Assalamualaikum Wr Wb

Allah SWT berfirman : “Jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu ( thoriqoh ), sungguh Kami akan memberi minum kepada mereka air yang menyegarkan dan karunia yang cukup banyak”. ( Al-Jin : 16 ).

Ada catatan dari Prof. Dr. Pfeiffer ( warga Belanda dan Dosen UI 1930 ), tentang keunikan dalam konflik thoriqoh. Beliau menulis, bahwa Sayyid Ali At-Thayyib Al-Hasani diundang ke Indonesia, dalam kunjungan beliau sebagai seorang Mufti Syafi’i ( beliau adalah Ayah dari Sayyid Muhammad al-Hasani ). Ada satu ucapannya yang cukup menggemparkan, bahkan menjadi konflik internal bagi pengamal thoriqoh, beliau berfatwa bahwa Syaikh Abul Abbas Ahmad at-Tijani ra berkata : “20 orang dari khalifah-ku lebih utama dibandingkan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani”. Maka langsung saja hal ini menjadi per debatan yang serius dan berpolemik serta mengacaukan pemi kiran umat Islam khususnya para pengamal  thariqah Qadiriyah.

Kemudian ( tahun 1989 ) saat saya ( penulis ) mengun jungi pesantren Buntet di Cirebon, disana semua orang justru mampu hidup rukun dan bersaudara, padahal di Buntet para kyai mengamalkan beragam thoriqoh, diantaranya ( thoriqoh Tijaniyah, Syathariyah dan Khalwatiyah ) Kaum Tijaniyah tetap beramaliyah dengan khusyu’ sementara ahli thariqah di luar itu ( Syathariyah & Khalwatiyah ) malah mampu ngemong dan menjalani semua kebersamaan itu dengan damai.

Bahkan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari pernah berdialog langsung dengan Syaikh Abbas ( Muqaddam Thariqah Tijaniyah ) dan menanyakan perihal kontroversi dan bahaya konflik tentang fatwa Syaikh Ahmad at-Tijani tersebut. Syaikh Abbas dan adiknya Syaikh Anas, mengakui dan menyatakan bahwa KH Hasyim Asy’ari adalah guru mereka dan mereka berdua sangat menghormatinya. Namun untuk urusan thariqah ini, adalah dimensi yang berbeda dan kami tidak akan mening galkan pendapat Mursyid Thariqah kami dan berpindah paham menuruti pendapat KH. Hasyim Asy’ari, walaupun beliau ini adalah guru kami dan ulama besar pendiri NU. Inilah keteguhan pendapat seorang murid thariqah yang berpegang teguh kepada perintah Mursyid pembimbingnya, walaupun kontroversi dengan ajakan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Maka akhirnya semua menjadi maklum.

Yang unik dan menarik adalah pada waktu terjadi konflik tahun 1930 itu, umat justru mampu bersatu dan berperang melawan penjajah. Jika “Ma’an Ghadaqa” ( air yang menyejuk kan ) ini diturunkan oleh Allah SWT melalui telaga para kekasih -Nya, maka semua perjuangan itu sukses dan diberkahi.

Wassalam