Di dalam Al Qur’an ada beberapa ayat yang menerangkan tentang penyakit dalam hati :

FII QULUUBIHIM MARODLUN (Al Baqoroh:10)
“ Di dalam hati mereka itu banyak penyakit “
Ada penyakit takabbur ( sombong)
Ada penyakit ujub (membangga-banggakan diri )
Ada penyakit riya’ (ingin dipuji manusia)
Ada penyakit bakhil ( pelit)
Ada penyakit hasud (iri, dengki)
Dan masih banyak lagi.
Jadi penyakit dalam hati manusia itu banyak. Akan tetapi masalah teori pengobatannya atau resepnya juga sudah diterangkan dalam Al Qur’an :
WANUNAZZILU MINAL QUR-AANI MAA HUWA SYIFAA’ (Al Ayah 0 9 Al Isro’:82)
“ Dan diturunkan dari Alqur’an sesuatu yang mengandung obat”
begitu pula dalam surat Yunus:57
WASYIFAA-UL LIMAA FISH SHUDUUR
“ Dan mengobati penyakit yang ada di dalam dada”
Jadi Alqur’an itu mengandung obat untuk mengobato penyakit dalam hati.
Walaupun dalam Alqur’an sudah diterangkan mengandung obat, tapi seandainya terhadap orang yang sakit itu hanya dibacakan berita saja yakni berita bahwa Alqur’an itu mengandung obat atau hanya dibacakan resep-resep saja, walau panjangnya sampai 2 meter apakah penyakit itu bisa sembuh?.
Misalnya orang sakit gigi, apakah sakit gigi bisa sembuh dengan hanya dibacakan resep saja? Apakah sakit bisul atau juga sakit maag bisa sembuh hanya dengan dibacakan resep saja? Tentunya tidak.
Dan resep-resep itu sudah sering ditayangkan di TV-TV, surat kabar dan lain sebagainya. Tapi penyakit itu tidaklah akan sembuh kalau hanya dibacakan resep-resep saja.
Begitu juga dengan penyakit hati, di dalam Islam sendiri, kalau hanya sekedar menyampaikan informasi atau penyampaian resep-resep untuk penyembuhan penyakit hati, sudah sering. Di dalam khotbah Jum’at dibacakan resep. Di pengajian-pengajian terutama di pesantren-pesantren juga sering dibacakan atau disampaikan resep-resep. Akan tetapi yang dibutuhkan oleh umat yang sakit ini adalah kesembuhan bukan hanya dibacakan resep saja.
Alqur’an jelas tidak punya tangan, tidak punya kaki sehingga Alqur’an tidak bisa mengerjakan apa-apa sendiri dan tidak bisa berjalan sendiri. Dan agar bisa sampai pada tujuannya, maka manusialah yang harus merealisasikannya, membunyikan ajaran-ajarannya, yakni dengan cara mengamalkan di dalam kehidupannya.
Dengan cara mengamalkan Alqur’an itulah maka ajaran Alqur’an tidak hanya mengawang di angkasa saja, melainkan bisa turun. Jika ajaran Alqur’an itu tidak diamalkan maka bisa dikatakan seakan-akan ada tapi kenyataannya tidak ada. Dan jika mau berobat dengan Alqur’an tapi tidak mau mengamalkan Alqur’an, maka bisa diibaratkan jauh panggang dari api, arang habis besi tak jadi, usia terbuang sia-sia.