL JASADI MUDLGHOTAN IDZAA SHOLAHAT SHOLAHAL JASADU KULLUHU WA IDZAA FASADAT FASADAL JASADU KULLUHU ALAA WAHIYAL QOLBU. (AN NU’MAN BIN BASYIR / ROWAHUL BUCHORI WA MUSLIM).
Artinya:”Bersabda Rosululloh S.A.W : Sesungguhnya didalam jasad itu ada sepotong daging, ketika baik sepotong daging itu maka baiklah jasad keseluruhan nya, ketika rusak sepotong daging itu maka rusaklah jasad keseluruhannya, ingatlah ia itu adalah Hati”.

Jadi didalam hadis diatas diterangkan bahwa hati itu raja dan seluruh anggota badan adalah rakyatnya. Kalau hati (raja) itu baik, maka baiklah seluruh anggota badannya dan kalau hati itu buruk / rusak, rusaklah seluruh anggota badannya.

Dan didalam kitab SYARAH ARBA’IN NAWAWIYYAH juga disebutkan bahwa BADAN SEKUJUR ADALAH KERAJAAN.

AL BADANU MAMLAKATUN NAFSI WAMADIINA TIHAA
Artinya:”Badan itu adalah kerajaannya nafsu dan kotanya”.

WAL QOLBU WASTHUL MAMLAKATI WAL A’DLORU KAL KHODAMI WAL QOWIYYUL BAATHINATI QOD YAA-IL MADIINATI. WAL ‘AQLU KAL WAZIIRI WASY SYAHWATU THOOLIBU ARZAAQOL KHODAMI WAL QUWWATUL MAHIILATU FII MUQODDIMAD DIMAAGHI KAL KHOZAANI
Artinya:”Hati itu ada di tengah-tengah kerajaan dan adapun anggota badan (mata, telinga, hidung, tangan, kaki) seperti halnya pelayan (pegawai), dan kekuatan bathin itu seperti lampu yang menerangi kota. Adapun aqal itu seperti perdana menteri, adapun syahwat (keinginan) itu yang mencari rezekinya pegawai-pegawai seluruh badan ini, dan kekuatan berkhayal yang ada di permulaannya otak, seperti halnya penjaga”.

Jadi badan sekujur ini adalah kerajaan yang berjalan (kerajaan jiwa) atau negara yang berjalan. Dan tiap-tiap anggota badan mempunyai tugas sendiri-sendiri.

  • Mata mempunyai tugas sendiri, wilayahnya di bidang rupa dan bentuk (merah, hijau, kuning dsb).
  • Hidung diberi tugas sendiri oleh rajanya, wilayahnya menangkap seluruh bau.
  • Kalau ada yang menggoreng ikan teri dan udaranya terbawa angin, sebelum mata mengetahui, hidung sudah tahu, lalu mekrok-mekrok seraya berkata :”Siapa ini yang menggoreng ikan teri…?”. Kemudian hidung laporan kepada hati dan usus mendengar, kemudian jadilah lapar.
  • Telinga mempunyai tugas sendiri, wilayahnya alam suara.
  • Tangan mempunyai tugas sendiri.
  • Kaki juga mempunyai tugas sendiri.

Kata si kaki : Nggak enak jadi kaki, tempatku di bawah, disosop-sosopkan, sudah kena debu tidak dibasuh lagi, lain dengan tangan, bila tangan yang kotor, langsung dibasuh. Dan semua yang ada ditubuh, mulai dari otak, kepala, hidung, telinga, mata, lesan, leher, dada, paha, semua dibebankan kepada saya, karena memang tempatku di bawah dan tak pernah naik pangkat. Lain dengan rambut, sudah disebut mahkota, diatur, disisir, disemir, diadul-adul, buat menutupi jidad (dahi), sepertinya enak sekali.

Kata rambut yang mendengar pengaduannya kaki: Kamu gampang maido (mencela), karena kamu belum pernah jadi rambut, iya kalau aku masih menempel di kepala (masih banyak temanku), tapi kalau sudah berodol, tinggal sedikit biasanya dihina, katanya :”Cantik sih cantik, tapi nggak cocok, sanggulnya sebesar jeruk nipi)”. Dan kamu juga tidak pernah merasakan bagaimana rasanya dipotong, padahal kalau sudah dipotong dan dibuang maka tidak ada yang memperhatikan nasibku, campur debu, terus diinjak-injak, jadi jangan dikira enak. Kamu bila kena cos sedikit saja sudah bingung, sedangkan saya ini enak-enak lurus dicos terus diuker-uker. Jadi rambut itu juga tidak enak.

Karenanya, tiap-tiap diri manusia juga bisa disebut negara atau disebut kerajaan.

KETERANGAN TENTANG AQAL.

Sebagaimana keterangan dalam kitab ARBA’IN NAWAWIYYAH, bahwa aqal itu disebut sebagai perdana menteri, maka disini dibahas pula masalah aqal.

Istilah Aqal itu sudah umum, malah-malah sering disebut Aqal, Aqol, Naqol, Naqli, Aqli. Seperti kalimat : Wong iku ojo ngandalno okol ae, gawe aqal lah?.(orang itu jangan mengandalkan tenaga saja, pakai aqallah?..)

Apakah AQAL itu …?

Pada suatu hari, ada shohabat sowan kepada Rosul yang datangnya dengan mengendarai onta. Setelah bertemu dengan Rosul, kemudian diperintahkan supaya ontanya di ikat dan tawakkal.

QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALOOHU ‘ALAIHI WASALLAM : A’QILHAA WATAWAKKAL.
(‘AN ANAS / ROWAAHUT TIRMIDZI / I / ALIF / 47 )
Artinya :”Bersabda Rosululloh S.A.W : Ikatlah (untamu) dan pasrahlah”.

Masalah tawakkal (pasrah) itu banyak orang yang salah mengartikan, yaitu umumnya diartikan : Bila sudah pasrah tidak usah kerja.

Padahal dalam hadis ini diterangkan bahwa untuk tawakkal (pasrah) itu tidak boleh meninggalkan kerja. “A’QILHAA WATAWAKKAL” artinya : Ikatlah dan pasrahlah. Ikatlah ini menunjukkan perintah bekerja dan pasrahlah menunjukkan perintah tawakkal. Dengan demikian berarti untuk bertawakkal itu juga harus bekerja (tidak boleh meninggalkan kerja).

Jadi AQAL / AQLUN / A’QIL itu bahasa arab artinya mengikat.

Bila aqal artinya mengikat, lalu apa yang diikat ..?
Yang diikat adalah satu kesatuan dari :

  • Karsa,
  • Periksa,
  • Rasa,

Yaitu : Karsaning bathin, Periksaning bathin, Rasaning bathin. Kalau dalam Al Qur’an di istilahkan dengan pendengaran bathin, lesan bathin, mata bathin. Sebagaimana diterangkan dalam Alqur-an : Bila tidak beraqal itu disebut tuli, bisu dan buta.

SHUMMUM BUKMUN ‘UMYUN FAHUM LAA YA’QILUUN.
Artinya : “Tuli, bisu, buta, maka dia tidak beraqal”. (Al Baqoroh / S.2 / ayat 171)

Adapun yang dimaksud dengan LAA YA’QILUUN (tidak beraqal) itu bukan tidak punya aqal, melainkan tidak menggunakan aqal atau aqalnya tidak bisa mengikat (tidak bisa menggunakan) 3 alat bathin, yaitu:

1. Sam’un bathin (Pendengaran bathin).
2. Bashor bathin (Penglihatan bathin).
3. Kalam bathin (Lesan bathin).

Dan AQAL itu sendiri juga merupakan :
1. Cahaya dalam hati.
2. Tiang bagi manusia.
3. Sifat dasar / sifat pokok / fondamental asasi / sifat prinsip yang membedakan antara manusia dengan hayawan.

Lebih jauh tentang aqal akan diterangkan berikutnya..