Pada hakekatnya sifat Allah adalah tidak ter­batas. Semua sifat Sempurna adalah sifat Allah atau milik Allah. Menurut ajaran agama Islam sifat-sifat Allah yang terdapat pada diri manusia yang sempurna lahirnya (tidak cacat) jumlahnya ada 41 sifat yaitu:

1. 20 sifat yang Wajib.
2. 20 sifat yang Mustahil.
3.   1 sifat yang Jaiz (wewenang-Nya, Sifat kekuasaan Mutlak).
Sifat Wajib ialah:
1.  Wujud, artinya: Ada. Sifat ini namanya sifat nafsiyah, artinya: golongan bentuk atau dzat.
2.  Qidam, artinya: Terdahulu (tak ada yang mendahului).
3.  Baqo’, artinya: Abadi (tidak rusak dan tidak mati selama-lamanya).
4.  Mucholafah lil chawadis, artinya: Berbeda dengan barang baru, ialah barang duniawiah.
5.  Qiamu bi nafsihi, artinya: Bertahta pribadi (tidak ada yang melantik).
6.  Wandaniah, artinya: Satu (Maha Tunggal).
Sifat nomor 2 s.d. 6 disebut, sifat SALBIAH, artinya mustahil kalau terjadi sebaliknya.
7. Qodrat artiriya: Kuasa (kekuasaannya tak terbatas).
8.  Iradat artinya: Karsa (tak ada sesuatu ke­jadian di dunia ini yang bukan atas Karsa Tuhan).
9.  Ilmu, artinya: Sumber ilmu (pengetahuan).
10. Hayyat, artinya: Hidup (tak ada yang meng­hidupi, sumber hidup).
11. Sama’ artinya: Mendengar (tidak dengan alat).
12. Basor, artinya: Mengetahui (tanpa alat).
13. Kalam, artinya: Bersabda (tanpa alat).
Sifat nomor 7 s.d. 13 disebut, sifat MA’ANI, arti­nya: yang menempati sifat Nafsiah.
14. Qodiran, artinya: Yang Maha Kuasa (tidak ada yang memberi kuasa).
15. Muridan, artinya: Yang mempunyai karsa.
16. Aliman, artinya: Yang Mempunyai segala macam ilmu.
17. Chayyan, artinya: Yang Hidup (Sumber Hidup).
18. Sami’an, artinya: Yang mendengar (baik suara yang terdengar maupun yang tidak).
19. Basiran, artinya: Mengetahui (baik bends yang terlihat maupun i.idak).
20. Mutakallimun, artinya: Yang bersabda (ti­dak bersuara tet.api dapat diterima dengan jelas oleh yang mencrima).
Sifat nomor 14 s.d. 20 disebut sifat MAKNA­WIYAH, artinya yang ditempati sifat Ma’ani. Adapun sifat MUSTAHIL adalah sifat kebalikan daripada 20 sifat wajib tersebut di atas.
III. Sifat Jaiz Tuhan adalah sifat yang mutlak (bahasa Jawa: murba masesa), artinya: Tuhan tidak terikat pada hukum-hukum dan peraturan-peraturan. Tuhan berwenang berbuat atau ber­tindak apa saja menurut Karsa-Nya. Tidak ada peraturan atau hukum yang mengikat Dzat Tuhan. Pendek kata: tak ada keharusan atau ikatan yang menentukan Dzat Tuhan. Bahkan Tuhan pribadilah yang mengawasi hukum-hukum, peraturan-peraturan atau keharusan dan penentuan-penentuan.
Penjelasan:
Tuhan tidak harus memberi anugerah kepada hambanya yang taat, tidak harus menjatuhkan hu­kuman kepada hambanya yang tidak taat. Adapun pemberi anugerah hanyalah merupakan wewenang daripada Dzat Tuhan. Tidak ada yang mengharuskan Dzat Tuhan. Adapun yang menentukan anugerah ada­lah sifat Maha Adil Tuhan, yang berlangsungnya dilindungi terlaksananya hukum abadi. (Hukum angger­-angger langgeng).
Andaikata Tuhan memberi anuge­rah kepada hambanya yang berdosa, kepada hamba­nya yang taat, itupun wewenang Tuhan pula. Siapa yang akan mengganggu-gugat? Pasti tidak ada. Tetapi yang demikian itu pasti tidak akan terjadi, sebab sifat keadilan Tuhan (terlaksananya Hukum angger-angger langgeng) berjalan lurus dan otomatis.
Dengan adanya sifat Jaiz ini Tuhan bukannya akan berbuat sewenang-wenang, tetapi sebenarnya hanya untuk memberi pengertian kepada manusia, bahwa Tuhan itu benar-benar yang menguasai alam seisinya, tidak dikuasai siapa pun.
Tuhan tetap adil dan tetap bijaksana. Selain sifat-sifat tersebut di alas, masih banyak sifat-sifat yang sering didengar oleh masyarakat umum dan juga terdapat dalam Al-Qur’an, ialah: Maha Rohman, Mah Rohim, Maha Suci, Maha Murah, Maha Luhur, Maha Mulia dan sebagainya.