BERGURU KEPADA YANG TAHU
BERTANYA KEPADA AHLINYA
BERJALAN SAMPAI BATAS
BERLAYAR SAMPAI KE PULAU
MENGAJI SAMPAI KHATAM
Bagaimanakah cara untuk bertemu dan menyaksikan Tuhan? Sebagai suatu contoh yang nyata dapalah kita pelajari pengalaman Nabi Muhammad Saw. waktu beliau mengadakan ISRA-MI’RAAJ, untuk menemui Allah. Telah dikemukakan sebelumnya bahwa Tuhan adalah maha Roh dan untuk menyembah Allah haruslah dengan Roh kita. Dengan perkataan lain apabila kita hendak menghadap Allah haruslah dengan badan Rohani kita dan tidak dengan badan jasmani kita. Dalam kata kiasan di tulisan sebelumnya telah dikemukakan dalam MOTTO sebagai berikut: Engkau bahkan harus mati selagi hidup (mati sakjroning urip) dan sesudah itu barulah engkau dapat bertemu dengan Dia. Maka untuk menemui Allah kita harus mematikan badan jasmani kita dan kita menemui-Nya dengan Roh (badan rohani) kita.
Dengan mematikan badan jasmani kita berarti kita mematikan seluruh pancaindera kita dan meng¬hilangkan semua nafsu dan ego yang dimiliki badan jasmani kita.
Pada dasarnya seorang ahli MA’RIFAT tidak bersedia menjelaskan cara berma’rifat kepada umum secara terbuka, kecuali kepada orang-orang yang benar-benar ingin menemui Allah dengan cara pembuktian, setelah memenuhi beberapa persyaratan.
Bagaimanakah cara kita harus mematikan badan jasmani kita?
Untuk memperoleh penjelasan yang lebih terperinci, para pembaca kami persilahkan untuk menanyakannya kepada seorang ahli Ma’rifat.
Perjalanan Mi’raj untuk menemui Tuhan adalah suatu pengalaman ghaib serta rahasia serta laku dengan tanpa melakukan hal-hal yang sukar dan pula tidak menimbulkan dampak negatif terhadap jasmani (physic) dan mental. Apabila Tuhan menghendaki dan mengizinkan-Nya maka secara yang amat ajaib Tuhan menampakkan cahaya-Nya (Nur).
Untuk melaksanakan Ma’rifat bagi seseorang yang belum pernah melaksanakannya, haruslah dibimbing oleh seorang guru Mursyid yang telah kenal dan tahu kepada Tuhannya. Seperti firman Allah sebagai berikut:
AL-ISRAA :1
Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
AN-NAML:40
berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini Termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.
AL-ISRAA :72
 dan Barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat ia akan lebih buta dan lebih tersesat dari jalan.