SURGA DAN NERAKA

Pada Postingan terdahulu yang berjudul HIKMAH REINKARANASI , mestinya ada kelanjutan bahasan. Dikarenakan kesibukan kami maka lanjutannya baru bisa kami sampaikan Sekarang. Alangkah baiknya Saudara membaca kembali postingan terdahulu .

Jika reinkarnasi itu adalah siklus hidup-mati yang terus berulang, apakah akan ada akhirnya? lalu kemana surga dan neraka yang dijanjikan Tuhan ? Nah jangan salah mengira bahwa reinkarnasi itu tidak ada ujungnya. Reinkarnasi tentu ada akhirnya!

Siklus hidup-mati (roda samsara) akan berakhir manakala manusia menyempurnakan dirinya sehingga dapat kembali kepada-Nya. Innaalillahi wa innaa ilaihi raajiuun (sesungguhnya kita berasal dari Allah dan akan kembali pada Allah). Kalimat ini sering diucapkan oleh banyak umat Islam tapi jarang yang menyadari bahwa kalimat itulah yang harus menjadi tujuan akhir dari seluruh perjalanan hidup manusia yakni kembali kepada-Nya. Kata “kembali” pada ayat diatas tentu maksudnya adalah benar-benar kembali kepada Tuhan, bukan masuk ke surga apalagi neraka.

Loh… bukankah tiap orang yang mati itu bermakna sudah kembali kepada-Nya? Ya tentu saja tidak. Wong masuk neraka ya jelas belum kembali pada Tuhan, apalagi yang matinya bunuh diri. Tuhan itu Maha Suci jadi hanya orang suci yang bisa kembali kepada-Nya. Surga pun hanya imbalan dari Tuhan agar manusia makin menyempurnakan dirinya.

Dalam Q.S 32:9, 21:91, 15:29 telah dinyatakan bahwa ruh-Nya ditiupkan ke diri manusia agar ciptaan-Nya (manusia) makin sempurna. Manusia menjadi hidup karena adanya ruh dari Sang Maha Hidup. Dan karena ruh itu adalah ruh-Nya maka pastilah akan kembali kepada-Nya cepat atau lambat. Adapun surga dan neraka sebenarnya hanyalah alam-alam ciptaan Tuhan dimana tiap-tiap manusia akan melewatinya. Ibarat tangga yang akan menuju kepada-Nya, surga dan neraka adalah titian tangga yang memang harus dilewati tiap manusia. Oleh karena ada manusia yang mendapat surga, neraka dan yang telah kembali kepada-Nya maka Al Quran pun membagi manusia menjadi tiga golongan.

Mari simak ayat berikut :

Dan kamu menjadi tiga golongan, yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan itu dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan itu. Dan orangorang yang beriman, merekalah yang paling depan. (Q.S Al Waaqi’ah (56) :7-10)

Golongan kanan pada ayat diatas adalah yang akan mendapat surga. Golongan kiri adalah mereka yang mendapat neraka. Sedangkan orang-orang yang beriman inilah orang yang terdepan, terunggul sehingga ia mampu kembali kepada-Nya dengan jiwa yang tentram sebagaimana disampaikan pada ayat berikut ini :

Hai jiwa yang tentram, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas (rela) dan diridhoi-Nya. (Q.S Al Fajr (89) : 27-28)

Manusia yang telah kembali kepada-Nya, dalam istilah jawa disebut juga moksa. Begitu meninggal langsung manunggal dengan Tuhannya tanpa melalui neraka, tanpa melalui surga. Semua alam ciptaan-Nya telah di bypass. Manusia yang memiliki kualitas sebagaimana Nabi, Rasul dan para wali-Nya adalah mereka yang mampu kembali kepada Tuhannya secara sempurna.

Di ayat berikut akan nampak jelas bahwa Nabi, Rasul dan para wali-Nya tidak berada disurga melainkan ditempat yang tertinggi dan senantiasa menyaksikan kehidupan manusia yang masih di ada di surga dan neraka :

Dan diantara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan diatas tempat tertinggi (a’raaf) itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. (Q.S Al A’raaf (7):46)

Bagi para Nabi, Rasul atau para wali, surga bukanlah tujuan utama mereka. Salah seorang sufi ternama wanita abad ke IX M, Rabiah Adawiah justru mengusung slogan “Membakar surga, menyiram neraka”. Simak pusinya berikut ini :

Bila aku beribadah kepada Engkau, Ya Allah, karena mengharap surgaMu,
maka jauhkanlah surga itu dariku.
Bila aku beribadah kepada Engkau, Ya Allah, karena takut api nerakaMu
maka biarlah aku masuk api nerakaMu,
Asalkan Engkau tidak meninggalkan aku”.

Rabiah berpuisi seperti itu karena ia sangat tahu bahwa surga dan neraka bukanlah terminal akhir perjalanannya. Kerinduan untuk kembali kepada-Nya adalah segalanya karena kebahagiaan yang kekal akan menjadi miliknya. Inilah terminal akhir yang sesungguhnya.

Surga dan neraka tidaklah kekal karena kekekalan atau keabadian cuma Allah semata. Surga dan neraka adalah ciptaan Allah. Tiap ciptaan pasti pasangannya kematian. Manusia diciptakan maka manusia dimatikan juga. Ada awal pasti ada akhir. Cuma Allah lah yang tiada berawal dan berakhir sehingga Allah tidaklah sama dengan ciptaan-Nya sendiri. Kalau di Quran disebut surga dan neraka adalah alam yang kekal maka hendaknya jangan ditafsirkan secara harfiah. Hidup seribu tahun di neraka menurut ukuran manusia bisa jadi bagaikan tinggal di neraka selama-lamanya. Jadi kata “kekal” bermakna relatif yakni suatu ukuran waktu yang dirasakan sangat lama oleh manusia.

Manusia yang belum mampu kembali kepada Allah, akan tetap terus mengalami siklus hidup mati, sampai akhirnya sempurna dan mampu manunggal (menyatu) dengan Tuhannya. Manunggal dengan Tuhan tentunya tidak mudah. Tidak mudahnya dimana? Namanya manunggal dengan Tuhan berarti kita terlebih dahulu harus mengenal Allah (makrifatullah). Seseorang harus mampu mengenal Allah melalui Af’al-Nya, Asma-Nya, Sifat-Nya dan Dzat-Nya.

Dalam proses mengenal Allah tentunya kita juga harus berusaha mengendalikan hawa nafsu dan memiliki ahlak yang baik. Nabi SAW bersabda : “Berbudi pekertilah kamu sebagaimana budi pekerti Tuhan”. Coba pikir… umur manusia rata-rata hanya sekitar 65 tahun, bagaimana mungkin memiliki budi pekerti sebagaimana budi pekerti Tuhan hanya dengan “modal” umur puluhan tahun. Tentu saja sulit dan untuk itu manusia memerlukan perjuangan dan perjalanan yang panjang untuk mencapai kualitas budi pekerti Tuhan.

Loh koq Nabi SAW bisa? ya tentu saja, karena Nabi SAW usia ruhnya sudah sangat tua, sudah banyak makan asam garam kehidupan melalui proses mati-hidup yang berulang. Jangan melihat usia fisik nabi yang hanya mencapai 63 tahun. Tapi sadari bahwa usia ruh beliau sangat tua. Makannya di Quran disebut bahwa Nabi SAW adalah suri teladan yang baik. Suri teladan ya berarti bisa di contoh, dan tiap manusia pasti cepat atau lambat akan mampu mencapai kualitas Nabi SAW atau para nabi  yang lainnya.

Janganlah kita pesimis apalagi berpendapat bahwa manusia tidak ada yang bisa menyamai para Nabi dan Rasul. Semua manusia diberi kesempatan yang sama oleh Allah untuk mencapai kesempurnaan diri (insan kamil). Kita harus bisa mencontoh senior kita, baginda Nabi SAW, meski untuk mencapai kualitas nabi harus melalui siklus hidup dan mati ratusan ribu atau mungkin jutaan kali. Semakin banyak menebar kebajikan di bumi ini maka semakin cepat ruhani akan mencapai kesempurnaan untuk  kembali kepada-Nya.

Nah, untuk kembali kepada-Nya sebenarnya sangat logis dan masuk akal jika manusia memerlukan waktu yang sangat panjang. Di Al Quran telah disebutkan:

Malaikat-malaikat dan Jibril menghadap Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. (Q.S Al Ma’aarij (70) :4)

Berdasarkan ayat diatas, perjalanan satu hari malaikat untuk menghadap Tuhan adalah sama dengan 50.000 tahun. Asumsi kecepatan malaikat adalah kecepatan cahaya yakni 300.000 km/detik. Pada saat ayat tersebut diturunkan, manusia kira-kira baru bisa menempuh perjalanan 100 km dalam sehari. Ini artinya perjalanan sedetik malaikat sama dengan perjalanan manusia 3.000 hari atau sekitar 8 tahun. Jadi untuk perjalanan menghadap Tuhan dalam satu hari malaikat perlu waktu lebih dari 200 miliar tahun bagi manusia. luar biasa !!

Hitung-hitungan sederhana diatas membuktikan bahwa satu kali perjalanan hidup manusia sama sekali tidak ada apa-apanya. Bagaikan sebutir pasir di padang gurun yang luas. Terlalu pendek dan tidak masuk akal bagi manusia untuk kembali kepada- Nya hanya dengan modal umur puluhan tahun saja. Seorang filsuf jenius Perancis,Voltaire malah mengatakan : “kelahiran dua kali tidak lebih mengherankan daripada kelahiran sekali”.

Bagi yang sudah mampu kembali kepada-Nya seperti para Nabi, Rasul dan para wali, jelas mereka tidak tinggal di surga melainkan telah berada ditempat tertinggi, manunggal dengan Tuhannya sehingga kenikmatan bersama-Nya bersifat kekal dan abadi. Inilah yang disebut “surga” yang tertinggi. Kebahagiaan yang dirasakan adalah kebahagiaan absolut yang berada diluar jangkauan angan-angan. Kebahagian yang lahir dalam “Diri” sendiri, bukan kebahagiaan yang datang dari luar dirinya. Inilah kebahagiaan kekal yang tidak bisa digambarkan oleh pikiran kita. Tentu hanya mereka sendiri yang bisa merasakannya.

Tak seorang pun mengetahui kebahagiaan yang disembunyikan bagi mereka, sebagai imbalan terhadap kebajikan yang mereka lakukan.(Q.S As Sajdah (32) : 17)

Surga yang masih merupakan alam ciptaan Tuhan, sesungguhnya adalah target jangka pendek bagi manusia. Dikarenakan manunggal dengan Tuhan memang tidak mudah, paling tidak manusia diharapkan minimal mendapat surga dengan perbuatan yang baik selama hidupnya sekarang. Itulah sebabnya iming-iming surga banyak disebut di Quran dan Hadist. Dengan melalui tangga-tangga surga, maka kita akan lebih cepat sampai kepada-Nya ketimbang mereka yang kualitasnya masih level neraka.

Nah, dimanakah sebenarnya letak surga dan neraka itu? Banyak yang tidak menyadari bahwa bumi tempat kita tinggal inilah salah satu surga sekaligus neraka ciptaan-Nya. Tentu bumi ini bukanlah satu-satunya ciptaan Allah, melainkan banyak bumi (planet) lain yang juga diciptakan Allah. Jadi surga dan neraka itu adanya dibumi yang diciptakan Allah dengan kualitas yang berbeda-beda (bertingkat). Di Al Quran telah dijelaskan bahwa surga ternyata memiliki berbagai tingkatan :

Tetapi orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhannya mereka mendapat tempat yang tinggi, diatasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Allah telah berjanji dengan sebenar-benarnya. Allah tidak akan memungkiri janji-Nya. (Q.S Al Zumar (39) : 20)


Surga atau planet sebagaimana yang dijelaskan pada ayat tersebut ternyata memiliki jarak yang lebih jauh dan juga kualitas alam yang lebih baik daripada bumi yang kita tempati sekarang ini. Semakin tinggi kualitas surga tentu akan semakin nyaman manusia tinggal didalamnya. Kualitas air yang jauh lebih sehat dan nikmat untuk diminum, kualitas buah-buahan yang ranum dan lebih cepat berbuah kembali seakanakan tidak pernah habis, kualitas fisik manusia yang lebih rupawan dan lain sebagainya. Dengan banyaknya tingkatan surga inilah maka di Al Quran disebut bahwa surga itu seluas langit dan bumi. Tentu surga sebagaimana ayat diatas bisa kita dapatkan asal kita banyak menebar kebajikan.

Semakin banyak kita berbuat kebajikan maka semakin tinggi pula kualitas surga yang bisa didapatkan. Namun sebaliknya, semakin buruk perbuatan kita maka yang di dapat pun akan buruk pula yakni bumi yang dipenuhi oleh kesengsaraan hidup. Bumilah tempat manusia menerima buah dari segala yang dikerjakannya, sebagaimana firman Allah di Al Quran :

Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya dan mereka tidak akan dirugikan. (Q.S Al Jaatsiyah (45) : 22)

Jadi, bagi kita yang merasakan kedamaian hidup di bumi yang sekarang kita pijak ini berarti kita mendapat surga. Bisa jadi dengan mendapat materi yang cukup, keluarga yang sakinah, kematangan spiritual dan berbagai kebahagian hidup lainnya. Sebaliknya bagi kita yang merasa di dunia mengalami kesengsaran hidup yang seakan tiada putusnya maka berarti kita mendapat neraka. Jadi, surga itu sebenarnya bermakna kebahagiaan batiniah dan neraka bermakna kepedihan batiniah. Jadi yang ingin dituju dari pengertian surga dan neraka sebenarnya bukanlah fisik buminya melainkan batin manusia yang menempatinya.

Nah, oleh karena batin itu bukan benda maka dalam Al Quran, surga atau neraka dijelaskan secara metafor (perumpamaan) dan perumpamaan surga dalam Quran pun di sesuaikan dengan iklim alam bangsa Arab pada saat itu yang panas dan gersang. Dengan menggambarkan surga seperti taman yang indah maka diharapkan mereka terpikat dengan surga sebab surga seperti itu memang kontras sekali dengan iklim mereka yang panas dan gersang. Tidaklah heran jika ada orang Arab yang pergi ke puncak Ciawi, Jawa Barat akan terpana seakan-akan melihat surga yang disebut-sebut oleh Al Quran.

Permisalan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa ialah suatu lingkungan yang didalamnya mengalir sungai-sungai. Segalanya serba berkekekalan. Begitu pula naungannya. Itulah tujuan bagi orang-orang yang bertaqwa. Adapun akhir bagi mereka yang kafir adalah api. (Q.S Ar Ra’d (13) : 35)

Nah, jika orang bertakwa mendapat surga maka sebaliknya mereka yang kafir balasannya adalah api. Tapi bukan api yang sesungguhnya. Ini adalah permisalan. Kalau neraka itu benar-benar api yang membakar maka tentunya manusia tidak akan sempat bertengkar di dalam neraka sebagaimana yang diceritakan pada ayat berikut :

Dan mereka sedang bertengkar di dalam neraka. Demi Allah : “sungguh kita dahulu dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam”. (Q.S As Syu’araa (26) : 96-98)

Sesungguhnya itu pasti terjadi, yaitu pertengkaran penghuni neraka. (Q.S Shaad (38) : 64)

Jelaslah bahwa neraka adalah ancaman nyata sekarang ini. Jika manusia melakukan perbuatan kafir (melakukan perbuatan keji dan mungkar) di muka bumi ini sudah tentu neraka pun akan tercipta dengan sendirinya. Makannya itu di Al Quran kita banyak sekali mendapati ayat yang memerintahkan manusia agar tidak berbuat kerusakan dibumi. Ini mengandung arti bahwa kehidupan kita dibumi yang sekarang masih akan berhubungan dengan kehidupan yang akan datang. Bumi adalah salah satu surga sekaligus neraka-Nya. Lah kalau kita sekarang berbuat kerusakan dibumi lalu bagaimana surga bisa terwujud kelak? Bumi rusak ya berarti surga juga rusak. Tidak ada lagi kebahagaian (surga). Yang muncul malah kesengsaraan (neraka).

Dari penjelasan-penjelasan diatas kita bisa memahami bahwa keadaan surga dan neraka hanyalah permisalan. Surga dan neraka intinya adalah tentang kebahagiaan dan penderitaan batin. Surga dan neraka bukan alam yang terpisah. Surga dan neraka adalah suatu perumpamaan (simbol) yang menjelaskan keadaan jiwa atau batin yang dialami manusia. Al Quran banyak menggunakan simbol agar ia bisa dipahami untuk segala tingkat intelektualitas. Kebanyakan dari kita hanya mampu menafsirkan Quran secara harfiah (teks belaka), hanya sedikit yang mempunyai kemampuan menafsirkan Al Quran secara mendalam.

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.(Q.S Al-Ankaabut (29) : 43)

Untuk lebih memahami bahwa surga dan neraka bukanlah alam yang terpisah, coba kita simak ayat yang berikut ini:

Dan bersegaralah kamu kepada ampunan Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya selangit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Q.S Ali Imran (3) : 133)

Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapat) ampunan Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi…. (Q.S Al Hadid (57) : 21)

Sahabat nabi pernah menanyakan makna ayat diatas : “Dimana neraka ya Rasulullah bila surga itu luasnya sama dengan luas seluruh langit dan bumi?” Lalu Rasulullah menjawab dengan bijak : “Dimanakah malam bila siang telah datang?”. Kata Rasul tersebut jelas sekali menerangkan bahwa surga dan neraka bukanlah alam yang tepisah.

**