KETERANGAN TENTANG IBLIS DIDALAM AL QUR’AN
1.     Iblis mengakui bahwa Alloh itu sebagai Kholiq (pencipta). Tersebut didalam Al qur-an surat Al A’roof / ayat : 12 :
Artinya : Iblis berkata :” Ya Tuhan Engkaulah yang menjadikan kami “
2.     Iblis juga mengakui bahwa dirinya itu adalah makhluq ( ciptaan Alloh) sebagaimana pengakuan Iblis dalam Surat Al A’roof ayat 12 ( sama dengan ayat di atas ). Maka kalau ada manusia yang tidak mengakui atau tidak merasa bahwa dirinya itu adalah ciptaan (makhluq ) berarti masih lebih baik Iblis. Dan kenyataanya ada sebagian manusia yang mengaku bahwa dirinya itu bukan ciptaan (makhluq ) akan tetapi tercipta karena qodrat alam ( saya adalah materi dan saya beasal dari materi dan akan kembali kepada materi)
        ” Ini adalah Faham Matrialistis “
Jika demikian berarti lebih baik Iblis, karena Iblis itu masih mengakui bahwa dirinya itu adalah makhuq ( ciptaan ) dan juga tidak mengaku sebagai Tuhan.
Artinya ” Engkaulah yang menciptakan aku”
3.     Iblis mengakui bahwa yang Kuasa memberikan hidup dan mati itu adalah Alloh. Sebagaimana permohonan Iblis di dalam Surat Al A’roof /12.
artinya : ” Tangguhkanlah hidupku sampai hari qiyamat “
4.     Iblis mengakui bahwa yang kuasa   memper­panjang hidup adalah Alloh Ta’ala, tanpa pertolongan Alloh tidak akan dapat hidup panjang di dunia, sebagaimana diterangkan didalam Surat Al A’roof ayat 14:
artinya : ” Tangguhkanlah hidupku sampai hari qiyamat “
5.     Iblis tidak mempunyai kemampuan untuk memperpanjang hidupnya ( Al A’roof /14 ).
artinya : ” Tangguhkanlah hidupku sampai hari qiyamat “
6.     Do’a Iblis dikabulkan oleh Alloh.
        Karena Iblis memohon kepada Alloh Agar hidupnya ditangguhkan ( al A’roof / 14 )
artinya : ” Tangguhkanlah hidupku sampai hari qiyamat “
Kemudian oleh Alloh do’anya Iblis iitu dikabulkan, diterangkan dalam ayat selanjutnya :
Artinya : ” Sesungguhnya engkau adalah termasuk mereka yang ditangguhkan”.
7.     Iblis itu pernah wawancara dengan Alloh, ini diterangkan sendiri oleh Aloh di dalam Al Qur’an, diantaranya adalah dalam ayat : ( Al Hijr / 36-38 )
Artinya :” Iblis berkata ” Ya Tuhanku tangguh­kanlah aku sampai hari qiyamat ” ( 36) Alloh Berfirman ” Sesungguhnya Engkau termasuk mereka yang ditangguhkan (37) Sampai waktu yang ditentukan”.
8.     Iblis itu juga Ma’rifatulloh.
Buktinya Iblis itu pernah wawancara dengan Alloh, sebagaimana diterangkan didalam surat Al A’roof ayat 12 :
Artinya : ” Alloh Berfirman ” Apakah yang men­jadi penghalang sehingga engkau tidak mau sujud, ketika Aku memerintah kamu ?”. Jawab Iblis : ” aku lebih baik dari pada Adam. Engkau telah menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakan Adam dari tanah “
Keterangan :
Jadi didalam Al qur’an diterangkan bahwa :
1.  Iblis itu percaya bahwa Alloh itu sebagai ROBBUN ( Tuhan ).
2.  Iblis mengakui bahwa tidak ada Tuhan lainya Alloh ( tidak musyrik).
3.  Iblis mengakui bahwa yang berkuasa itu adalah Alloh. Dan kebanyakan manusia yang mengatakan bahwa uang itu kuasa. Malah sampai dianggapnya sebagai Tuhan, (ini adalah memberhalakan uang). Ada juga yang memberhalakan kedudukan, memberhalakan pujian orang, memberhalakan lafadz, dan lain-lain.
4.  Iblis mengakui bahwa dirinya itu adalah makhuq(ciptaan
Alloh Ta’ala ).
5.   Iblis mengakui bahwa Alloh Ta’ala itu adalah Kholiq.
6.  Iblis mengakui bahwa dirinya itu tidak dapat memperpanjang hidupnya sendiri.
7.  Do’anya Iblis itu dikabulkan oleh Alloh.
Tetapi mengapa dia itu dilaknati oleh Alloh?. Padahal Iblis itu telah banyak menerima nikmat-nikmat yang banyak dari Alloh Ta’ala, seperti :
1.  Nikmat Hayat.
2.  Nikmat Wujud.
3.  Nikmat akal.
4.  Nikmat iman.
5.  Nikmat Ma’rifat.
6.   Nikmat ilmu, itu mendapatkan laknat dari Alloh Ta’ala ?
Alloh Ta’ala berfirman didalam Al qur’an : (Al Hijr 34-35 )
Artinya : ” Keluarlah kamu dari surga, karena sesungguhnya kamu itu terkutuk (34) Dan sesungguhnnya kutukan itu tetap menimpa sampai pada hari qiyamat (35)”.
Jadi Iblis itu sepanjang hidupnya dilaknati oleh alloh (tertutup hatinya sampai hari qiyamat).
Selanjutnya apabila sepanjang hidupnya dilaknati oleh Alloh, maka apakah arti hidupnya ?. Walaupun diberi umur yang panjang, berilmu, berma’rifatulloh, tetap tidak akan ada artinya.
 Jadi jelaslah bahwa hidup haqiqi atau hidup sejati itu adalah hidup yang tidak demikian itu…