Ingatlah bahwa jiwa agama islam itu ada dua:
1. Keimanan.
2. Kemanusiaan.
Keimanan dan kemanusiaan itulah jiwa agama Islam.
~ Jiwa yang menjiwai ibadah sholat juga keimanan dan kemanusiaan.
~ Yang menjadi jiwa ibadah puasa juga keimanan dan kemanusiaan,
~ Yang menjadi jiwa ajaran zakat juga keimanan dan kemanusiaan.
~ Yang menjadi jiwa ibadah haji juga keimanan dan kemansiaan.
Keimanan tanpa kemanusiaan adalah khianat, pendusta agama. Sebagaimana tersebut dalam Al Qur-an :
ARO-AITALLADZII YUKADZDZIBU BIDDIIN . FADZAALIKAL LADZII YADU”UL YATIIM.
(Q.S. Al Maa’uun / Ayat 1-2)
Mengapa sudah sholat, sudah puasa, sudah melak-sanakan haji masih dikatakan pendusta agama oleh Alloh ?
Disebabkan karena hanya beriman tapi tidak berperikemanusiaan, tidak mau memperhatikan anak yatim, tidak mau memperhatikan orang miskin.
Sebaliknya kemanusiaan tanpa keimanan adalah fatamorgana. Sebagaimana tersebut dalam surat An Nur.
ALLADZIINA KAFARUU A’MAALUHUM KASAROOBIN. (Q.S. An Nur / Ayat 39)
Artinya : “Orang-orang kafir itu amalnya seperti fatamorgana”.
Ada tapi tidak ada seperti bayangan air di padang pasir, tampak dari jauh ada air kilau-kemilau yang menimbulkan harapan bagi orang yang haus, alangkah sejuknya kalau dapat mencapainya dan bisa meminumnya.
Setelah sampai di tempat itu apa yang ada ? air itu tidak ada, yang ada pasir. Untuk mencapai bayangan itu saja sudah sulit, ditengah-tengah padang pasir yang jauh. Diluar dibakar oleh sengatan sinar matahari, kaki dibakar oleh panasnya pasir, dalam dibakar oleh panasnya haus, keringat bercucuran keluar. Tapi setelah sampai di tempat, air yang diharap-harapkan itu tidak ada, akan kembali tenaga sudah habis, akan mene-ruskan perjalan airnya tidak tentu, akhirnya berguling-guling mati konyol ditengah-tengah padang pasir. Itulah gambaran orang yang ber-perikemanusiaan tapi tidak beriman.
Dengan keimanan dan kemanusiaan itulah akan mencapai keselaamatan dan kebahagiaan. Ini tersebut dalam Al Qur-an :
DLURIBAT ‘ALAIHIMUDZ DZILLATU AI-NAMAA TSUQIFUU ILLAA BIHABLIN MINALLOOHI WAHABLIN MINANNAASI.
(Q.S. Ali Imron / Ayat 112)
Artinya :    “Dipukulkan atas mereka kehinaan dimana mereka berada kecuali (orang yang tidak dipukul atas kehinaan dan kedustaan) orang-orang yang berpegang teguh tali Alloh (yakni keimanan) dan orang-orang yang berpegang teguh kepada tali kemanusiaan”.
Dengan keimanan dan kemanusiaan itulah yang menjadi pendorong dan yang akan meng-hidupkan benih-benih akhlak makarimah yang ada didalam jiwa, hanya itulah yang paling kuat.
Al Hamdulillah, Keimanan dan kemanusiaan sudah ada dalam dasar negara kita yaitu Pancasila.
Sila ke satu yaitu : “Ketuhanan yang maha Esa”.
Sila kedua : “Kemanusiaan yang adil dan beradab”.
Seandainya bangsa Indonesia terutama tokoh-tokohnya menginsafi, menyadari, menghayati hanya dua sila itu saja, maka tidak akan terjadi seperti sekarang ini. Tapi sayang Pancasila banyak diomongkan tapi sedikit yang mengamalkan, bahkan diberi pupur-pupur yang macam-macam sampai fungsi pokoknya itu tidak tampak. Fungsi pokoknya adalah Dasar Negara. Tapi oleh karena diberi pupur, di hias dan dirias yang macam-macam ini sebagai anu, sebagai anu, sampai ada penataran P4 dan lain sebagainya jadinya kabur.
Pembangunan diberi merk pengamalan Pancasila padahal Pancasila itu jiwa, kalau seandainya pembangunan itu pengamalan Pancasila mesti yang dibangun itu jiwa dahulu, karena Pancasila itu adalah jiwa, sesuai dengan lagu Kebangsaan Indonesia : “Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya”. Tapi selama 60 tahun, pembangunan jiwa diabaikan hanya pembangunan materi.
~ Apa korupsi yang besar-besaran itu pengamalan Pancasila ?
~ Apakah KKN itu pengamalan pancasila ?
Dinegara yang berketuhanan yang maha Esa ciri khasnya ada diterangkan : “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing, dan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya”. Ini ciri khas negara.
Sampai-sampai ada istilah yang mungkin dibakukan oleh orang-orang yang merasa benar, mutlak super benar “Demokrasi Pancasila”, itu istilah tidak tepat, Demokrasi itu kan pengejawantahan sila keempat saja, jadi satu sila yakni: “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan”.
Bagaimana dikatakan satu sila itu dinamakan Pancasila ? Apakah Tuhan akan didemokrasikan! Sampai Ketuhanan dan Kemanusiaan diringkas jadi demokrasi, aneh bin ajaib. Maklumlah karena Kyai-kyai itu banyak yang tidak mengerti Pancasila, maklum. Tapi orang-orang yang pandai-pandai itu kan banyak yang tahu, orang yang sedang ramai-ramai mendirikan partai, dan kenyataan sekarang tiada hari tanpa berita kebobrokan wakil kita.