* Selingan…

Cinta yang kita kenal selalu ditunggangi oleh berbagai motif. Ada keinginan untuk memiliki, mendominasi, cemburu, khawatir, gelisah, benci, takut kehilangan, bergantung, melekat, mencari dan melanggengkan kesenangan atau kepuasan. Dalam cinta yang kita kenal seperti ini, kita melihat, selalu menciptakan keterpecahan, konflik dan penderitaan batin.
Kebanyakan orang tidak bahagia karena kurang cinta. Setelah merasa memiliki cinta, orang justru menderita karenanya. Kita menderita bukan hanya ketika kita mencintai orang lain dan orang lain menolaknya atau ketika kita dikhianati atau ditinggal pergi oleh orang yang kita cintai. Kita menderita juga ketika kita menemukan seseorang atau sesuatu yang kita cintai dan melekatinya. Semakin kuat kita melekat, semakin kuat pula kita menderita.
Kalau cinta tidak lebih dari kesenangan, maka kita akan terus menderita dan kalau kita menderita kita tidak bisa sungguh-sungguh mencinta. Untuk itu kita perlu memahami penderitaan kita dan tidak membiarkan berlanjut setiap kali kita mengolahnya.
Apakah penderitaan datang dari luar?
Ada penderitaan fisik seperti kalau Anda tidak memiliki cukup sandang, pangan, papan, terkena penyakit, kecelakaan. Ada penderitaan psikologis seperti ketika Anda mengalami kesepian, ketakutan, kecemasan, kegelisahan, kehilangan, merasa tidak berguna, ditolak, dst.
Penderitaan fisik tidak serta-merta menciptakan penderitaan psikologis. Ketika Anda mengalami sakit secara fisik, tantangannya adalah bisakah rasa sakit fisik itu tidak berlanjut menjadi rasa sakit psikologis? Kalau Anda berbuat kesalahan dan dengan sadar meminta orang lain menampar Anda supaya Anda tidak jatuh dalam kesalahan yang sama, apakah tamparan teman Anda membuat Anda menderita secara psikologis? Bukankah Anda tidak menderita?
Sekarang lihatlah kasus ini. Kalau Anda berselisih paham dengan rekan kerja dan tiba-tiba dia datang dan memukul Anda, bukankah Anda menderita secara psikologis? Apa yang membuat rasa sakit fisik berlanjut menjadi rasa sakit psikologis? Muka Anda ditampar. Pikiran Anda menilai itu merupakan kekerasan, tindakan pelecehan, penghinaan, perendahan martabat. Anda memiliki gambaran tentang diri sebagai yang bermartabat. Anda merasa diri sebagai korban. Lalu Anda ingin balas dendam. Jadi apa yang membuat Anda menderita secara psikologis? Bukankah pikiran yang menamai, mencatat, menilai, membuat penderitaan fisik itu berlanjut menjadi penderitaan psikologis?
Penderitaan tidak pernah diciptakan oleh orang lain atau situasi-situasi di luar. Penderitaan muncul ketika kita merepons tantangan menurut keinginan, ketakutan, penilaian, gambaran, tafsiran kita. Mengapa Anda merasa terhina, terluka atau menderita, ketika orang lain menjelek-jelekan Anda dan menyebut Anda tolol? Bukankah karena Anda memiliki gambaran tentang diri Anda bahwa Anda bukan orang tolol? Bukankah penderitaan muncul bukan karena Anda dikatakan tolol, tetapi dari kebiasaan Anda menamai sesuatu yang tidak Anda inginkan? Kalau Anda tidak memiliki gambaran sebagai orang tolol atau bukan tolol, bukankah Anda tidak menderita?
Apakah penderitaan tak-terelakkan?
Kebanyakan orang hidup dalam penderitaan dan jarang orang bertanya bagi dirinya sendiri bisakah penderitaan berakhir secara total? Kalau kita mengatakan bahwa penderitaan itu tak-terelakkan, tak ada kemungkinan bebas total dari penderitaan, maka pencarian kita tidak ada artinya dan kita terus hidup di tengah kegelapan. Kita tidak mungkin bebas dari sakit atau penderitaan fisik. Tetapi tidak mungkinkah kita bebas total dari penderitaan psikologis?
Sekalipun orang beranggapan bahwa penderitaan itu tak-terelakkan, kebanyakan orang lari ketika penderitaan datang. Ada banyak modus pelarian diri. Orang tidak menerima penderitaan lalu bertanya mengapa menderita. Orang menganalisa, mencari sebab-sebab penderitaan, mencari cara untuk mengatasinya. Secara intelektuil Anda tahu penderitaan Anda tetapi pemahaman intelektuil tidak membuat Anda bebas.
Bukankah semua itu adalah pelarian dan semua pelarian hanya memboroskan energi? Setiap pelarian menciptakan ketakutan dan ketakutan melanggengkan penderitaan. Kalau kita melihat semua pelarian tidak ada gunanya, maka kita tidak perlu berlari menjauh tetapi diam bersamanya. Bisakah diam bersama penderitaan tanpa menolaknya, tidak membenarkannya, tidak membanding-bandingkan, tidak menilai, tidak menganalisa, tidak menafsirkan?
Setiap gerak pikiran yang mencatat, menamai, menilai, menafsirkan menjauhkan kita dari penderitaan itu sendiri dan kita tidak memahaminya.
Kalau kita berada bersama penderitaan tanpa jarak, maka kita menemukan bahwa �aku� yang menderita tidak berbeda dari penderitaan itu sendiri. Di titik itu tidak ada lagi si aku yang menderita, atau si aku yang memiliki penderitaan, tetapi �aku adalah penderitaan itu�, �Anda adalah penderitaan itu�. Ketika Anda melihat penderitaan tanpa jarak, bukankah tidak ada lagi “aku yang menderita” dan penderitaan berakhir?
Apakah penderitaan itu perlu?
Tubuh kita memiliki inteligensinya sendiri. Kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuh, maka tubuh memberikan signal yang kita tangkap sebagai rasa sakit. Maka rasa sakit berguna untuk memberitahu ada sesuatu yang perlu dilihat pada tubuh kita.
Ada seorang penderita kusta di perkampungan orang kusta di Tangerang. Kedua kakinya tidak berasa. Suatu hari ia mencangkul kebun di belakang rumahnya dari pagi hingga sore. Ketika senja tiba, ia berhenti mencangkul dan masuk ke beranda rumahnya. Setelah duduk, baru ia merasa sangat lelah disertai panas-dingin. Ia mencoba membuka sepatu boatnya. Tidak seperti biasanya, kali ini sulit sekali sepatu dibuka.
Setelah dilihat-lihat, sepatu kanannya penuh darah yang mengucur dari kakinya. Ia melihat ternyata ada tonggak bambu yang menembus sepatu dan menancap ke kakinya. Darah mengucur tetapi ia tidak berasa. Kemudian ia dilarikan ke rumah sakit dan untunglah jiwanya masih tertolong.
Seandainya ia merasakan sakit ketika tonggak bambu itu merobek kakinya, maka ia tidak perlu menunggu terlalu lama untuk bertindak. Karena tidak merasa sakit, maka ia justru berada dalam bahaya. Kalau ada sesuatu yang tidak beres pada tubuh tetapi tubuh tidak memberikan signal sakit, maka kita seperti berada dalam bahaya tetapi tidak sadar akan bahaya tersebut. Situasi seperti itu jauh lebih berbahaya daripada datangnya bahaya itu sendiri.
Seperti halnya sakit fisik, apakah ada perlunya sakit psikologis atau penderitaan psikologis itu? Penderitaan itu berfungsi seperti signal bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan batin kita. Penderitaan adalah goncangan bagi batin yang merasa aman. Selama batin hidup dalam cangkang diri, ia merasa aman. Tetapi batin yang merasa aman terus terancam oleh goncangan penderitaan.
Anda secara psikologis merasa aman karena memiliki uang dalam jumlah tertentu dan takut akan masa depan, merasa bahagia karena memiliki sahabat atau pasangan hidup dan takut kehilangan mereka, menemukan kepastian dalam ide atau kepercayaan tertentu dan melekatinya. Batin yang demikian adalah batin yang tidur. Batin yang tidur adalah batin yang merasa aman hidup di bawah pengkondisian. Begitu kondisi-kondisi itu diruntuhkan, maka batin tergoncang, batin menderita. Semakin Anda bahagia dan melekati apa saja yang mendatangkan kebahagiaan, sebenarnya Anda sudah hidup dalam penderitaan. Tetapi kebanyakan orang menganggap penderitaan seperti ini sebagai kebahagiaan.
Penderitaan karenanya berguna agar batin kita bangun, agar melihat kebenaran dan sadar bahwa penderitaan tidak ada gunanya lagi. Ketika penderitaan berakhir, barangkali cinta dan welas asih terlahir. Bisakah kita tinggal bersama penderitaan itu secara total setiap kali penderitaan itu muncul dan membiarkan penderitaan setiap kali berakhir?*
dirrga.com