Sebelum mengikuti postingan ini, jangan lupa baca postingan yang telah lalu. Anatra lain:

REINKARNASI DALAM ALQUR’AN

HIKMAH REINKARNASI

KIAMAT

KEMANA MANUSIA AKAN MENITIS?

Pertanyaan berikutnya “ BAGAIMANA MEMUTUS RODA REINKARNASI?” Yang artinya selesai proses reinkarnasi dan berkahir ROJI’UN Atau kembali kepada-NYA. Untuk kembali kepada-Nya dengan sempurna, diperlukan upaya yang luar biasa dan perjalanan ruhani yang sangat panjang. Kunci untuk kembali kepadanya adalah kita harus mampu mengenal Allah (makrifatullah). Makrifat ada beberapa tingkatan : Af’al, Asma, Sifat, dan Dzat. Tentang makrifat ini, Nabi pernah bersabda Awaludini Ma’rifatullah Ta’alla (Permulaan beragama adalah mengenal Allah). Kalau sudah mengenal Allah maka manusia dapat terbebas dari hukum karma atau kelahiran kembali. Beribadahnya pun lebih khusyu, mampu menjaga diri dari perbuatan batil, senantiasa berbuat kebajikan serta terhindar dari jebakan dunia. Para Nabi, Rasul atau wali-Nya adalah contoh manusia yang telah makrifat. Meskipun mereka turun kembali ke bumi tapi bukanlah untuk membayar karma, melainkan melaksanakan tugas suci dan mulia : mengajak dan membimbing manusia lainnya agar mampu kembali kepada-Nya. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, tempat mereka bukanlah di surga melainkan ditempat yang lebih tinggi sehingga mampu mengawasi manusia lainnya (Q.S 7 : 46). Jika suatu saat dibutuhkan, mereka bisa kapan saja turun ke bumi guna menyelesaikan berbagai konflik manusia yakni dengan jalan memberikan pelajaran ber-Tuhan. Dan tentunya pelajaran yang diberikan pun akan disesuaikan dengan budaya, tingkat intelektualitas, kompleksitas permasalahan dan kualitas ruhani rata-rata manusia pada saat itu.

Pada saat periode Nabi Muhammad, makrifat pun telah diajarkan. Bagi mereka yang belum memiliki kesadaran ruhani yang tinggi biasanya akan diajarkan dulu makrifat Af’al, Asma dan Sifat dengan maksud agar mereka memiliki budi pekerti Tuhan (akhlak yang baik). Pelajaran ini diberikan melalui sholat, puasa dan berbagai ibadah lainnya. Bagi mereka yang telah memiliki kesadaran ruhani yang tinggi seperti para sahabat Nabi, mereka telah diajarkan hingga pada tahapan makrifat Dzat. Lah, apakah lantas Nabi jadi pilih kasih? Ya tidak! sebab jika pengetahuan tersebut dipaksa sekalipun untuk diajarkan kepada orang awam, tetap akan percuma. Ibarat pelajaran S3 diajarkan kepada murid SD! Ya ndak nyambung!. Lebih baik mereka yang SD itu meneruskan dulu sekolahnya sampai ia mampu menerima pengetahuan sekelas S3. Lha wong di tingkat SD saja tidak semua muridnya bisa naik kelas apalagi jika diajarkan pelajaran S3 malah bisa tidak lulus semuanya.

Seorang ulama besar, Imam Ghozali, telah memberikan definisinya tentang makrifat. Menurut beliau, makrifat adalah “mengetahui akan rahasia-rahasia Allah dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada”. Dari definisi tersebut, maka jelaslah bahwa pengetahuan makrifat –khususnya makrifat Dzat memang tidak diajarkan kepada publik secara terang-terangan. Makrifat adalah rahasia hamba dengan Tuhannya. Maka itu pengetahuan makrifat hanya diajarkan kepada mereka yang benar-benar memerlukannya. Dalam suatu Hadistnya, Nabi SAW mengatakan : “Janganlah kamu memberikan ilmu bermanfaat kepada yang tidak memerlukannya, itu adalah perbuatan zalim, dan jangan kamu tidak memberikan kepada orang-orang yang memerlukannya, itupun zalim.” Kalau Allah mau tentu semua manusia akan dibuatnya beriman atau bermakrifat (Q.S 10:99).

Namun Allah membebaskan manusia untuk beriman ataupun tidak beriman. Disinilah seninya hidup manusia yakni agar kita mencari dan menemukan jalan untuk kembali kepada-Nya. Allah membuat game yang harus diselesaikan tiap manusia. Untuk mengenal Tuhan, jalannya cuma satu yakni harus mengenal diri sendiri terlebih dahulu. Nabi Muhammad bersabda : “Barang siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya”. Kalau kita mencari Tuhan ke dalam diri maka artinya manusia dari agama apapun akan bisa menemukan Tuhannya. Kalau manusia hanya fokus mencari jalan diluar dirinya maka akan sulit menemukan Tuhan sebab akan berhadapan dengan banyaknya agama dan tiap agama pun terdiri dari banyak aliran atau penafsiran.

Ini bukan berarti kita tidak memerlukan agama! Kita tetap memerlukan agama sebagai petunjuk untuk mengenal Tuhan tapi hendaknya jangan memahami agama dari kulitnya saja sebab bisa menimbulkan fanatisme yang berlebih-lebihan, yang akhirnya akan menyebabkan perang antar agama/aliran. Kalau sudah timbul perang, maka kebanyakan yang bermain adalah hawa nafsu. Perbuatan seperti itu termasuk dalam perbuatan yang melebihi batas (thagut) padahal di Al Quran Q.S 2:190, 5:87, Allah secara tegas melarang kita untuk berbuat thaghut.

Manusia yang telah mencapai makrifat sudah pasti berahlak baik, tidak akan berebut kebenaran, tetap menghormati kepada semua pemeluk agama karena beragama hakekatnya adalah hubungan pribadi manusia dengan Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat atau dipaksakan. Perdamaian diantara umat manusia harus dijunjung tinggi. Kenapa? Karena asal agama manusia -apapun agamanya- adalah dari Tuhan Yang Satu.

Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa bagian. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masingmasing)(Q.S Al Mu’minuun (23) : 52-53)

Dari ayat diatas seharusnya kita sudah mendapatkan gambaran besar. Big Picture. Bahwa semua manusia ternyata berasal dari Tuhan yang sama dan akan kembali kepada Tuhan yang sama juga. Nah karena Tuhannya manusia itu cuma satu lalu buat apa diperebutkan? Justru seharusnya Tuhan itu dimiliki secara bersama-sama oleh manusia. Tuhan jangan diklaim hanya dimiliki satu golongan saja. Agama apapun pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu pencapaian kepada Tuhan Apapun agama yang kita anut seharusnya tidak menjadi masalah karena yang terpenting adalah mereka beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, menghormati semua Nabi dan Rasul, sifat dan perilakunya selalu positif baik kepada diri sendiri maupun lingkungannya, serta menjauhi perbuatan keji dan mungkar. Simak ayatnya berikut ini :

Sesungguhnya orang-orang beriman, yahudi, nasrani dan orang-orang shabiin siapa saja diantara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian dan beramal saleh mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (Q.S Al Baqarah (2) : 62)

Coba sekarang kita tanyakan pada diri sendiri : seberapa yakinkah kita dengan agama yang kita anut. Apakah kita beragama cuma ikutan/taklid saja kepada keluarga atau ulama? Dan ibadah yang selama ini kita kerjakan apakah itu sekedar memenuhi kewajiban (gugur kewajiban) ataukah dilandasi ketulusan dan kecintaan kepada Allah? Nah, pada umumnya seseorang yang beragama didasarkan atas salah satu dari 3 keyakinan berikut ini :

1. ‘Ilmul Yaqin

2. ‘Ainul Yaqin

3. Haqqul Yaqin (Isbatul Yaqin)

Tentang ketiga hal diatas akan kami jelaskan di posting yang akan datang. Semoga manfaat.