TAQWA ITU BISA MENJADI PENETRAL DARI BAHAYA
Taqwa itu disamping menjadi benteng, juga bisa menjadi penetral dari bahaya. Termasuk penetral dari bahaya kekayaan.
Sebagaimana dalam hadis Nabi diterangkan bahwa : Dengan taqwa itu maka meskipun kaya, tidak akan berbahaya.
Buktinya seperti : Nabiyulloh Sulaiman, Nabiyulloh Ibrohim, Nabiyulloh Yunus, shohabat Abu Bakar, Shohabat Zubair dan seterusnya, karena taqwanya kepada Alloh maka mereka semuanya tidak sampai kena terpedonya kekayaan.
Jadi taqwa itu bisa untuk menetralkan diri.
Diwaktu kaya bila taqwa maka kekayaannya tidak membahayakan.
Diwaktu fakir bila taqwa maka kefakirannya tidak membahayakan.
Begitu pula diwaktu dalam keadaan sehat – taqwa, sakit – taqwa, dipuja orang – taqwa, dicacat juga tetap taqwa, maka semua keadaan itu tidak akan membahayakan kita.
TAQWA MENJADI LETAKNYA KEMULYA-AN DAN KEJAYA-AN.
Semua manusia itu mesti hidupnya ingin mulya, ingin jaya. Tidak ada satupun manusia yang hidupnya ingin hina. Hanya saja dalam menilai dimanakah letaknya kemulyaan dan kejayaan manusia itu berbeda-beda.
Diantaranya :
 
1.   Ada yang berpendapat bahwa letak kemulyaan dan kejayaan manusia itu ada pada kekayaan yang melimpah.
Pendapat ini adalah tidak benar, mungkin bagi pandangan manusia benar, tapi bagi Alloh tidak benar. Kalau memang letaknya kemulyaan dan kejayaan itu ada pada kekayaan yang melimpah, tentunya masih lebih mulya gunung. Karena didalam gunung itu tersimpan banyak kekayaan, didalam gunung itu terdapat banyak emas, berlian, besi, perak dan lain sebagainya. Beda dengan manusia, kalau manusia itu lahirnya tidak membawa apa-apa, tidak membawa pakaian, tidak membawa sandal, tidak membawa sepatu dan bahkan yang dikeluarkan dari tubuhnya juga kotor. Adapun bisanya punya pakaian, sepatu dan lain sebagainya adalah karena hadiah dari alam, hadiah dari tumbuh-tumbuhan. Dan seandainya tidak diberi hadiah dari alam pula, maka manusia tidak akan punya perhiasan, tidak punya kendaraan, tidak punya rumah dsb. Jadi manusia itu pada dasarnya miskin, asalnya tidak punya apa-apa, lahirnya telanjang. Tapi walau begitu, kadang setelah lahir kedunia dan kaya, merasalah jadi mulya sehingga menjadi sangat sombong. Sebenarnya dia itu kaya apa sih, semuanya toh hanya hadiah saja dari alam.
Bagi yang meyakini bahwa letak kemulyaan manusia itu ada pada kekayaan maka jadinya seluruh hidupnya difokuskan kesana. Segala susah payah ditempuh, yang jauh dijelang, yang dekat dihampiri, bahkan kadang sampai menempuh silang sengketa, berbelah rotan, bertolak punggung antara anak dengan bapaknya demi untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Padahal kalau sudah banyak harta, biasanya terus menjadi budaknya harta, menyembah harta. Bila malam tiba, sering tidak bisa tidur kuatir hartanya ada yang mencuri. Mendengar suara kretek saja sudah bingung dikiranya maling padahal hanya tikus. Jadi dia itu malah menjadi penjaga hartanya, tersiksa oleh hartanya.
Tragisnya lagi, orang lain yang sepertinya menghormati dan mentaati itu kadang hanya semu belaka. Mereka itu mungkin menghormati hanya karena hartanya, bukan karena orangnya. Sehingga selama masih beruang dia masih disayang, banyak orang-orang yang mendatanginya. Tapi kalau dilihat uangnya sudah habis (tidak kaya), dia tidak lagi dihormati. Dan orang-orang yang dulunya sering menemani, sekarang tidak mau muncul lagi. Ibaratnya habis manis sepah dibuang. Kesimpulannya: Yang pasti kemulyaan dan kejayaan itu bukanlah terletak pada kekayaan.
 2.   Ada lagi yang menganggap bahwa letak kemulyaan itu ada pada manfaat tubuhnya.
Kalau yang mejadi ukuran kemulyaan manusia itu ada pada manfaat tubuhnya maka masih lebih mulya sapi. Coba perhatikan sapi itu, tulangnya bisa dibuat kancing baju, tanduknya bisa dijadikan sisir, dagingnya bisa dimakan, susunya bisa diminum, kotorannya bisa dibuat pupuk, sedangkan manusia, mana ada tulangnya yang dijadikan kancing baju ?. Begitu kok membangga-banggakan manfaat tubuhnya.
 3.   Ada lagi yang menganggap bahwa kemulyaan manusia itu terletak pada bagusnya, pada ketampanannya.
Padahal soal ketampanan manusia, kalau difikir sebenarnya tidak lebih bagus dari kucing. Coba kalau manusia itu rambutnya tidak di sisir satu hari saja, pasti rambutnya sudah modal madul, kelihatan jelek. Tapi kalau kucing, dari lahir sampai mati tidak pernah bersisir sudah rapi terus.
Bagi yang berkeyakinan letak kemulyaan manusia itu terletak pada bagusnya atau ketampanannya, maka setiap hari kerjanya hanya bersolek saja, cuma mengatur keindahan tubuhnya. Bersisirnya saja dalam satu hari berulang kali, tapi akhlaqnya tidak pernah disisir. Sepatunya setiap hari juga digosok atau disemir, tapi hatinya tidak pernah digosok. Kalau mengaca, kacanya saja sampai dobel 6, ada yang untuk mengacai rupanya, ada yang untuk mengacai telinganya, pantatnya dan lain-lainnya. Cara jalannya juga ditata biar kelihatan indah kalau jalan, sehingga kadang berjalan mondar-mandir didalam kamar untuk latihan jalan yang baik. Lembehan tangannya juga diatur agar tampak indah. Kemudian kalau sudah bisa masuk koran atau televisi, menjadi bangga.
Bagi yang meyakini bahwa letak kemulyaan itu ada pada ketampanannya maka segala perhatiannya ditumpahkan kesitu. Padahal ketampanan itu hanya bayangan, sedangkan banyangan tidak mempunyai ukuran tertentu. Mungkin sekarang tampan tapi tunggu, sebentar lagi pasti peot.
Bila kemulyaan itu dianggapnya terletak pada ketampanannya, lalu bagaimana bila ketampanannya sudah hilang (Entah karena sudah tua atau lainnya)?. Berarti dia sudah tidak mulya lagi sehingga tidak dihormati lagi. (Karena yang dihormati bukan akhlaqnya melainkan ketampanannya).
Ini tadi adalah bagi pria yang disebut dengan istilah tampan atau ketampanan. Sekarang bagi wanita yang disebut dengan istilah cantik.
Ada manusia itu yang sangat membanggakan kecantikannya. Dan ada yang karena sangat cantiknya, sampai diceritakan dengan berlebihan, yaitu : Bila melewati suatu sungai, aliran sungainya seakan berhenti karena ingin di sentuh oleh wanita cantik tersebut. Bila berada dibawahnya bunga, bunganya akan doyong sendiri seakan menawarkan diri untuk dipetik oleh si wanita cantik itu. Dengan kecantikan yang demikian ini membuatnya sangat bangga. Padahal kecantikan dhohir itu tidak akan lama, sebentar lagi pasti rontok. Sebagaimana tidak lamanya terangnya mata, mata yang semula terang, tidak lama kemudian harus memakai kaca mata. Di ikuti dengan tubuh yang asalnya tegak, lalu berubah memakai tongkat. Gigi yang asalnya utuh, kemudian jadi pretel (rontok). Kulit yang asalnya kenceng, kemudian berkeriput. (Katanya : Kalau keriput, ya oprasi plastik. Akhirnya setelah oprasi plastik, tambah rusak).
Walau kecantikan itu dibangga-banggakan, bila sudah pudar ya tidak beda dengan nasibnya bunga mawar yang semula indah kemudian rontok, yaitu : tidak ada lagi yang memperhatikan nasibnya. Bahkan rontokannya (yang pernah membuatnya indah) ketika jatuh ketanah, terinjak-injak oleh orang yang lewat, juga terinjak-injak hayawan, tidak ada yang merasa sayang. Coba apa ada orang yang setelah melihat protolan bunga yang sudah jatuh ketanah (yang sudah campur dengan debu) itu kemudian mengumpulkan nya lagi untuk disimpan ?. Tidak ada kan.
Jadi kalau ada orang yang hanya mengandalkan ketampanannya atau kecantikannya saja berarti sama dengan mengandalkan bayangannya saja. Padahal bayangan itu sebentar lagi pasti akan hilang. Dan disitu juga bukan letaknya kemulyaan manusia.
 4.    Ada juga yang beranggapan bahwa kemulyaan itu terletak pada pangkat dun-yawiyyah. Seperti tanda pangkat bintang emas, jadi pejabat dan lain sebagainya.
Anggapan ini juga kliru. Dan juga orang yang menghormati pangkat itu hanyalah sementara, yaitu sementara bila dipundaknya masih ada pangkatnya (masih tersandang bintang emasnya) atau masih menjadi pejabat. Bila sudah tidak ada pangkatnya (pensiun) atau sudah tidak jadi pejabat, ya tidak dihormati lagi, karena memang yang dihormati itu bukan orangnya melainkan kedudukannya (pangkatnya).
Adapun yang benar masalah letak kemulyaan dan kejayaan itu ada pada taqwalloh. Sebagaimana yang telah diterangkan dalam Alqur-an :
INNA AKROMAKUM ‘INDALLOOHI ATQOO KUM. (Al hujurot ayat 11).
Artinya :” Sesungguhnya semulya-mulyamu di sisi Alloh adalah yang paling taqwa diantara kamu”.
Coba perhatikan wali 9 itu, meskipun sudah hancur menjadi debu, tetap saja banyak didatangi orang, padahal tidak ada yang menyuruhnya ziarah. Lihat sendiri di makamnya Sunan bonang, Sunan Ampel, bukankah yang datang itu terus menerus dan banyak sekali ?. Karena banyaknya yang menziarahi, sehingga bisa memberi penghidupan kepada sekitarnya (memberi kehidupan orang banyak). Kalau demikian coba anda pikir-pikir, kira-kira yang hidup itu yang mana?.
Para peziarah juga tahu bahwa yang didatangi itu kuburan dan seandainya yang didalam kubur itu dipanggil namanya, ya diam saja, karena memang kuburan. Pernah juga kami waktu di Kudus (di makamnya sunan Kudus), ditembok makamnya itu ada tulisan permintaan, yaitu minta agar segera dapat jodoh. Bunyi tulisannya : ” Sunan Kudus, saya ingin cepat mendapat jodoh “. Yang begini ini bagaimana ?. Ya tidak dijawab oleh Sunan Kudus, karena sudah wafat. Walau begitu tetap saja banyak orang yang datang, ada yang datangnya untuk mendoakan misalnya dengan membaca surat Yasin, ada yang mengharap dapat barokahnya, ada yang mengharap agar cepat dapat jodoh dan lain sebagainya.
Adapun ramainya peziarah wali 9 itu adalah karena Taqwanya wali 9 dan taqwanya itu abadi.