Nikmatul hayat ( nikmat hidup ) itu adalah suatu nikmat besar yang dianugerahkan Alloh kepada manusia.

Disebut nikmat besar, karena :
1.     Nikmat hidup itu adalah nikmat yang pertama, sebagaimana disebutkan didalam Al qur’an :
Artinya : ” Mengapa kamu kufur kepada Alloh padahal tadinya kamu mati, lalu Alloh menghidupkan kamu “
Jadi manusia itu asalnya mati ( Amwaatan), kemudian dihidupkan ( Faahyaakum ). Maka bisa dikatakan bahwa nikmat hidup itu adalah nikmat besar pertama yang diberikan kepada manusia.
2.     Nikmat hidup itu adalah ” Nikmat asasi” (nikmat pondasi), bagi seluruh nikmat-nikmat yang diberikan Alloh kepada kita.
Adapun bukti-buktinya kalau ” Nikmat hidup adalah nikmat pondasi “, ialah :
  1. Seandainya mata kita sudah tidak dapat megetahui sesuatu, tetapi telinga kita masih bisa menikmati suara.
  2. Seandainya telinga kita tidak bisa menerima suara sebab pekak, hidung kita masih bisa menikmati bau harum.
  3. Seandainya hidung kita pilek, tidak bisa menikmati bau haruk, kita masih bisa menikmati lezatnya makanan.
  4. Akan tetapi coba bayangkan, nikmat hidup kita yang dicabut oleh Alloh, nmka semua nikmat-nikmat lainya akan rontok ( baik nikmat mata, telinga, hidung, dan sebagainya, semuanya akan roboh ), karena nikmat pondasinya itu hilang.
JADI YANG PUNYA LAKON DIDUNIA INI ADALAH: “NIKMATUL HAYAT”
Kita juga diperintah oleh Nabi Muhammad SAW, untuk memperbanyak ingat akan robohnya nikmat almaut / mati.
artinya :” Bersabda Rosululloh SAW: “Hendak­l­ah kamu bayak-banyak ingat akan robohnya nikmat yakni al maut “
Menurut hadits ini, kita diperintah banyak-banyak ingat ( aksiru ) akan mati. Bukan sedikit ingat ( aqollu ) akan mati.
Meskipun begitu banyak orang yang takut mengingatnya. Jangankan banyak ingat, mengingat sedikit saja sudah takut, ( seperti tetangganya mati saja tidak berani keluar, kuatir kalau hidup lagi ).
NIKMAT BESAR YANG PALING BANYAK DILUPAKAN
Akan tetapi sayang sekali, diantara nikmat-nikmat yang tak terbilang banyaknya itu, yang paling banyak dilupakan oleh manusia adalah nikmat hidup.
Coba dihitung, berapa kali setiap hari kita ingat akan nikmatul hayat ? Jarang sekali .
Kebanyakan lupa akan ” Nikmatul Hayatnya sendiri “, sehingga banyak pula yang tidak merasakan nikmat hidupnya, yang dirasakan hanyalah nikmat yang cabang-cabang saja ( nikma yang kecil-kecil ), seperti: Nikmatnya minum, makan, mendapat laba pekerjaan, nikmat dipuji orang, nikmat usahanya berkembang, dan sebagainya.
Jadi nikmat yang paling dekat kepada dirinya sendiri ( nikmat pondasinya ) itulah yang paling banyak dilupakan.
TANDA ORANG YANG TERHIJAB AKAN NIKMAT
         Di dalam kitab Tasyawuf tingkat tinggi, yaitu kitab AL HIKAM diterangkan bahwa : ” Tanda-tandanya orang yang terhijab akan nikmat ialah kalau nikmat itu sudah dirubah atau dicabut, mereka baru sadar bahwa yang dicabut itu adalah nikmat, akan tetapi kalau dikembalikan lagi, mereka lupa kembali “.
Sebagai concoh :
1      Diwaktu mata sehat, telinga sehat, lesan sehat, ini tidak terasa bahwa semua itu adalah nikmat. Tetapi setelah nikmat sehatnya mata / telinga/ lesan itu diganti dengan sakit barulah terasa bahwa sehatnya semua itu adalah merupakan nikmat.
2      Diwaktu kakinya sehat, berjalan setiap hari ribuan langkah tidak terasa bahwa itu adalah nikmat, baru kalau sudah lumpuh akan terasa bagaimana nikmatnya orang bisa berjalan.
3      Ada orang yang sehat satu tahun, kemudian sakit selama 15 hari, yang dirasakan, yang diceritakan hanya sakitnya yang lima belas hari itu. Sehatnya yang satu tahun tidak dirasakan dan tidak diceritakan. Mengapa mereka tidak bilang : ” Saya mengalami sehat sudah lama (satu tahun ) atau saya sedang dikasih pahala sakit “. Sebenarnya jika diberi pahala sakit itu harus berterima kasih, bukankan yang diharap-harap setiap hari itu pahala ?.
4      Didalam melakukan usaha, biasanya selama usahanya berhasil dia mengaku bahwa itu adalah berkat usahanya sendiri, lupa kepada Alloh. Akan tepapi kalau sudah bangkrut, baru mengatakan ini adalah takdir Alloh.
5      Kalau menjadi pengantin diklaim usahanya sendiri, akan tetapi kalau sudah bercerai baru dikatakan ini adalah takdir Alloh. Jadi yang tidak enak saja dilempar kepada Alloh.
Memang diantara sifat manusia itu adalah Nggremengan ( suka menggerutu ).
  • Disuruh ibadah menggerutu ( keluar rewelnya).
  • Diberi hujan menggeritu, tidak diberi hujan juga mengggerutu.
  • Dagangan laris menggerutu, dagangan tidak laku juga menggerutu.
Dan ini sesuai dengan Al Qur’an :
Artinya : ” Dijadikan manusia itu serba menggerutu / ngersulo “
Itu semua adalah tanda-tanda / alamatnay orang yang tertutup dari nikmat Alloh, baru terasa nikmatnya kalau sudah dicabut, atau dirubah.
Akan tetapi kalau dikembalikan lagi tidak terasa bahwa itu adalah nikmat.
Jadi berapa persen manusia yang tidak tertutup itu? dan kita dapat mengukur diri kita masing-masing, diposisi manakah kedudukan kita, tergolong terhijab atau tidak ?.
Dari keterangan tersebut diatas dapatlah disimpulkan bahwa :
Walaupun nikmat hidup itu satu nikmat yang besar, akan tetapi kalau belum menjadi hidup yang sejati indalloh adalah seperti buih, tiada nilainya bagi Alloh meskipun hidupnya sampai seribu tahun.
Contoh Hidup laksana buih.. DI SINI