Penting untuk dimengerti bahwa gerak hidup manusia itu ditentukan oleh gerak jiwanya. Dan arah gerak hidup manusia itu ditentukan oleh “Keyakinan” yang menjiwai jiwa manusia itu sendiri.
Jika keyakinan yang menjiwai jiwa manusia itu keyakinan Filsafat Materialisme, maka pastilah aktifitas hidup manusia itu menuju kepada materi semata, sehingga timbullah Kaidah Falsafah Materialis yang bunyinya :
” aku adalah materi, materi adalah aku. aku dari materi dan aku kembali kepada materi. aku dan materi adalah identik. Materi adalah segala-galanya, di luar materi tak ada apa-apa.”
Keyaqinan semacam ini sebagaimana diterangkan dalam Al Qur-an :
WAQOOLUU MAAHIYA ILLAA HAYAATUNAD DUN-YA NAWUUTU WANAHYAA WAMAA YUHLIKUNAA ILLADDAHRU WAMAALAHUM BIDZAALIKA MIN ‘ILMIN INHUM ILLAA YADHUNNUUN. (Q.S. Al Jaastiyah / Ayat 24)
Artinya   : “Dan mereka berkata : kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia saja bukan mati bukan hidup dan tidak ada yang membinasakan kita kecuali materi. Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”.
Dan jika jiwa manusia itu dijiwai oleh keyakinan kalimat taqwa “Laa Ilaaha Illalloh”, maka pastilah segala gerak aktifitas hidup manusia itu bergerak menuju “Laa Ilaaha Illalloh”. Kita dari “Laa Ilaaha Illalloh” beserta“Laa Ilaaha Illalloh” kembali kepada “Laa Ilaaha Illalloh”, lenyap didalam gulungan gelombang Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, Tauhid Dzat “Laa Ilaaha Illalloh”. sebagaimana tersebut dalam Al Qur-an :
YUNAZZILUL MALAA-IKATA BIRRUUHI MIN AMRIHI ‘ALAA MAN-YASYAA-U MIN ‘IBAADI-HI AN-ANDZIRUU ANNAHU LAA ILAAHA ILLAA ANAA FATTAQUUN. (An Nahl / Ayat 2)
Artinya :   “Dia (Alloh ) menurunkan para malaikat dengan (membawa) ruh (wahyu laa ilaaha illalloh ) dari perintah-Nya kepada siapa yang dia kehendaki di antara hamba-hambaNya, yaitu peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasannya tidak ada tuhan melainkan aku. Maka hendaklah kamu taqwa kepada-Ku”.
Didalam ayat ini ada kalimat ” BIRRUUHI ” (RUH), yang dimaksud ialah ruh wahyu “Laa Ilaaha Illa Anaa Fattaquuni”. Oleh sebab itu yakinilah bahwa “Laa Ilaaha Illalloh” itu adalah ruh yang apabila menjadi “RUUHURRUH”,  maka Iman Fithroh kita akan hidup segar, fikiran menjadi segar, akal menjadi segar, rasa batin kita menjadi segar pula. Itulah yang diserukan dalam Al Qur-an :
yaa ayyuhalladziina aamanustajii-buu lillahi walirrosuuli idzaada’aa-kum limaa yuhyiikum. (Q.S. Al Anfal/ Ayat 24)
Artinya :”Wahai orang-orang yang beriman penuhilah seruan Alloh dan seruan Rosul apabila rosul menyeru kepada kamu, kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu “.
Adapun THORIQOH itu adalah suatu metode yang mendalam untuk memasukkan Ruh Laa Ilaaha Illalloh kepada Ruh Manusia agar ruh manusia itu benar-benar menjadi ruh yang hidup bermakna, bukan sekedar Ruh hidup yang berlafdzi.