Setelah manusia dihidupkan, barulah manusia itu menjalani perjalanan hidup dan penghidupan (urip lan penguripan). Dan didalam perjalanan hidup dan penghidupan itulah muncul bermacam-macam lakon hidup. Jadi yang beraneka macam itu adalah lakon hidup bukan hidupnya, karena hidup itu sendiri adalah satu (tidak macam-macam).
Adapun macamnya lakon hidup, diantaranya : ada yang lakon hidupnya jadi Lurah, ada yang jadi Bayan, ada yang jadi Carik, ada yang jadi Kyai, dan lain-lainnya.
Yang paling awal diperbincangkan dalam lakon hidup manusia adalah cita-cita hidup (keinginan hidup), yaitu ingin hidup yang adil dan makmur serta bahagia. Istilah Alqur-annya, ingin mencapai :
BALDATUN THOYYIBATUN WAROBBUN GHOFUUR.
Artinya : “Negara yang thoyyibah dan Alloh memberi ampun. (Saba’ /S. 34 / ayat 15).
Atau ingin mencapai negara adil dan makmur.
Dan oleh karena tiap-tiap diri manusia juga disebut negara. Maka bila dikatakan ingin mencapai negara adil dan makmur berarti juga mencakup agar dirinya (hatinya, fikirannya, perasaannya dll) mencapai adil dan makmur serta bahagia.
Jadi semua manusia pada dasarnya mempunyai keinginan atau cita-cita ingin hidup bahagia, ingin hidup enak, gembira, tentram, senang, makmur, aman, sehat, tidak punya hutang dan seterusnya. Dan keinginan-keinginan inilah yang paling awal dirembuk dalam lakon hidup.
Pengertian adil
Diantara kita mungkin ada yang beranggapan bahwa adil adalah sama rata.
Bila yang dikatakan adil itu harus demikian, maka:
– Bagaimana bila di dunia ini diciptakan laki-laki semua atau perempuan semua ?
– Bagaimana bila waktu itu dibuat malam saja, tanpa siang ?. Atau siang saja tanpa malam ?.
– Bagaimana kalau manusia dijadikan kaya semua, tanpa ada yang miskin ?.
– Bagaimana bila tubuh kita dijadikan mata semua tanpa lainnya?.
Tentunya malah tidak baik. Adanya diciptakan laki-laki dan perempuan, malam dan siang, kaya dan miskin dan dalam tubuh manusia diberi macam-macam, seperti diberi mata, telinga, kaki dll, itu semua adalah menunjukkan keadilannya Alloh. Jadi jelaslah bahwa adil itu bukan sama rata.
Ada juga yang beranggapan bahwa adil adalah sama berat atau sama ringan atau sama satu kilonya.
Kalau yang dikatakan adil itu harus sama satu kilonya atau sama beratnya, bagaimana bila yang satu kilo pasir dan satu kilonya lagi gula ? Apakah demikian itu yang dinamakan adil ?. Kalau tidak, lalu bagaimanakah yang dikatakan Adil itu…?
Adil adalah bahasa arab, artinya ” meletakkan sesuatu pada tempatnya”. Kalau benar ya diakui benar (diletakkan pada tempatnya benar). Kalau salah ya diakui salah (diletakkan pada tempatnya salah). Kalau terhadap benda, misalnya:
  • Terhadap cincin, pemakaian yang benar ya di jari tangan (jari manis), bukan di jari kaki. Maka bila cincin itu dipakai di jari tangan, ini adil. Namun bila dipakai di jari kaki, jadinya bukan saja saru / tidak baik melainkan juga tidak adil.
  • Terhadap kopyah, jika dipakai ya di kepala, itu namanya adil.
  • Terhadap kerudung juga begitu, yang benar pemakaiannya ya di kepala bukan di leher, dan itu namanya adil (meletakkan sesuatu pada tempatnya).
Keadilannya Alloh
Meskipun kita mengetahui bahwa adil itu adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya, tapi kita sebagai manusia tidaklah bisa mengukur keadilan-Nya Alloh. Akan tetapi terkadang ada juga di antara manusia yang mencela Alloh (menganggap Alloh tidak adil). Dan dia mengukur keadilan Alloh memakai ukuran keadilan manusia, seperti yang sering diutarakan dengan kalimat : “Bagaimana gusti Alloh ini, hidup saya dari dulu sampai sekarang kok tetap begini saja, di mana keadilan Tuhan…?”  Seperti juga ungkapan ngersulonya sebagian orang diwaktu musim kemarau dan dimusim penghujan. Diwaktu musim kemarau, ngersulo (menggerutu) karena tidak hujan-hujan, dan diwaktu musim penghujan, juga menggerutu karena hujan terus (hujannya tidak terang-terang). Hal yang demikian ini termasuk mencela keadilan-Nya Alloh.
Bila gusti Alloh saja dicela, apalagi terhadap sesama manusia. Jadi masalah dicela itu biasa, karenanya bila di masyarakat takut dicela ya nggak usah kumpul dengan manusia. Mana yang tidak dicela manusia, ganteng dicela, tidak ganteng dicela, ayu dicela, tidak ayu dicela.
Siapa yang mengatakan Alloh tidak adil ?
Bukankah tujuh langit, tujuh bumi itu semuanya kepunyaan Alloh?.
 WALILLAAHI MULKUS SAMAAWAATI WAL ARDLI    (AL AYAH)
Artinya :”Kepunyaan Allah kerajaan langit & bumi”.(Al Jatsiyah / S.45 / ayat 27)
Jadi tujuh langit, tujuh bumi itu bukan kepunyaan kita, melainkan kepunyaan Alloh, termasuk diri kita sendiri ini. Makanya dawuh Alloh ; Meskipun ada yang saya beri enak, ada yang saya bunuh, ada yang saya coba begini-begitu, yang mengatakan tidak adil itu siapa, toh itu milik saya sendiri ?.
Sama halnya dengan kita, seandainya kita punya ayam 4, kemudian ada yang kita jual, ada yang kita potong, ada yang kita telurkan, adakah tetangga kita yang mengatakan tidak adil atau bilang : Mestinya bila satu ditelurkan ya ditelurkan semua, walaupun belum waktunya atau bila satu dipotong ya dipotong semua, supaya adil. Apakah ada yang mengatakan begitu ?.. Tidak ada. Kenapa tidak ada ?.. Sebab kepunyaan kita sendiri.
Pengertian Makmur.
Makmur itu bisa diterjemahkan cukup, artinya :
  • Cukup sandang.
  • Cukup pangan.
  • Cukup papan (tempat tinggal).
  • Cukup sanding (bojo).
  • Cukup kesehatan.
  • Cukup keamanan.
  • Cukup pencaharian kehidupan. dll
Dan kondisi Indonesia sekarang ini masih menuju kepada masyarakat adil makmur (belum adil dan makmur). Jadi ya harus di insyafi kalau pengangguran masih banyak (tumpukan).
Untuk mencapai Adil makmur haru berjuang atau berjihad. Ikuti ulasan JIHAD di berikutnya..