Bismillahir Rahmanir Rahiim
Hamba Allah yang sejati haruslah melaksanakan segala sesuatu apa yang diperintahkan Allah dan meninggalkan segala apa yang dilarangan-Nya.
Hendaknya ia berusaha untuk menundukkan hawa nafsunya yang berupa amarah dan serakah. Hawa nafsu yang berlawanan dengan perintah agama itu ada dalam khayalan dan fikiran yang berlawanan dengan yang hakikat. Segala perbuatan yang dibenarkan oleh agama, itulah yang suka ditentangnya. Dan segala perbuatan yang bertentangan dengan agama, dengan senang hati dilakukannya. Itulah peranan hawa nafsu dalam diri manusia.
Dalam tingkat thariqah, ego atau nafsu itu mendorong seseorang untuk mengikuti ajaran-ajaran agama yang palsu dan seolah-olah para pengamal thariqah itu telah berjalan di atas ajaran yang benar, yakni ajaran dari Allah. Padahal seringkali jalan thariqah yang dianggapnya benar itu sebenarnya salah dan bathil, karena penuh dengan kekeliruan, berbenturan dengan tuntutan syari’at dan petunjuk Islam yang hakiki.
Dalam tingkat hikmah atau hakikat, masalah yang dihadapi lebih berat lagi, karena ego dan keinginan yang ada dalam diri seseorang selalu mendorong hasrat untuk mendakwa mereka sebagai Waliyullah. Bahkan, ada pula yang mau mengaku dirinya sebagai “tuhan”. Inilah dosa yang paling besar. Allah berfirman : “Terangkanlah kepada-Ku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya ?” (Q.S. Al-Furqan: 43)
Peringkat-peringkat tersebut sangat berbeda dengan peringkat ma’rifah. Peringkat ini tidak pernah dapat dijamah oleh nafsu dan iblis. Bahkan malaikatpun tidak mampu mencapainya. Apa dan siapa pun selain Allah bila dapat sampai ke dalamnya, niscaya ia akan hangus. Malaikat Jibril pernah berkata kepada Nabi Muhammad SAW, “Jika selangkah saja aku masuk ke situ, maka hanguslah aku.”
Hamba Allah yang sebenarnya ialah hamba yang bebas dari gangguan ego dan nafsu setan, karena dirinya dilindungi oleh perisai keikhlasan dan kesucian hati dalam berma’rifah kepada Allah SWT.
Seorang alim berkata, “Jika sang hamba itu mentaati Allah dengan sepenuh hati dan perasaan, niscaya Allah akan mengaruniakan ma’rifah untuknya. Bahagialah ia memandang rahasia-rahasia Tuhan di balik Alam Malakut. Namun, bila kemudian ia berbalik hati, ingkar kepada syarat-syaratnya, karunia itu akan dicabut-Nya kembali. Hatinya yang penuh dengan cahaya ma’rifah akan kembali suram, gelap gulita seperti semula. Karena itulah, orang yang hatinya telah dipenuhi cahaya ma’rifah sangat khawatir bila cahaya itu akan dicabut seperti keadaannya yang dulu karena suatu kesalahan yang dibuatnya. Iblis laknatullah selalu menanti peluang untuk masuk dalam diri manusia. Apabila manusia lalai, mereka akan membelitnya dengan belalainya dan dijerumuskannya manusia ke lembah kehinaan sehingga semua amalan yang pernah diperolehnya dengan susah payah akan menjadi abu dan sia-sia.
Firman Allah : “Iblis menjawab, “Demi kekuasaan-Mu, aku bersungguh-sungguh akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis (yaitu orang yang ikhlas) di antara mereka.” (Q.S. Shaad: 82 – 83).
Lihatlah, betapa Iblis laknatullah sendiri mengaku di hadapan Allah SWT, bahwa ia tidak mampu menggoda orang yang mengikhlaskan dirinya hanya kepada Allah, sebagaimana bunyi ayat tersebut di atas.
Manusia tidak akan sampai ke peringkat tertinggi itu selagi ia belum suci, karena nafsu-nafsu dunia tidak akan melepaskannya hingga Zat Yang Maha Esa itu terlahir padanya. Inilah yang disebut dengan keihklasan.
Zat itu hendaknya dikenali dengan sempurna. Kejahilan akan hilang dari diri manusia bila ia menerima ilmunya secara langsung dari Allah. Ilmu yang semacam ini tidak dapat dicapai dengan cara belajar, karena ilmu itu adalah karunia dari Allah yang diberikan khusus kepada hamba pilihan (Waliyullah) tanpa perantara atau wasilah.
Apabila Allah SWT menjadi gurunya maka Dia akan memberikan berbagai sumber ilham ke dalam diri mereka, segala rahasia-rahasia yang halus akan dilontarkan Allah ke dalam hati mereka. Maka menjelmalah ia seperti Nabi Khidir atau hamba-hamba shaleh yang lain, yang selalu menerima sumber ilmu dari Yang Pemilik ilmu itu.
Keadaan semacam inilah yang disebut telah mencapai tingkat makrifah. Mereka telah mengenali Tuhan Penciptanya, dan senantiasa mengabdi kepada Tuhan yang sudah dikenali-Nya.
Orang yang mencapai peringkat ini akan melihat Ruh al-Quds (Ruh Suci) dan kekasih Allah, yaitu Rosulullohi Muhammad SAW. Ia boleh berbincang-bincang dengan kekasih Allah tentang segala perkara dari awal hingga akhir, dan Nabi-Nabi lainnya memberinya tanda atau isyarat yang baik tentang janji bahwa ia akan berkumpul bersama kekasih Allah itu. Hal ini tidak mengherankan karena mereka yang telah mencapai peringkat ini, semua keinginannya akan terpenuhi dengan kehendak Allah.
Firman Allah : “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang yang saleh. Dan mereka itulah teman yang paling baik.” (Q.S. An-Nisaa’: 69)