INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI ROOJI’UUN
adalah nikmat yang besar.
Di dalam ayat tersebut di sebutkan:  INNAA
Di belakang huruf NUN ada huruf ALIF.
Kalau kalimat (INNA), bila dibelakang huruf NUN tidak ada Alifnya maknanya ialah : Sesungguhnya.
Akan tetapi bila lafadznya (INNAA) yakni di belakangnya huruf NUN itu ada Huruf alifnya, maka maknanya ialah : Sesungguhnya Aku (Ingsun).
Huruf ALIF itu adalah Ingsun, Ingsun itu adalah Aku.
Kalau ALIF-nya di kasroh menjadi INSUN, sebagaimana tersebut di dalam Al Qur’an:
INSUN WALAA JAAN.
Kalau ALIF-nya di fathah menjadi AKU, AKU adalah bahasa dalam Al Qur’an :
WALAM AKU BAGHIYYA
Kalau ALIF-nya di dhomah menjadi URIP.
ALIF fathah : A
ALIF kasroh :I
ALIF dhomah : U
Kalau di baca bunyinya A – I – U ( Aku Iki Urip)        atau bisa di balik Urip Iki Aku.
Bila ALIF di fathah juga bisa di baca atau menjadi ALLOH, ALIF di kasroh menjadi INSAN. Fathah, jabar, kasroh itu semua hanya pakaian. Bila pakaian tersebut di hilangkan yang ada hanya ALIF-nya saja. Makanya ketika Nabi Musa di angkat menjadi Nabi, Musa dengan istrinya di perintahkan FASTAMI’.
Nabi Musa berkata kepada istrinya :
Dik kelihatannya kok ada api, berhubung ini padang pasir dalam keadaan gelap, sekarang kamu berhenti di sini, saya akan kesana mengambil api, karena kita ini dalam kebingungan.
Akhirnya istrinya di tinggal oleh Musa untuk mencari api, ketika sampai di tempat, api tidak ada, ternyata api itu berputar-putar di kayu Zaitun.
ZAITUUNATIN LAA SYARQIYYATIN WALAA GHORBIYYAH.
Artinya:   Pohon ( kayu ) Zaitun tidak di barat dan tidak di timur.
Supaya di renungkan kayu, apakah itu? Mengapa tidak terletak di barat atau di timur atau kayu tersebut tidak ada arah-arahnya. MUNAZZAHUN ‘ANIL JIHAD ( tanpa jihad ). Bersih dari jihad, dari bawah, atas, depan, belakang, kiri, kanan, kayu apakah itu?
Itu adalah kayu JATI atau KAYU KANGKUNG.
Kangkung itu adalah gabungan dari Kang dan Kung, Nang Neng, Sangyang Wenang, Sangyang Wening.
Wenang itu laki-laki, Wening itu perempuan.
Nung, Neng, Nang, Ning itu maknanya Bening. Nung itu adalah Dunung, kalau sudah bening bisa mendunungkan ( mengarahkan ), tapi juga harus Neng ( Meneng ). Dalamnya tidak boleh ramai. Walaupun bening tapi kalau airnya gerak tidak akan kelihatan apa-apa.
contoh :
Coba kamu ambil tempayan kemudian di isi dengan air yang bening, walaupun airnya bening tapi kalau airnya gerak ( kocak ) terus menerus, maka dari atas tidak akan kelihatan apa-apa. Jadi tidak cukup dengan bening saja harus di sertai dengan meneng.
Ananing, ananeng, ananong, anunung, anuning.
AL INSAANU SIRRI   WA ANAA SIRRUHU
MAN ‘AROFA NAFSAHU FAQOD ‘AROFA ROBBAHU
Itulah  INNAA ( sesungguhnya Aku / sak temene Ingsun).
Manakah yang di namakan Ingsun itu ?
Coba tubuh ini di pegang, mengapa tangan memegang dada? Padahal itu hanya tempurungnya saja. Bodoh kalau itu dikatakan memegang ingsun. Coba diketuk, maksudnya adalah di ketuk dengan pengertian.
INGSUN itu ALIF, ALIF itu urip, URIP itu SATU dan SATU itu LANJUT. Jadi satu dan urip itu lanjut.
Awalnya orang mengaji itu dari ALIF dan awalnya orang menghitung itu dari SATU. ALIF itu satu SATU itu ALIF.
SATU itu permulaan, SATU itu penghabisan, SATU itu genap, SATU itu juga ganjil. Sesungguhnya SATU itu tidak permulaan, tidak penghabisan, tidak genap, tidak ganjil.
Mengapa satu di sebut Permulaan?
Apakah ada orang yang menghitung tidak dari satu ( HUWAL AWWALU ).
Megapa satu juga di sebut penghabisan (akhir)?
Karena semua hitungan akhirnya pasti di satu.
Mengapa satu di sebut dhohir ?
Semua hitungan itu dhohirnya dari satu.
Mengapa satu disebut bathin ?
Karena semua hitungan pasti ada unsur satu. Di dua ada satu, di tiga ada satu, di empat juga ada satu. Lalu empat itu dari mana? Ya dari satu karena di awali dari satu.
Kalau dua, tiga, empat dari satu berarti bukan satu namanya.
Kalau tidak dari satu dari mana? Apakah ada hitungan tidak dari satu?
Supaya di renungkan ! Jadi itu namanya adalah kesatuan. Kesatuan dengan satu itu tidak sama.