Allahumma sholi ala Syyaidina Muhammadinni fatihi lima ughliko wal’khotimi lima sabaqo wanasiril haqo bilhaqqi wal’hadi ila shirotikal mustaqiim wa’sholallahu alaiihi wa’ala alihi washobihi haqqo qodrihi wamiqdarihil aziim.

Hati yang mati akan hidup kembali bila menerima benih Tauhid dari hati yang hidup, karena benih seperti itu sehat dan bersih, cerdas dan aktif. Tidak ada pohon yang tumbuh dari biji benih yang kering dan kerontang dan mati.Hati yang hidup adalah hati yang sudah digerakan, dibangun dan di besarkan dengan Kalimat Tauhid. Orang yang memiliki hati yang hidup adalah orang yang berjiwa besar karena ia dekat dengan Allah Yang Maha Besar.
Kalimat Tauhid yaitu La ilaha illallah tersebut ada pada dua tempat dalam Al-Qur’an, sebagaimana disebutkan sebagai berikut:
“Sesungguhnya mereka dahulu apabila di katakan kepada mereka La ilaha illalla, mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata,”Apakah kami harus meninggalkan Rabb-Rabb kami karena seorang penyair gila.” (QS Ash-Shaffat:35-36)
Inilah keadaan orang biasa atau orang awam, yang hanya memandang kepada yang zahir/tampak, dapat dilihat oleh mata kasarnya, dan wujud zahir yang di kenalnya saja yang dikenalnya sehingga mereka mereka mempertuhankan benda-benda zahir itu.
“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Rabb selain Allah (La ilaha illallah) dan memohon ampun atas dosa yang kamu perbuat serta dosa orang-orang mukmin, baik laki-laki maupun perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu. (QS Muhammad:19)
Firman Allah itu adalah petunjuk bagi orang-orang Mukmin sejati yang takwa kepada Allah Swt.
Syyaidina Ali meminta junjungan Nabi besar Muhammad Saw untuk mengajarkan amalan yang paling mudah, namun bermutu paling tinggi, sehingga ia dapat lebih mudah mencapai kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Maka Baginda Rasulullah Saw termenung sejenak menunggu datangnya malaikat Jibril membawa jawaban dari Allah.
Tak lama kemudian malaikat Jibril pun datang mengajarkan Rasulullah Saw. La ilaha sambil memalingkan mukanya kekanan, kemudian menyebut illallah sambil memalingkan mukanya kekiri sambil menuju hati. Malaikat Jibril mengulangi perbuatan ini sebanyak tiga kali. Rasulullah Saw mengikuti apa yang dilakukan malaikat Jibril sebanyak tiga kali pula, kemudian Rasulullah saw mengajarkan kepada Syyaidina Ali.
Sayyidina Ali adalah orang yang pertama kali menanyakan hal ini dari orang yang pertama kali mendapat pelajaran dari Malaikat Jibril tentang cara melakukan amalan yang paling mudah tapi paling tinggi mutunya.
Itulah sebagai awal adanya dzikir Nafi-Isbat , laa ilaha ilalloh