BERJUANG HARUS MEMPUNYAI PAMRIH
Baru-baru ini di Televisi di beritakan tentang cirikhas pahlawan yaitu: Orang yang berjuang tanpa pamrih. Ini adalah motonya orang yang bingung.
Apakah ada orang yang berjuang tanpa pamrih, kalau tidak ada pamrih tidak perlu berjuang. Padahal kita di perintah melaksanakan ibadah, melaksanakan perintah Alloh, menjauhi larangan Alloh, itu ada pamrihnya yaitu untuk mencari keridloan Alloh.
Bangsa Indonesia berjuang dengan keras, berkorban, juga ada pamrihnya yaitu untuk membebaskan bangsa Indonesia dari cengkraman penjajah, supaya bisa mencapai kemerdekaan, agar Bangsa Indonesia bisa mendirikan negara Republik Indonesia, berdasarkan Pancasila.
Mencerdaskan kehidupan Bangsa, melindungi segenap Bangsa Indonesia, melindungi Tanah Tumpah Darah Indonesia, melestarikan dunia.
Bila berjuang tanpa pamrih itu tidak sesuai dengan:
INNAMAL A’MAALU BIN NIYYAAT
Anda bekerja dengan sungguh-sungguh pasti ada pamrihnya yaitu untuk kehidupan anak dan keturunannya.
Bila ditanya seseorang :
Anda menjadi petani dengan bekerja keras, mencangkul di sawah untuk apa ?
Tak ada pamrih apa-apa.
Pasti ada orang yang bicara, sudah tidak usah di ajak bicara.
Jadi orang berjuang harus ada pamrihnya. Kalau kami berjuang ada pamrihnya yaitu: untuk mencapai keridloan Ilahi. Menurut Al Qur’an seperti itu, saya tidak mengajak-ajak anda, saya hanya menunjukkan saja.
Kalau di masyarakat umum orang yang berjuang tanpa pamrih di beri titel pahlawan. Seperti inikah yang di sebut orang yang pandai. Makanya banyak orang yang bingung. Bila berjuang tanpa pamrih itu tidak sesuai dengan hadits :
INNAMAL A’MAALU BIN NIYAATI
Artinya:   Sesungguhnya segala amal itu haruslah disertai dengan niat .
Alloh itu menilai seseorang dari niatnya, bukan dari motonya.
Jadi jangan sampai berjuang tanpa pamrih, tanpa tujuan. Pamrih itu ada 2 macam :
1. Pamrih untuk umum.
2. Pamrih untuk khusus.
Kalau pamrih khusus adalah untuk diri sendiri. Padahal itu tidak benar yang benar adalah untuk umum.
Manusia selalu di panggil :
YAA AYYATUHANNAFSUL MUTHMA-INNAH IRJI’II ILAA ROBBIKI
Kembali kemana, kembali kepada Tuhanmu. Kembali sekarang tidak perlu menunggu besok. Akan tetapi yang di panggil masih memeluk uang, masih mencintai dunia.
Oh dunia, tanpa engkau, tidak ada artinya saya hidup, saya cinta kamu dunia.
Cintanya itu di gadaikan kepada dunia.
BEKAL UNTUK KEMBALI
Kembali kepada Alloh harus membawa bekal.
Apakah bekalnya itu ?
Alloh tidak membutuhkan uang, tidak membutuhkan lisensi istimewa, itu semua tidak terpakai.
Bekalnya itu hanya satu tidak bermacam-macam hanya satu akan tetapi sulit, yaitu   (ROO-DLIYATAN : Ridlo).
IRJI’II ILA ROBBIKI ROODLIYYATAN
Bawalah bekal RIDLO, IKHLASH. Bila Alloh memanggil jangan marah, bandel, jangan sedih.
Tapi kebanyakan kalau di panggil sangat berat.
Contoh :
Di panggil Tahajjud saja sangat berat. Sudah bangun, tidur lagi, sampai matanya lengket. Walaupun begitu oleh istrinya di tambah dengan bantal guling, selimut, bagaimana tidak tambah pulas tidurnya. Bila anaknya ramai dilarang di karenakan bapaknya baru tidur.
Di sebabkan ngobrol, ada saja yang di bicarakan tak terasa jam sudah menunjukan pukul 04.00 padahal belum Sholat Isya’. Lalu sholatnya di rangkap dengan besok. Di kira sholat itu kontrak apa?Padahal Sholat itu Mi’roj.
Sementara itu rangkaian keterangan tentang INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI ROOJI’UUN.
Semoga manfaat
Alhamdulilali rabbil alamin