Ilmu dan ibadah itu dua berlian ruhaniyah, tetapi diantara dua berlian itu yang paling tinggi ialah :
Nomer satu : Berlian ilmu.
Nomer dua : Berlian ibadah.
Mengapa ?
Karena orang bodoh tidak berilmu itu ibadahnya bisa lain, karena ditipu syetan.
Contoh-contohnya diantaranya :
Suatu saat, orang yang tidak berilmu itu sholat, ketika takbirotul ihrom ‘ Allohu Akbar ‘, lalu ada suara :
” Hei, dibawah sajadahmu itu ada uang “.
Setelah dilihat, ternyata ada uangnya sungguhan, sehingga ia mengira :
” Oh, itu Gusti Alloh “.
Beginilah Syetan bila menggoda orang ibadah yang tidak berilmu. Ini satu contoh yang pertama.
Contoh lainnya :
Dalam sebuah kitab pernah diceritakan ;
Si A itu heran dan kagum kepada si B yang ibadahnya itu tekun sekali, lalu si A berkata :
” Mengapakah si B itu ibadahnya kuat sekali, padahal aku ini termasuk jagonya ibadah “.
Lalu si A menunggu si B, sampai akhirnya keluar dari masjid, kemudian terjadi tanya jawab :
– : ” Assalamu`alaikum “.
+ : ” Wa `alaikum salaam “.
– : ” Nama anda itu siapa ? “
+ : ” Nama saya Abdul Quwwat “.
– : ” Anda bisa kuat itu bagaimana caranya ?”
+ : ” Bila ingin ibadah dengan kuat itu ada jamunya,    kalau anda tidak memakai jamu, ya jelas kalah dengan saya “.
– : ” Apa jamunya ? “.
+ : ” Jamu saya itu arak, tiga sloki saja kuatnya seper-ti ini “.
– : ” Arak itu haram “.
+ : ” Benar, arak itu haram, saya juga tahu dalilnya, tapi yang sampeyan perhatikan itu cuma dzat araknya saja namun tidak memperhitungkan pahalanya ibadah yang lama. Seumpama anda dzikir Laa ilaaha illalloh 1.000 x tanpa minum arak tapi saya dzikirnya sampai 100.000 x dengan minum arak 3 sloki saja, maka banyak manakah pahala saya dengan pahala anda ?. Adapun perkara dosa minum arak 3 sloki itu akan hilang dilebur dengan Laa ilaaha illalloh sekali saja “.
– : ” Kalau begitu saya akan minum arak saja “.
+ : ” Ya, anda coba saja “.
Akhirnya karena didorong keinginan bisa dzikir dengan kuat lalu ia minum arak 3 sloki, akibatnya ia mulai mengigau, gloyar-gloyor sampai muntah, mancal-mancal dengan telanjang.
Sebenarnya, itu tadi Syetan. Melihat tipuannya dituruti, Syetan tertawa-tawa :
” Kalau tidak begitu, tidak kena. Bodoh orang itu, rasakan ! “.
Jangankan manusia-manusia umum, bahkan Syetan juga beruaha menipu para nabi dan para wali.
Sulthonul Auliya` Syekh Abdul Qodir Jailani ditengah-tengah kholwat juga tidak lepas dari upaya Syetan menipu beliau, tapi tidak kena.
Kisahnya demikian :
Ditengah-tengah kholwatan yang sepi, disitu ada cahaya bersinar dengan bersuara :
” Hei Sayyid Abdul Qodir Jailani, oleh sebab ma`rifatmu sudah sampai kepadaKu, maka dari itu kamu saya bebaskan dari kewajiban-kewajiban. Sudah tidak ada kewajiban terhadapmu dan tidak ada larangan terhadapmu, dikarenakan kamu sudah sampai puncak”.
Akan tetapi Syekh Abdul Qodir Jailani waspada, dan berkata :
” Yaa la`in, wahai la`natulloh, a`uudzu billaahi minasy syaithoonir rojiim, bangsat kamu ! “.
Lalu Syetan terjungkal dan berkata :
” Selamat wahai Syekh Abdul Qodir Jailani. Sudah 70 orang ahli tashawwuf yang saya tipu dan aku berhasil semua, lalu saya tipu panjenengan ternyata tidak bisa, saya sial hari ini “.
Beginilah halusnya tipuan Syetan, apalagi memakai bentuk cahaya yang cemlorot.
Syekh Abdul Qodir Jailani saja ditipu seperti ini, Nabi Adam di surga saja juga ditipu, apalagi saya dan sampeyan, digleto berkali-kali.
Didalam menipu manusia, memang Syetan itu lihai dan menggunakan banyak cara.
Agar tidak ketahuan bahwa itu tipuan, maka tipuan itu ditutup dengan kebaikan.
” Saya tipu manusia dengan tutup seakan-akan itu adalah hidayatulloh. Tapi sebenarnya itu adalah maksiat “.
Jadi dilewatkan jalan yang halus tapi akhirnya nanti masuk jurang.
Jadi kita harus hati-hati.
Syetan itu juga sedih bila tipuannya tidak berhasil.
Rosululloh pernah bersabda :
” Kalau manusia itu banyak dzikir Laa ilaaha illalloh dan banyak membaca istighfar, maka Syetan itu akan sedih, kurus engkrik-engkriken, badannya rusak “.
Mengapa demikian ?
Karena walaupun Syetan itu sudah menggoda seorang manusia, dan manusia itu telah berbuat maksiat 70 tahun umpamanya, tapi kalau manusia itu bertaubat betul kepada Alloh dan diampuni, maka sia-sialah usaha Syetan selama 70 tahun itu, hilang sama sekali.
Dan sebaliknya, kalau kita itu tidak dzikir dan tidak istighfar, maka Syetan pasti senang dan itu akan menjadi gizinya Syetan.