Islam itu tidak menghalang-halangi kita itu kaya . Boleh kaya, boleh jadi orang terkaya. Yang dilarang itu kalau sampai tertipu oleh kekayaannya, lupa akan kewajibannya sebagai umat beragama, itu yang dilarang.

Kanjeng Nabi dawuh :
QOOLA ROSUULULLOH SHOLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM: LAA BA’TSAL GHINAA LIMANIT TAQOO
Artinya: Bersabda Rosululloh SAW
Tidak bahaya apa-apa kekayaan itu bagi orang yang taqwa.
Asal Taqwa, harta benda berapapun jumlahnya, tidak membahayakan, itu netral.
Berhubung ada dalam Alqur’an:
WAMAA HAYAATUD DUNYAA ILLA MATAA’UL GHURUUR
Artinya:”Dan tiadalah kehidupan dunia itu,melainkan kehidupan yang menipu”.(Al Imron S.3/185)
Terjadi salah memahami ayat ini, kemudian menjalani zuhud (zuhud itu maknanya bertapa), tidak mau dunia, pakaian tidak mau yang baik, memilih yang gedombal gedambel, makanan tidak mau yang mengandung gizi, akhirnya tertipu oleh syaithon. Agar dianggap Waliyulloh, dikira waliyulloh itu ukurannya seperti itu. Tidak tahu Wali, tertipu Wali, itu namanya Sok Wali
Banyak orang yang mengalami semacam ini, kalau jalan matanya dipejamkan, kepala ditundukkan terus, katanya itu wira’i. Sebab kalau nanti melihat ke arah sana, sini, ketemu hal-hal yang bukan muhrimnya, haram, neraka. Jadi wira’i, sangking wira’inya (hati-hatinya) menunduk terus, tidak tahu siapa yang ada di depannya, akhirnya menabrak orang, dan orang itu ternyata seorang perempuan. Terucap kalimat :Astaghfirulloh. Innaalil laahi wainnaa ilaihii rooji’uun.
Karena gugupnya sehingga yang dibaca itu seperti bacaannya orang yang kena musibah kematian. Jadi tidak begitu yang namanya wira’i itu.
Kadang ada karena wira’inya, sembahyang itu tidak jadi-jadi, gagal terus. Wudlu juga berkali -kali, sampai diulang 25 kali gagal terus nawaitunya. Jadi tidak selesai-selesai, karena merasa kurang bersih. Tapi kalau sudah jadi kebablasan basah semua. Ini sebabnya hanya agar dipuji orang sebagai orang wira’i.
Itulah, dikira Alloh dapat ditipu. Ini namanya menipu dirinya sendiri, menipu orang lain, menipu Alloh Ta’ala. Jadi itu namanya penipu, bukan orang wira’i. Sholat kalau ada orang disuarakan, didengar-dengarkan, (Usholli nya dengan suara keras), Masya Alloh…. sampai ngeses-ngeses. Saya pernah ketemu orang yang semacam itu.
Ternyata saya lihat kalau makan tidak was-was, lab-leb lahab sekali. Mestinya itu kalau makan juga was-was, yang dimakan itu halal atau haram. Ini yang was-was cuma pada sholat dan wudlu saja, sedang makannya tidak pakai was-was, malahan melebihi dari biasa. Apalagi kalau makannya itu prasmanan, tambah bawa piring wira-wiri, belum habis ambil lagi.
Kita sering melihat dipertemuan yang semacam itu, bersama orang-orang banyak, saya hanya melihat saja, ya Alloh..? kok begini, seperti ini kok jadi Imam, mengimami umat. Seperti tidak pernah ketemu makanan saja.
Saya pernah pertemuan dengan ribuan undangan, kemudian makannya prasmanan, sudah, saya hanya melihat saja, ee…melihat halnya tokoh-tokoh. Ada yang mengambil sate 2 atau 3, belum habis, dibilangi temannya di sana ada ini, itu dsb. Akhirnya lari ke tempat yang dicari jenis makanannya tadi. Kok seperti itu, apa di rumah tidak pernah ketemu dengan makanan yang seperti itu. Ini sehingga orang lain tertawa, melihat hal itu.
Tadinya seperti wira’i beneran, lebih-lebih kalau diajak berjabat tangan. Kalau yang datang itu tamu perempuan, tangannya ditendang, haram !, neraka!. Jadi salaman (jabat tangan) dengan orang perempuan itu haram. Kalau tidak begitu, mau diajak salaman tapi tangan dibungkus dengan handuk. Ini kena dayannya tangan ke handuk, dan dari handuk ke tangan, ya sama saja.
Tetapi kalau mendapat hadiah jangan pakai bilang haram, padahal itu juga akan masuk perut, haram atau halal. Sudah tidak pakai selektif lagi, yang penting masuk, selesai.
Pada hal masalah haramnya orang jabatan tangan itu haditsnya dhoif, lemah, hampir semuanya. Orang mau jabat tangan, terus tangannya orang perempuan itu dilempar, ditampel, ditendang, kan malu. Kalau begitu tangannya orang perempuan itu kotor, yang suci itu tangannya orang laki-laki saja.
Manusia itu mulya-mulyanya makhluk.
WALAQOD KAROMNAA BANII AADAMA
Orang yang hatinya jahat, merasa paling benar, jabat tangan itu tidak dilarang, hadisnya dloif. Boleh saja jabat tangan dengan orang perempuan. Kalau misalnya kebetulan orang yang diajak jabat tangan itu yang disukai, maka tangannya diremas-remas. Nah hal seperti ini yang dilarang, yang diharamkan, itu tidak boleh. Tangannya dipegang sampai mengeluh kesakitan, tidak dilepas-lepas. Kadang ada yang sampai mengancam, karena merasa disengiti ” awas nanti kalau hari raya, jabat tangan, saya genggam kuat-kuat”.
Jadi di dunia ini harus jangan sampai lengah, hal-hal yang prinsip, harus betul-betul diperhatikan. Kadang-kadang ada yang tidak prinsip dipakai prinsip, dan yang prinsip dianggap remeh.