Sebelum membaca ulasan ini langkah baikknya baca dulu postingan yang terdahulu berjudul 3 TINGKAT KEYAKINAN. Ini kelanjutan dari posting tersebut.

Isra Mikraj. Peristiwa ini seringkali hanya dipahami sebagai turunnya perintah sholat lima waktu. Banyak orang yang hanya mengambil hikmahnya saja dari peristiwa Isra Mikraj tapi sedikit sekali yang mau meneladaninya atau mengalaminya langsung bertemu dengan-Nya. Hal ini disebabkan terpengaruh oleh pendapat ulama yang mengatakan bahwa Isra Mikraj cuma bisa dilakukan oleh Nabi Muhammad. Seharusnya ulama tersebut jujur kepada diri sendiri kalau memang belum mampu melakukan atau mengalami Isra Mikraj. Nah, kalau belum mengalami seharusnya introspeksi diri jangan lantas kemudian mengatakan sesat jika ada orang lain yang mampu melakukan Isra Mikraj. Peristiwa Isra Mikraj sama sekali bukan untuk dikagumi belaka! bukan pula untuk dimitoskan! tapi untuk diteladani. Sekali lagi, diteladani!. Peristiwa Isra Mikraj dapat kita baca dalam Al Quran, sebagaimana dibawah ini:

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S Al Israa (17) : 1)

Para ulama berbeda pendapat tentang perjalanan Nabi dalam Isra Mikraj ini. Sebagian ulama mengatakan bahwa perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad adalah secara fisik dan ruh, dan sebagian lagi mengatakan hanya ruh saja yang melakukan perjalanan. Perbedaan pendapat ini bukanlah hal yang harus dipersoalkan karena yang terpenting adalah memahami hakekat Isra Mikraj itu sendiri. Saya tetap menghargai pendapat ulama lain meski saya sendiri berpendapat bahwa Nabi melakukan perjalanan secara ruhani –bukan fisik. Tuhan adalah Maha Roh dan untuk menemui-Nya adalah melalui ruh juga.

Fisik hendaknya “ditanggalkan” atau dimatikan dahulu. Istilah jawanya adalah mati sakjroning urip (mati selagi hidup). Nabi juga bersabda muutuu qobla an tamuutu (matikan dirimu sebelum mati yang sesungguhnya).

Bagi sebagian ulama, perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha sering ditafsirkan secara harfiah yakni Nabi benar-benar melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Padahal ketika ayat diatas turun, Masjidil Aqsha belum ada sama sekali. Tempat sebelum Masjidil Aqsha didirikan adalah reruntuhan candi Sulaiman. Masjidil Aqsha baru didirikan pada kekhalifahan Umar bin Khattab dan baru selesai pembangunannya pada kekhalifahaan Abdul Malik bin Marwan pada 68 H yakni lima puluh tahun setelah Nabi Muhammad wafat. Jadi masjid tersebut adalah “simbol” yang harus dikaji maknanya lebih mendalam. Oleh karena sulit menjelaskan hal gaib maka simbol diperlukan untuk memudahkan pemahaman. Nah, Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha adalah simbol dari bayt Allah (rumah Allah). Tentu makna rumah Allah disini tidak diartikan secara harfiah sebagaimana rumah manusia karena sesungguhnya Allah tidak membutuhkan rumah. Peristiwa Isra Mikraj adalah peristiwa dimana Rasulullah berkunjung ke bayt Allah. Dimana letaknya bayt Allah? Ya di dalam diri tiap manusia.

Beliau melakukan perjalanan ruhani ke dalam diri. Dalam sebuah Hadistnya Nabi mengatakan : “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya”. Dalam suatu riwayat lain juga diceritakan bahwa tempat nabi melakukan Mikraj masih hangat. Ini artinya nabi tidak melakukan perjalanan spiritual secara fisik melainkan perjalanan secara ruhani yakni melalui zikir dan tafakur. Manusia tidak perlu melakukan perjalanan secara fisik untuk menemui Allah karena sesungguhnya Allah tidak berada disuatu tempat yang terikat oleh ruang dan waktu layaknya manusia. Allah itu meliputi segala sesuatu.

Sesungguhnya Dia meliputi segala sesuatu. (Q.S Fushshilat (41) : 54)

Dan Allah lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Q.S Qaaf (50) : 16)

Dan Allah bersama kamu dimana saja kamu berada. (Q.S Al Hadiid (57) : 4)

Dari ayat diatas, kita akan menyadari bahwa Allah itu tidaklah berjauhan dengan hamba-Nya dan untuk mengenal Allah cukup dengan mengkaji ke dalam diri pribadi. Usaha untuk mengkaji ke dalam diri dimulai dengan Isra. Isra adalah usaha atau pencarian yang dilakukan manusia untuk mencari lalu menemui Tuhannya.

Hal ini disimbolkan melalui perjalanan malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Disebut perjalanan malam karena kebanyakan manusia ini hidup dalam kegelapan karena tidak tahu akan kemana tujuan hidupnya.

Orang yang tidak tahu tujuan hidup disebut orang yang buta mata batinnya.

Dan barang siapa yang buta (mata batinnya) di dunia ini, niscaya di akherat nanti akan lebih buta lagi dan lebih tersesat dari jalan yang benar. (Q.S Al Israa (17) : 72)

Nah, kalau di dunia saja buta kita tidak tahu arah yang dituju apalagi di kehidupan yang akan datang? Ibarat mau ke Surabaya tapi tidak punya petunjuk jalan untuk mencapai daerah tersebut. Di perjalanan ya tentu akan nyasar. Tersesat ke arah yang makin kita tidak tahu dan tentu akan membuat kita makin menderita karena berada ditempat yang asing.

Lalu apa tujuan hidup kita sebenarnya? Ini telah saya jelaskan di post terdahulu  yaitu kembali kepada Allah (Ilayhi Roji’un). Nah agar manusia tidak tersesat (buta mata batinnya) dan selamat sampai kepada-Nya maka manusia harus mampu melakukan Isra Mikraj. Dan Isra Mikrajnya tidak perlu pergi ke Mekkah atau Yerusalem. Tidak perlu menjual tanah. Orang miskin harta pun bisa melakukan Isra Mikraj asalkan ia bersungguh-sungguh ingin menemui-Nya.

Hai Manusia, bersungguh-sungguhlah kamu dengan setekun-tekunnya sehingga sampai kepada Tuhanmu lalu kamu menemui-Nya. (Q.S Al Insyiqaaq (84) : 6)

Dalam Isra atau pencarian ini manusia harus melakukan jihad ke dalam diri yakni melakukan takhalli dan tahalli agar kemudian bisa melakukan Mikraj yakni berkunjung ke bayt Allah untuk menemui-Nya. Apa itu takhalli dan tahalli ?