Dalam keterangan yang lalu, rasanya cukup jelas, kalau surga yang ditempati Iblis/Adam tidaklah sama dengan surga yang dijanjikan bagi orang
yang takwa(?). Nah ada masalah baru. Surga yang dijanjikan pada orang takwa itu sudah ada atau belum? Ada perbedaan pendapat dalam hal ini.
Pendapat Ahli Sunnah wal Jama’ah :
Dalam Alqur’an Surat Ali Imron : 133
“dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”
Oleh karena ayat diatas (Surat Ali Imron ayat 133) ada kalimat : U-’IDDAT LIL MUTTAQIIN, yang artinya : Disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Dan disitu kalimatnya diterangkan dalam bentuk fi’il madli, yakni : U-’IDDAT
Artinya : Telah disediakan.
Begitu juga dengan neraka, juga diterangkan dengan kalimat fi’il madli: U-’IDDAT LIL KAFIRIN.
“Telah disediakan untuk orang-orang kafir”.
Maka tentunya surga dan neraka sekarang ini sudah ada. Kalau memang surga dan neraka sekarang ini belum ada mestinya tidak diterangkan “sudah disiapkan”. Dengan adanya keterangan “sudah disiapkan”, berarti sudah ada. Dan nanti tinggal masuk saja kedalamnya.
Ini pendapatnya Ahli Sunnah wal Jama’ah bahwa surga dan neraka sekarang ini sudah ada.
Namun yang bisa masuk surga hanyalah bagi orang-orang yang bertaqwa saja.
Lalu bagaimana jika belum taqwa tapi sudah mengharapkan masuk surga?.
Kalau belum taqwa dan berharap masuk surga, maka harapannya itu hanya tinggal harapan, selagi belum bertaqwa, tidak akan masuk surga. Ini menurut Alqur-an. Tapi kalau menurut lainnya Alqur-an, ada yang bisa memastikan masuk surga dengan syarat harus ikut alirannya. Melihat cara meyakinkannya, seakan-akan surga itu adalah milik leluhurnya. Sehingga pokok masuk alirannya, dipastikan masuk surga. Aliran yang semacam ini, di Indonesia banyak. Yang tergabung dalam alirannya dijamin surga. Padahal itu adalah surganya perampok yang berkedok agama. Setelah mendapat jaminan itu diharapkan mereka mau memberikan uangnya.
 
Pendapat Mu’tazilah tentang adanya surga.
Mu’tazilah adalah suatu aliran yang dipimpin oleh Wasil bin Atho’. Dia itu asalnya murid dari Hasan Basri (tokoh ahli sunnah wal jama’ah). Setelah dirasa tidak cocok, maka Wasil bin Atho’ keluar dari Ahli sunnah dan mendirikan partai sendiri yang dinamakan aliran Mu’tazilah. Mu’tazilah artinya ; orang yang menyendiri, maksudnya menyendiri dari aliran ahlu sunnah wal jama’ah.
Dan aliran ini adalah aliran yang lebih menonjolkan akal fikir daripada wahyu ilahi. Atau aliran yang mendahulukan akal fikir kemudian diikuti oleh wahyu ilahi.
Jadi prinsip aliran ini bertolak belakang dengan prinsipnya ahli sunnah wal jama’ah. Kalau aliran ahli sunnah wal jama’ah itu lebih mendahulukan wahyu, sedangkan akal fikir belakangan.
Dan menurut Mu’tazilah : Surga dan neraka sekarang ini belum ada, hanya diberitakan saja. Dan adanya itu nanti setelah hari kiamat. Adapun alasannya juga dari Alqur-an :
KULLU MAN ‘ALAIHAA FAAN, WA YABQOO WAJHU ROBBIKA DZUL JALAALI WAL IKROM.
“Segala sesuatu (manusia) yang diatas bumi akan rusak, hancur (fana’) (26).
Dan yang tetap hanya Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemurahan (27).  (Arrohman ayat 26-27)
Ayat ini menerangkan tentang undang-undang qiamat, bahwa pada waktu qiamat nanti semua langit dan bumi dan apa saja yang ada didalamnya akan hancur. Kecuali yang tidak hancur hanyalah Alloh sendiri.
Dengan dasar ini maka bila surga dan neraka sekarang ini sudah ada (berarti belum dimasuki oleh manusia), sudah dihancurkan lagi. Ini mustahil, belum ditempati sudah dihancurkan lagi. Terlebih lagi, manusia yang masuk surga dan neraka itukan setelah qiamat.
Karena itu maka mereka berpendapat bahwa surga dan neraka sekarang ini belum diciptakan dan diciptakannya itu setelah hari qiamat.
Dan bila diciptakan setelah hari qiamat (sudah tidak ada kehancuran lagi), ini sesuai dengan sifatnya surga dan neraka, yakni kekal. KHOOLIDIINA FIIHAA
Tapi kalau dibangun sebelum qiamat, maka pada hari kiamat nanti akan hancur.. Dan bila hancur berarti surga dan neraka tidak kekal, tidak KHOOLIDIINA FIIHAA.
Point-point :
Menurut ahli sunnah wal jama’ah :
Yang dihancurkan pada hari kiamat nanti itu hanyalah langit dan bumi, sedangkan surga dan neraka tidak ikut hancur, surga dan neraka tidak terkena undang-undang qiamat.
Surga dan neraka sekarang ini sudah ada, dasarnya: karena diterangkan dengan kalimat : U-’IDDAT (Telah disediakan).
Mu’tazilah :
Bukankah dalam Alqur-an ada ayat yang menerangkan : KULLU SYAI-IN HAALIKUN ILLAA WAJHAH. “Tiap-tiap segala sesuatu rusak, kecuali Dzat Alloh”.
Dalam ayat tersebut diterangkan bahwa segala sesuatu lainnya Alloh semuanya akan hancur. Maka bila tidak ada pengecualian (kecuali surga atau neraka), berarti surga dan neraka (jika sudah ada), pastilah akan ikut hancur. Padahal menurut Alqur-an surga dan neraka itu kedua-duanya kekal. KHOOLIDIINA FIIHAA
Dengan demikian berarti surga dan neraka sekarang ini belum ada dan adanya itu nanti setelah hari qiamat.
Jadi keduanya sama-sama mempunyai dasar dari Alqur-an. Dan untuk saudara semua terserah pilih yang mana, apa ikut Ahli Sunnah atau ikut Mu’tazilah, bebas.
Bila ikut Ahli Sunnah wal Jama’ah, berarti dalilnya : U-’IDDAT LIL MUTTAQIIN ** U-’IDDAT LIL KAAFIRIIN
Tapi bila ikut Mu’tazilah, berarti dalilnya : KULLU SYAI-IN HAALIKUN ILLAA WAJHAH.
Kedua dasar pendapat tersebut sudah kami sampaikan, jadi tidak saya simpan sendiri. Bagi kami, tidak usah mempersoalkan masalah tersebut, biar surga sekarang ini sudah ada maupun belum ada, yang penting bagi kita pokok masuk surga. Dan biar neraka sekarang ini sudah ada maupun belum ada, yang penting diri kita tidak masuk neraka.
Lalu bagaimana persiapannya agar bisa masuk surga ? Ini surganya Alloh, bukan surganya salah satu golongan lho?.
Ya dengan taqwa (MUTTAQIIN).
Surga itu ada dimana sih, apa dilangit? Langit itu akan rusak, ikut dihancurkan pada hari qiamat.
Kalau begitu, ikut faham yang mengatakan surga itu berada diatasnya langit, supaya tidak terkena undang-undang qiamat.. he he.. silakan. Ok ok aja.
KEADAAN DALAM SURGA
Menurut Alqur-an surga itu seluas langit dan bumi.
Apa disurga ada orang makan ?
Disurga itu ada yang makan dan ada yang minum, hanya saja tidak usah buang air besar / kecil.
Apa kalau makan juga dengan mengunyah?
Tidak, kalau mengunyah berarti ada payahnya juga, padahal disurga tidak ada payah.
Lalu bagaimana ?
Yaa, menunggu besoklah.
Apa disurga ada juga orang yang batuk.
Tidak, kalau ada yang batuk berarti ada yang sakit. Disurga itu nanti istirahat total dan tidak ada batuk, tidak ada pilek, tidak ada penyakit, tidak ada susah.
Lha itu Nabi Adam kok menangis?
Itu lain.
Apa orang kafir ada yang masuk surga.
Tidak ada.
Lha itu iblis (kafir) kok bisa masuk surga ?
Itu lain.
Masalah Adam dan iblis itu sulit, tidak usah dibahas sekarang. Masalah tersebut bagiannya filsafat tingkat tinggi. Bila dibahas sekarang, nanti bisa bingung. Sekarang membahas yang mudah-mudah saja. Nati dilain kesempatan, kita bahas pelan-pelan.. sedikit-sedikit.
Bagi kita yang penting mudah-mudahan masuk surga, gitu aja.
Tapi kalau misalnya mengerjakan sholat, itu ya tidak boleh karena surga. Bila karena surga berarti karena makhluk, bukan karena Alloh. Yang demikian ini syirik halus.
Semoga Manfaat..