CARA MENCARI AIR HIDUP

Yang mencari air itu adalah Hajar. Hajar artinya orang yang hijrah. Jadi kalau tidak hijrah dengan sungguh-sungguh dan tidak berjuang sungguh-sungguh maka tidak akan menemukan air. Oleh sebab itu bila ingin menemukan air maksudnya air hidup dan menghidupkan haruslah hijrah dan tetap didalam hijrahnya serta harus berjuang. Bila menginginkan air hidup tapi tidak mau hijrah, mana mungkin akan bertemu dengan air hidup, mungkin yang ditemukan air keruh. Istilah dalam Alqur-an :
WA-AL LAWIS TAQOOMUU ‘ALATH THORIIQOTI LA-ASQOINAAHUM MAA-AN GHODAQOO.
“Dan jika kamu istiqomah atau kamu tetap diatas thoriqot (pokoknya tetap di thoriqot), pasti aku memberikan minuman kepada mereka yang tetap dengan air yang segar”
Jadi bila ingin mendapatkan MAA-AN GHODAQOO (air segar) atau MAA-UL ZAM-ZAM ruhaniyah, syaratnya harus istiqomah / tetap didalam thriqot. Kalau tidak istiqomah tidak mungkin bisa menemukan MAA-UL HAYAT, seperti misalnya : sekarang dzikir-besok tidak, besoknya dzikir lagi-setelah itu tidak lagi dan seterusnya. Ada yang merasa : “Aku dari dulu dzikir “, tapi dzikirnya tidak tetap, dzikirnya hanya musiman menurut kebutuhan saja, kalau sedih, dzikir tapi kalau sudah tidak sedih (sudah punya uang banyak), tidak dzikir. Kalau diwarung mulai sore sampai pagi, betah. Bila demikian bagaimana bisa mendapatkan MAA-AN GHODAQOO (air segar yang bisa menyegarkan iman, menyegarkan qolbun, menyegarkan fikiran, menyegarkan perasaan) ?.
LETAKNYA AIR HIDUP
MAA-UL HAYATUL HAQ atau MAA-IN WAAHIDIN (istilah dalam surat Arro’du) atau MAA-UL HAYAT (istilah dalam surat Al Anbiyak) atau MAA-AN GHODAQOO (istilah dalam surat Al jin) atau MAA-UN SHOFIYYUN yang sangat jernih itu adanya pada masing-masing diri manusia atau pada Insun anda. Lalu darimanakah Insun itu ? Ya dari sana, pokoknya dari sana. Sebab membahas ini adalah larangan karena termasuk ASRORILLAAH (rahasia Alloh). Malahan oleh o-rang tasawuf membuka rahasia itu bisa jadi kufur.
IKHSYAA-US SIRRI KUFRUN   (Dalam kitab Qutul Qulub)
Jadi terserah anda mau menggali sendiri apa tidak. Anda yang terlihat besar (Jawanya : njenggleng) itu ibaratnya Seno, sedangkan hati anda adalah Dewo Ruci. Berhubung tempatnya air itu berada ditempat yang sangat dalam dan banyak yang lupa, maka sumberan MAA-UL HAYAT itu banyak yang tertimbun oleh macam-macam sampah yang terkumpul selama beberapa tahun. Sehingga bila sampah-sampah itu tidak dibersihkan dengan jihad atau tidak dimujahadahi ya akan tetap tertimbun. Selanjutnya ya tetap minum air dari luar saja, karena air dari dalam tidak muncul. Karena itu, sumberannya hendaklah dibersihkan dan digali. Bukankah sudah lama tertimbun oleh macam-macam sampah, ada sampah yang dari mata, dari telinga, dari lesan dan sampahnya terus bertambah. Usianya kian berkurang, sampahnya terus bertambah, dan tidak mau membersihkan. Ada yang membaca istighfar 100 X saja, sampai satu bulan, walaupun begitu sudah merasa bangga. Padahal Nabi Muhammad yang sudah bersih dari dosa itu, tiap harinya membaca istighfar 100 X.  Jadi Nabi Muhammad yang sudah bersih saja memberi contoh. Sedangkan kita yang tiap harinya terus memproduksi dosa malah jarang membaca istighfar. Dalam hadis juga sudah diterangkan :
‘ALAIKUM BI LAA-ILAA-HA ILLALLOOH WAL ISTIGHFAR.
“Hendaklah kamu memperbanyak baca LAA ILAAHA ILLALLOOH dan ISTIGHFAR.”.
Karena itu hendaklah memperbanyak membaca LAA ILAAHA ILLALLOOH dan ISTIGHFAR. Sebab 2 itu bisa menguruskan syaithon. Dan usaha syaithon agar bisa gemuk lagi dengan cara memperdayakan manusia, yaitu berusaha memperdayakan manusia agar tidak banyak-banyak membaca LAA ILAAHA ILLALLOOH dan ISTIGHFAR. Jadi kalau kita tidak dzikir dan tidak beristighfar berarti sama dengan menggemukkan syaithon.
Begitu pula bila dzikirnya tidak istiqomah atau dzikir jika ada kebutuhan saja, seperti misalnya tanamannya kurang dapat hujan, dzikirnya serius karena supaya turun hujan, tapi setelah ada hujan turun, tidak dzikir lagi. Lain dengan yang betul-betul mengharapkan mendapat MAA-UN SHOFIYYUN (air yang jernih) yang ada pada diri kita, pasti berusaha hijrah (pindah), yaitu hijrah dari kekotoran menuju kebersihan.
(MINAL HUBSI ILATH THOYYIBI).