Diantara perintah Alloh yang bathin itu adalah ikhlas (bersih). Padahal untuk melaksanakan satu ini saja (melaksanakan perintah ikhlas) sulitnya bukan main. Bayangkan, untuk ikhlas satu hari saja sudah sangat sulit sekali, ada saja yang menggoda (kadang digoda anaknya, kadang juga digoda istrinya), apalagi ikhlas berhari-hari. Tapi bila kita itu dapat ikhlas selama 40 hari maka hati kita akan nyumber hikmah.
Belum lagi perintah sabar, juga sulitnya bukan main.
Contoh yang ringan saja, seperti misalnya ada seorang istri yang belum diberi belanja oleh suaminya. Meskipun suaminya bilang : Sabar bu ya, sabar.
Jawab si istri : Sabar-sabar bagaimana, belum diberi belanja gitu kok. Iya sampean sudah makan diwarung, sedangkan saya dari pagi belum makan. (jadi bisa geger).
Kata si suami : Ya yang sabar, memang rezekinya belum turun. Setelah bilang begitu, lalu suaminya pergi ke kamar mandi. Kemudian oleh istrinya, kopyahnya diteliti dan ternyata dikopyahnya terdapat uang yang disisipkan dicelahnya kopyah. Ya begitu itu kadang orang laki-laki.
Belum lagi perintah bersyukur. Syukur itu lebih sulit lagi karena sudah diatasnya taqwa. Sebagaimana diterangkan dalam Alqur-an :
FATTAQULLOOHA LA’ALLAKUM TASYKU RUUN.
Artinya : “Maka bertaqwalah kepada Alloh, supaya kamu menjadi syukur “. (Ali Imron / 123)
Jadi syukur itu lebih tinggi dari taqwa karena setelah taqwa baru sampai kepada syukur. Dan ini jelas lebih sulit. Tapi meski belum bisa syukur asal punya keinginan untuk bersyukur itu sudah beruntung karena sudah termasuk mempunyai cita-cita yang tinggi. Sedangkan cita-cita yang tinggi itu baik.
Dan bagi juru pidato biasanya ditiap pidatonya selalu ada ajakan untuk syukur. Seperti : Mari bersama-sama kita panjatkan syukur kepada Alloh. (Jadi diajak naik bersama-sama, karena memang sama-sama belum naik). Kadang baru belajar naik dan masih berada ditingkat bawah sudah jatuh lagi.
Biasanya kalau orang itu dalam keadaan berada (kaya) untuk syukur dan sabar itu mungkin lebih ringan. Tapi kalau dalam keadaan kurang (untuk yang dimakan besok saja sudah tidak punya), terlebih lagi anaknya sakit sudah 3 hari, jika disuruh sabar atau syukur ya bisa geger.
Misalnya dalam suatu rumah tangga, diwaktu belum punya belanja dan anaknya bertepatan sakit, kemudian suaminya berkata: Sudahlah bu, sabar dulu.
Mungkin jawab istrinya : Sabar-sabar, apakah tidak kamu lihat, anakmu sudah sakit seperti ini masih disuruh sabar dan kamu orang laki-laki yang tahu begitu kok tetap diam saja tidak kerja, ya kerja gitu, cari uang. Bukankah hutang kita juga banyak dan uang juga sekarang tidak punya. Jawab suaminya : Lha kemarin itu, kan sudah saya beri.
Kata si istri : Biasanya banyak tapi kemarin kok sedikit. Jawab si suami: Ya karena memang banyak potongan (dipotong sendiri oleh suaminya). Jadilah geger, bertengkar.
Supaya tidak geger, maka bila yang satunya kenceng (keras), ya yang satunya lagi jangan ikut kenceng (keras). Karena bila sama-sama kencengnya bisa monggo botongo (sama-sama hancur).
Ada juga yang karena tertimpa kemiskinan, si istri memarahi suaminya : Kamu itu pak-ne, sudah 18 tahun kok tetap miskin saja. Kalau begini terus ya saya minta beli surat kabar (cerai).
sehubungan dengan kemiskinan.
Ketika bulan Maulud nanti supaya diusahakan betul-betul untuk shodaqoh kepada fakir miskin. Tapi tidak hanya shodaqoh saja, hatinya harus niat mengagungkan kelahiran Nabi (YA’DZIMU MAULIDI NABI). Dan niatnya itu harus ditata lebih dulu, niat mengagungkan kelahiran Nabi. Seumpama toh hanya punya uang Rp 10.000,- saja, tetap harus diusahakan, entah Rp 1000,- atau Rp 500,-. Lebih-lebih bisa diatas Rp 10.000,-. Ini nanti dibelakangnya ada rahasia besar.