Setelah memahami makna kiamat secara hakekat maka timbul pertanyaan lanjutan. Jika manusia itu terlahir kembali, kemanakah ia akan menitis (dibangkitkan lagi) ? apakah terlahir kembali sebagai manusia? Atau bisakah ia terlahir sebagai hewan atau tumbuhan ?

Di kalangan ahli tasawuf masih terdapat perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat bahwa manusia akan tetap menitis (terlahir kembali) menjadi manusia, namun ada juga yang berpendapat bahwa manusia bisa menitis ke hewan atau tumbuhan.

Mengapa terjadi perbedaan pendapat? Karena para ahli tasawuf sendiri memiliki pengalaman spiritual yang berbeda-beda dalam meditasinya. Bagi mereka yang telah melihat pengalaman masa lalunya tidak melalui hewan maka ia akan mengatakan bahwa manusia tetap akan menitis ke manusia. Namun bagi yang melihat masa lalunya pernah menjadi hewan maka ia pun berpendapat manusia bisa menitis ke hewan. Salah seorang sufi besar seperti Jalaluddin Rumi pernah memberikan kesaksiannya :

“Dulunya aku adalah mineral, lalu berkembang menjadi tumbuhan. Mati dari mineral aku lalu muncul sebagai binatang. Mati dari binatang aku lalu menjadi manusia. Lalu mengapa mesti takut kalau kematian akan merendahkanku?”

Perbedaan ini tentu suatu hal yang wajar karena pengalaman spiritual masing-masing orang berbeda. Dan perbedaan ini pun sama sekali tidak pernah diperdebatkan karena ada hal lain yang lebih penting yaitu bagaimana seseorang itu terhindar dari roda samsara dan dapat kembali kepada-Nya.

Dari beberapa pendapat yang berkembang, pada umumnya manusia akan mengalami kebangkitan kembali di beberapa tempat, yaitu:

1. Bumi

Terlahir kembali menjadi manusia dengan mendapat kebahagiaan (surga) atau kesengsaraan (neraka). Mendapat surga atau neraka bergantung kepada amal perbuatannya semasa hidup sebelumnya. Semakin banyak kebajikan yang ditabur maka kualitas kehidupan dan bumi yang didapat akan lebih baik. Bumi yang dimaksud tentu bukan hanya bumi tempat kita berpijak melainkan juga planet lainnya yang diciptakan oleh Tuhan. Manusia yang terlahir di bumi hendaknya harus banyak bersyukur, banyak minta ampunan dan bekerja keras dengan setekun-tekunnya agar dapat kembali kepada-Nya. Firman Allah dalam Al Quran :

Hai manusia, sesungguhnya kamu harus mengusahakan diri dengan setekuntekunnya sehingga sampai kepada Tuhanmu lalu kamu menemui-Nya. (Q.S Al Unsyiqaaq (84) : 6)

Ayat diatas mengingatkan kita agar menggunakan “aji mumpung” yakni Mumpung diberi kesempatan menjadi manusia maka maksimalkanlah usaha kita agar dapat kembali kepada-Nya. Jangan sampai setelah diberi kesempatan menjadi manusia malah berbuat kerusakan di bumi atau jatuh cinta pada kemegahan dunia yang akhirnya menurunkan tingkat kesadaran spiritual seseorang hingga membuat dirinya jauh dari Tuhan. Kalau sudah jauh dari Tuhan, ya akan terus mengalami daur ulang kehidupan. Maka semakin lama pula waktu yang diperlukan untuk kembali kepada-Nya.

Manakala seseorang lahir kembali dibumi maka keadaannya ketika dilahirkan akan ditentukan juga oleh keadaan ketika ia meninggal. Dalam suatu Hadist dikatakan :

Setiap orang akan dibangkitkan dengan kondisinya ketika ia mati (H.R Muslim dan Ibnu Majah)

Maka itulah sangat penting bagi seseorang untuk meninggal dalam keadaan khusnul khotimah (berbaik sangka) kepada Allah. Jiwa kita harus ikhlas saat dipanggil oleh-Nya. Relakan semua harta benda termasuk anak dan istri. Hidup dan mati kita hanya untuk Allah semata. Dalam Al Quran pun, kita juga diingatkan agar mati dalam keadaan Islam. Maksudnya Islam disini bukan KTP-nya yang Islam tapi orang yang mampu berserah diri, pasrah, ikhlas kepada Allah ketika sakaratul maut. Bagi orang yang masih cinta dunia, akan sulit baginya meninggal dalam kondisi Islam sebab pikirannya pasti akan dipenuhi nafsu dunia, masih ingin kaya raya,masih ingat anak istri dan lain-lain. Jadi saat sakaratul maut inilah puncak ibadah kita akan teruji. Jika selama ini ibadah hanya sekedar gugur kewajiban alias tidak ikhlas dan tulus. Maka ketika sakaratul maut pun sulit untuk mencapai khusnul khotimah. Kalau ketika sakaratul maut masih belum bisa mengikhlaskan harta, anak dan istri maka ruh pun akan tersendat-sendat keluarnya karena protes kepada Allah tidak mau mati terlebih dahulu. Hidup dan matinya tidak di ikhlaskan kepada Allah. Kalau sudah begini, matinya bisa masuk kategori su’ul khotimah (berburuk sangka) kepada Allah dan ketika terlahir kembali pun obsesinya akan terbawa. Misal obsesi ingin kaya raya belum terealisir saat meninggal. Maka ketika lahir kembali, dan menjadi dewasa maka ia akan cenderung menghalalkan segala cara untuk menjadi kaya raya. Jadilah ia koruptor, mafia, pelaku pesugihan sesat dan lain sebagainya.

Lain halnya dengan orang yang beriman. Mereka tahu persis bagaimana menghadapi maut yakni dengan melepas semua atribut dunia. Dan ketika hari kematiannya tiba pun wajahnya akan berseri-seri. Tidak takut sama sekali, malah senang dan meninggalnya pun mudah tanpa terasa sakit sama sekali. Bagi kita yang masih harus reinkarnasi lagi maka berlatihlah dari sekarang agar ketika meninggal mampu khusnul khotimah. Kalau meninggalnya khusnul khotimah maka ketika lahir kembali akan terlahir dalam kondisi yang penuh keberuntungan, penuh kebaikan. Misalnya terlahir di keluarga sholeh yang kaya raya, memiliki talenta tertentu yang jarang dimiliki orang lain, tinggal dibumi/planet lain yang kualitasnya lebih bagus dari bumi yang kita pijak sekarang dan berbagai keistimewaan lainnya. Ini berarti kita telah diganjar surga oleh Tuhan.

Mungkin diantara kita ada yang bertanya :

seberapa cepat kebangkitan yang terjadi pada manusia? Menurut petunjuk yang didapat di Al Quran, peristiwa kebangkitan kembali manusia terjadi dalam sekejab mata, sebagaimana firman-Nya dalam Al Quran :

Dan kepunyaan Allahlah segala yang gaib di langit maupun di bumi. Dan, tidaklah perintah kebangkitan itu selain sekejap mata atau lebih cepat. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (Q.S An Nahl (16) : 77)

Agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah Maha cepat hisab-Nya. (Q.S Ibrahim (14):51)

Begitu seseorang meninggal maka seketika itu timbangan amalnya diketahui dan seketika itu pula dapat diketahui ke alam mana ia akan dibangkitkan, apakah ke bumi (surga/neraka) atau ke alam barzah. Jika seseorang diputuskan untuk dibangkitkan dibumi, maka kematian orang itu di suatu tempat akan berdampak pada kelahiran orang itu di tempat lainnya. Keyakinan bahwa kebangkitan manusia terjadi secara real time juga diamini oleh ajaran Budha.

Dengan hisab yang cepat ini, maka sesungguhnya tidaklah ada yang dinamakan dengan pertanyaan kubur oleh malaikat dan kemudian menunggu di alam kubur sampai alam semesta hancur lebur. Pertanyaan kubur adalah simbol! Jangan diartikan harfiah. Kubur bermakna jasad dan selama roh masih dalam jasad, maka kita seringkali mengajukan pertanyaan tentang masalah Tuhan, agama dll. Justru pertanyaan kubur tersebut justru harus kita jawab sekarang selagi roh kita masih dalam jasad (kubur).

2. Alam Barzah (sekat)

Alam barzah adalah alam yang membatasi manusia dari kelahiran kembali ke bumi. Ini berarti, orang yang bangkit atau masuk ke alam ini akan tertahan dan belum bisa terlahir kembali menjadi manusia. Perihal alam barzah ini telah disebutkan dalam Al Quran :

Apabila datang kematian seseorang dari mereka dia berkata “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan dihadapan mereka ada dinding sampai mereka dibangkitkan. (Q.S Al Mu’minuun (23) : 99-100)

Sebagai intermezzo saja, ayat diatas sering dipakai oleh beberapa ulama sebagai dalil penolakan terhadap reinkarnasi. Padahal kalau kita perhatikan ayat diatas secara seksama, sama sekali tidak ada relevansinya dengan reinkarnasi. Pada ayat diatas, sangatlah jelas bahwa orang kafir yang minta dikembalikan ke dunia itu maksudnya minta dikembalikan atau dihidupkan lagi ke dunia dengan tubuh yang sudah ditinggalkannya. Jadi, si kafir bukan meminta “kelahiran kembali” tapi minta dikembalikan kembali ke jasadnya semula. Nah, oleh Tuhan permintaannya tentu saja ditolak karena berarti jiwanya tidak mengerti mekanisme kehidupan. Karena ketidakmengertiannya itulah ia dimasukan ke alam barzah. Adapun alam barzah ini sifatnya hanyalah sementara saja. Jika sekat/dinding ini hilang maka manusia pun bisa terlahir kembali di bumi. Lalu manusia seperti apa yang menghuni alam ini? Mereka yang menghuni alam ini biasanya masih memiliki kesadaran spiritual yang rendah. Misalnya, orang yang bunuh diri adalah termasuk orang yang akan masuk ke alam ini. Begitu juga dengan perbuatan jahat yang berlebihan dapat membuat manusia masuk ke alam ini. Usia ruhani yang masih sangat muda juga bisa membuat manusia masuk ke alam ini. Intinya adalah mereka yang belum memiliki kesadaran spiritual sebagaimana yang dipersyaratkan oleh-Nya. Tentunya hanya Allah-lah yang lebih mengetahui orang macam apa yang harus masuk ke alam barzah dan kapan ia harus keluar dari alam tersebut dan dibangkitkan atau terlahir kembali.

Berapa lama seseorang tinggal di alam ini? Tidak ada yang tahu pasti melainkan Allah. Ada yang tinggal 100 tahun, ada yang tinggal 700 tahun dll, tergantung dari tingkat permasalahannya dan kualitas ruhani yang bersangkutan. Mereka yang telah diampuni oleh Allah dapat terbebas dari Alam ini dan diberi kesempatan memperbaiki diri melalui proses kebangkitan atau kelahiran kembali dengan memakai jasad yang baru. Nah, manusia yang masuk ke alam barzah kadang disebut juga sebagai arwah penasaran alias hantu. Memang ada sebagian ulama yang tidak meyakini adanya arwah penasaran dengan alasan bahwa semua orang yang meninggal akan kembali kepada Allah. Lha, bagaimana bisa kembali kepada Allah bagi orang yang matinya bunuh diri? Justru jiwanya tidak akan diterima Allah karena hanya orang-orang yang mampu mensucikan jiwanya sajalah yang bisa kembali kepada Allah.

Arwah atau hantu-hantu ini kerap menampakan diri kepada manusia yang masih hidup. Terkadang mereka tinggal di kuburan, gereja, mesjid, pohon, rumah kosong dan lain sebagainya. Malah bagi manusia yang semasa hidupnya bersengkongkol dengan iblis misalnya pemuja setan, pesugihan sesat (ngepet, tuyul dll) maka –di alam barzah- kelak akan menjadi budak mereka setelah meninggal nanti. Na’udzubillah mindzalik.

Selain hidup sebagai hantu, sebagian dari mereka ada juga yang tinggal di fisik hewan atau tumbuhan. Tidak mengherankan jika kita sering melihat ada hewan yang sangat dekat dengan manusia bahkan memiliki sifat-sifat seperti layaknya manusia. Manusia yang sebelumnya pernah menitis ke hewan biasanya juga kerap terlahir kembali dengan masih membawa pengalaman hewannya. Kita sering melihat kasus adanya anak kecil yang perilakunya seperti hewan. Ada yang sulit berbicara bahkan jika berbicara malah keluar suara burung. Ada yang sukanya makan daun-daunan mentah dan perilaku lainnya yang tidak lazim bagi manusia.

Sebenarnya ada tuntunan dari Nabi SAW agar manusia terhindar masuk ke alam barzah. Tuntunannya berupa mensholatkan atau mendoakan jenazah. Dengan doa ini diharapkan Allah mengampuni sebagian dosa orang tersebut dan lolos dari alam barzah. Keluarga, khususnya anak yang sholeh juga memegang peranan penting untuk membebaskan si jenazah dari alam barzah. Dengan doa dari keluarga, Insya Allah jenazah bisa lebih cepat terbebas dari alam barzah begitu doa mereka dikabulkan oleh Allah.

Lalu bagaimana dengan orang yang jahat tapi jenazahnya didoakan? Apakah ia punya peluang selamat dari alam barzah? Jawabannya adalah bisa!, jika memang Allah berkenan mengampuni sebagian dosanya, namun meski selamat dari alam barzah dan terlahir kembali sebagai manusia, biasanya ia masih memiliki perilaku yang bejat, susah untuk dinasehati seakan-akan kesadaran manusiawinya hilang. Ini artinya ia masih menanggung sisa karma atau dosa yang masih harus dipikulnya.

Posting yang berhubungan :

REINKARNASI DALAM ALQUR’AN

HIKMAH REINKARNASI

KIAMAT