Dalam kata-kata hikmah, pepatah :

AL AYYAAMU SHOHAA-IFA AAJAALIKUM
Artinya:” Hari-hari itu adalah lembaran ajalmu”.
Jadi hari-hari, tiap hari itu adalah lembaran ajal. Umur manusia itu ibarat buku, umur manusia itu kitab. Sampul pertama dan kedua itu isinya lembaran-lembaran hari, pada hal satu tahun itu isinya 360 hari, berarti setehun 360 lembar.
YUKAWWIRUL LAILA ‘ALAN NAHAARI WAYUKAWWIRUN NAHAARO ‘ALAL LAILI
Artinya:”Malam digulung di atas siang, siang digulung di atas malam”.(Az Zumar S.39 /5)
Jadi siang digulung malam, dan malam digulung siang.
AL AYYAAMU SHOHAA-IFA AAJAALIKUM
Setiap hari itu dibuka satu persatu, satu halaman, satu lampir, dan seterusnya.
Garis-garis di buku itu, saat, jam, dan tulisannya di buku itu adalah amal kita. Terserah buku umur itu, tiap-tiap diri kita ini sendiri-sendiri, terserah akan diisi apa.
  • Apakah akan kita isi catatan amal-amal sholeh
  • Apakah akan kita isi amal Syukur
  • Apakah akan kita isi amal Kufur
  • Apakah akan kita isi Hasanat
  • Apakah akan kita isi Sayyi’at
  • Apakah akan kita isi Thoat
  • Apakah akan kita isi Ma’siat
  • Apakah akan kita isi Kedholiman
  • Apakah akan kita isi Keadilan
  • Apakah akan kita isi Taubat
Itu terserah kita, apa kita corat-coret saja buku umur kita ini, apa kita robek-robek saja, kita hancurkan, kita biarkan begitu saja, apa kita kosongkan, kita tidur saja. Kalau tidur tidak dicatat, karena tidak menulis.
Jadi yang menulis itu diri kita sendiri. Misalnya, sudahlah tidur saja selama 10 tahun, atau 20 tahun. Apa ada orang yang hanya tidur saja selama 10 tahun, ini ada, jangankan 10 tahun, yang tidur selama 20 tahun saja ada kok.
Misal umurnya 60 tahun, sehari semalam itu 24 jam, yang 8 jam untuk tidur (menurut kesehatan), 8 jam untuk ibadah, dan 8 jam untuk bekerja. Kalau dikumpulkan tidur 8 jam tiap hari selama 60 tahun itu berapa tahun, maka akan ketemu 20 tahun, isinya tidur saja. Jadi selama 20 tahun itu tidak ada tulisannya, kosong, yang ada hanya GHUR…. suara mendengkur.
Jadi terserah kita, akan diisi apa, nanti setelah wafat, nanti kita akan membawa catatan yang kita catat selama di dunia. Kitab yang ada di seluruh dunia ini semua kita tinggalkan, tidak ada yang kita bawa, dan cuma kitab kita sendiri yang kita bawa. Yang kita bawa itu kitab basah, bukan kitab garing (kering), bukan kitab putih dan kitab kuning, tapi kitabul umur (namanya kitab umur).
Jadi tiap-tiap manusia itu membawa kitab, namanya kitab umur, cuma satu itu yang kita bawa. Isinya catatan-catatan apa yang dikerjakan di dunia ini. Dan nanti di akhirat akan dibuka, dan disuruh membaca sendiri-sendiri. (Lho …saya tidak bisa membaca, saya buta huruf..!). Tidak ada di akhirat yang namanya buta huruf.
IQRO’ KITAABAKA KAFAA BINAFSIKA
Artinya:”Bacalah kitabmu, cukup dengan dirimu sendiri”.(Al Isro’ S.17 /14)
Perintahnya
IQRO’      : Bacalah * apa yang dibaca !
KITAABAKA    : Kitabmu
BINAFSIKA     : Cukup dengan dirimu sendiri.
Jadi kitabmu itu dirimu, dan dirimu itu juga kitabmu. Kita itu kitab, kitab itu kita. Kita itu kitab, karena kitab-kitab yang ada di dunia ini semua keluarnya dari kita. Dan yang diceritakan dalam kitab itu juga kita. Jadi kita itu yo kitab, kitab yo kita.
Ada yang kitabnya itu satu perpustakaan, merasa bangga, dipajang-pajang. Saya sering mengetahui di TV-TV itu, kitab-kitab dipajang di belakangnya, kitab-kitab yang besar, menunjukkan kalau dia itu pintar.
Sebodoh-bodohnya orang itu,orang yang tidak bisa membaca kitabnya sendiri. Kitab yang paling dekat tidak dibaca, yang sering dibaca kitab putih, kuning, sampai kitab kelabu juga dibaca. Sedangkan kitabnya sendiri nggedibal (lusuh).
Jadi kita itu kitab, kitab yang berjalan, ini yang bakal dibawa, kitab abadi, kitab yang langgeng. Kitab yang lain semua ditinggal di dunia. Kalau kamu tidak mencatat yang rajin, yang baik, akan menunggu apa, kapan lagi akan menulisnya. Apa mau menulis di sana (akhirat) ya… pukuli malaikat. Menangis di akhirat itu,” Yaa Alloh saya minta ampun..”. Dijawab malaikat :”Bukan tempatnya untuk minta ampun, tempatnya di dunia sana”.
Mereka membaca :
ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALA MUHAMMAD
Malaikat :               Bukan tempatnya orang  membaca Sholawat.
baca        :               ASTAGHFIRULLOH.
Malaikat :               Bukan tempatnya minta ampun.
baca        :               SUBHAANALLOH
Malaikat :               Bukan tempatnya baca tasbih
baca        :               LAA ILAAHA ILLALLOH
Malaikat :               Keplak (pukul), sudah dibilang bukan tempatnya, tempatnya menggedekkan kepala dengan LAA ILAAHA ILLALLOH itu di dunia sana. Dulu kamu di sana (dunia) nggedek saja, tapi bukan nggedeknya dzikir, namun karena kebanyakkan pil koplo.
Katanya kalau menyesal itu taubat..? Betul itu taubat, tapi waktunya bukan di sini (akhirat) tapi di sana (di dunia). ATTAUBAT itu ANNADAM. Di sini menangis itu tidak ada manfaatnya apa-apa.
Mereka merintih dengan ucapan :
Saya sekarang percaya, sekarang saya Iman, sekarang saya yaqin benar kehidupan akhirat.
Imanmu itu tidak ada manfaatnya apa-apa, manfaat Imanmu itu waktu ada di dunia sana. Kamu begitu sudah kelihatan, baru percaya, dulu-dulu tidak percaya.
YUKMINUUNA BIL GHOIB
Iman kepada yang Ghoib.
Kamu di sana main-main saja, yang kamu bawa itu nggedibal (kotoran), aspal setebal ini kamu bawa, menempel pada dirimu. “Apakah saya tidak bisa masuk syurga…?”. Syurga itu kan tempatnya orang yang bersih, sedang kamu nggedibal (kotor) seperti itu. ya… bisa masuk, tapi ya dicuci dulu, disesuaikan dengan tempatnya. Jadi ada pencuciannya, di mana tempatnya, tinggal pilih.
  • Apa di Jahannam,
  • Apa di Khuthomah.
  • Apa di Khuthomah.
  • Apa di syair.
  • Apa di Jahiim,dsb.
Itu nama-nama tempat pencuciannya.
Semua itu ada 7 macam, dan semuanya hebat, sebagai tempat penyucian.“Itukan nama neraka….?” Bukan… itu tempat pencucian, menyuci kamu biar bersih. “Kok lama, dalam penyucian..?”. Memang kotorannya tebal kayak gitu, ya pasti lama. Kamu di dunia kan tidak sempat mencuci.