MENJAGA KEMURNIAN ISLAM ?

Seperti kita tahu di Indonesia, sekolompok ulama dari lembaga Islam yang terkenal justru mengambil alih otoritas Tuhan, merekalah yang menentukan suatu aliran keagamanaan sesat atau tidak. Jika sesat maka konsekuensinya adalah dipenjara dengan dakwaan penistaan atas agama. Konsekuensi lainnya adalah ia harus keluar dari Indonesia, atau disuruh membuat agama baru dengan nama yang berbeda, atau tetap bertahan di Indonesia dengan resiko akan menghadapi kekerasan dari umat Islam lain yang tidak setuju keberadaaan mereka. Sungguh aneh jika seseorang atau suatu kelompok harus dihakimi karena keyakinannya berbeda dengan keyakinan kebanyakan orang.

Lah… yang seperti ini kan berarti manusia berkuasa atas manusia yang lain. Padahal Nabi Muhammad saja dilarang menguasai manusia. Simak dalilnya berikut ini :
Berikanlah pelajaran, karena sesungguhnya kamu (Muhammad) seorang pemberi pelajaran dan bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. (Q.S Al Ghasyiyah (88):22 

Loh bukankah kita harus menjaga kemurnian Islam? Jika aliran lain dibiarkan saja bermunculan bukankah Islam nanti malah jadi centang-perenang, berwarna-warni? Nah disinilah banyak orang yang tidak menyadari kekeliruannya sendiri. Mereka lebih mengutamakan ego golongannya sendiri. Tafsiran golongannya sendiri disangkanya yang paling murni. Padahal kemurnian Islam sesungguhnya adalah relatif. Bagi orang Sunni punya versi sendiri memandang kemurnian Islam. Bagi orang Syiah, juga punya versi sendiri. Begitu juga bagi Ahmadiyah, NU, LDII dan berbagai bentuk kelompok Islam lainnya, mereka punya penafsiran tersendiri. 

Kemurnian Islam hanya bisa terjadi manakala Nabi Muhammad hidup di dunia terusmenerus sehingga jika ada persoalan baru maka langsung bisa dijawab. Nah karena umur Nabi hanya 63 tahun, maka kitalah yang harus meneruskan kembali menafsirkan Al Quran dan Hadist sesuai perkembangan jaman.

Tumbuhnya aliran-aliran dalam agama Islam sesungguhnya adalah hal yang wajar saja sebab agama sebelum Islam pun mengalami hal serupa.
Tentang akan terpecah belahnya umat Islam, telah diramalkan oleh Nabi Muhammad dalam suatu Hadistnya mengatakan :
“Dari Auf bin Malik ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam : Sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, satu golongan masuk surga, dan tujuh puluh dua golongan masuk neraka”. (H.R Ibnu Majjah

Angka 73 diatas tentu hanya simbol saja karena pada kenyataannya, aliran pada agama Islam bisa mencapai jutaan. Hanya satu golongan yang benar dan kita tidak pernah tahu siapa golongan tersebut. Akhirnya banyak golongan ngaku-ngaku sebagai yang paling benar. 

Ada sebagian orang mengatakan Hadist diatas palsu. Nah lagi-lagi orang hanya melihat dalil saja. Meskipun Hadist diatas palsu sekalipun, yang kita lihat kenyataannya memang Islam terpecah menjadi berbagai aliran. Ini adalah fakta! Kenyataan! Sudah tidak perlu dalil lagi untuk melihat kenyataan ini.  

Nabi Muhammad mengatakan hal demikian adalah wajar saja karena beliau telah melihat pengalaman historis agama sebelum Islam dan Nabi pun menyadari bahwa manusia adalah mahluk yang dinamis. Ia selalu berkembang dari masa ke masa dalam lingkungan yang berbeda sehingga pemikiran tiap manusia tidaklah akan sama. Lah kalau semuanya seragam ya bukan manusia namanya tapi malaikat!

ALAMAT TAHUN 1433H

MACAMNYA BINTANG (BURUJ).

          
Dalam Alqur-an banyak diterangkan bahwa Alloh Ta’ala telah menciptakan langit dan di langit itu ada gugusan bintang-bintang. Diantara ayatnya yang menerangkan :
“Dan perhatikanlah langit yang mempunyai gugusan bintang-bintang “. (Al buruj ayat 1).
“Dan sungguh kami telah menjadikan di langit gugusan bintang-bintang “. ( Al hijr ayat 16).
“Maha Barokah Dzat yang telah menjadikan di langit gugusan bintang-bintang “. ( Al furqon ayat 61 )
          
Dan gugusan bintang (buruj) tersebut ada 7, adapun namanya 7 bintang (buruj) itu ialah :
  1. Buruj Syamsi.
  2. Buruj Qomari.
  3. Buruj Marikh.
  4. Buruj Athorith.
  5. Buruj Musytari.
  6. Buruj Zuhro.
  7. Buruj Zuhal.
 
FUNGSINYA BINTANG-BINTANG (BURUJ)
         
Fungsinya bintang-bintang (buruj) itu ialah sebagai petunjuk, sebagaimana diterangkan dalam Alqur-an :
” Dan ada beberapa alamat dan dengan bintang mereka mendapat petunjuk “. (An-nahl ayat 16)
 
BINTANGNYA TAHUN 1433 H.
 
Awal pergantian tahun 1433 H jatuh pada hari Ahad Wage, bintangnya Asy-Syamsu (Matahari). Bagaimana dengan tahun ini?
 
Pada tahun ini dari satu sisi mengalami positif, banyak hal-hal yang menyenangkan, akan tetapi di sisi lain akan banyak orang yang mengungsi, tidak tahu akan mengungsi dimana.
 
Tapi kita harus berdo’a kepada Alloh Ta’ala agar tidak terjadi seperti yang terjadi pada kaum Shodum. Dulu di sebut kaum Shodum kalau sekarang Yordania. Nabi yang di perintah kepada kaum Shodum adalah Nabi Luth.
 
Berdo’a kepada Alloh SWT, mudah-mudahan tidak akan terjadi. Karena kami melihat di dalam Al Qur-an:
ILLA AALA LUUTHIN INAAA LAMUNAJJUUHUM AJMA’IIN
Artinya: Hanya yang kami selamatkan Luth dan pengikutnya.
 
 
Contoh Do’a untuk menghadapi tahun 1433 H
ALLOHU HAFIIDLUN 3X
FALLOHU KHOIRON HAAFIDLON WAHUWA ARHAMUR ROOHIMIIN
LAAHAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘ADHIM.
SHOLLALLOHU WA SALLAMA ‘ALA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA ‘ALA AALIHI WA ASH-HAABIHI AJMA’IIN.
 
Amalan ini supaya di amalkan mulai tahun ini! Terserah, boleh di kerjakan di waktu siang, pagi, sore, malam. Mudah-mudahan kita dalam keadaan selamat.

HAKEKAT PERJUANGAN

Kita sering mendengar sebuah perkumpulan atas nama Allah SWT. Baik itu lembaga pendidikan Islam seperti pondok pesantren, yayasan Islam atau organisasi Islam. Akan tetapi hakekat persatuan dan pertemuan adalah  persatuan dan pertemuan hati. Hati yang saling mencintai karena Allah SWT, mudah melupakan kepentingan pribadi dan keluarga.
 

Jika makna ini tersingkiran maka akan kita temukan sebuah suasana  keluarga pesantren, seperti adanya peristiwa disaat belum lama Kiai sepuh meninggal, anak-anaknya berebut dapur santri, kantin dan pembagian jumlah santri yang ikut. Karena santri di anggap sebagai aset yang mendatangkan keuntungan.

Dalam sebuah yayasan atau organisasipun bisa terjadi  demikian. Pergantian kepemimpinanpun kadang dilakukan dengan cara yang tidak beradab seperti perebutan kekuasaan dalam sebuah pemerintahan. Main olok, fitnah dan mencari-cari kejelekan orang yang diperkirakan menghalanginya untuk sampai kepada kepemimpinannya.

Kenapa yang semacam ini terjadi ? Pesantren, yayasan dan organisasi menjadi ajang pertikaian dan  tempat suburnya dendam dan dengki para keluarga dan pengurusnya.

Rasulullah pernah meyebutkan “Ada amal yang secara lahir adalah amal akhirat akan tetapi sama sekali tidak ada nilai akhiratnya. Ada amal yang terlihat secara lahir sebagai amal dunia akan tetapi sarat dengan nilai akhirat.
Artinya ada sesuatu yang tersembunyi dibalik gebyar sebuah rutinitas dan aktivitas yang menjadi standar penilaian sebuah amal. Ia adalah ” niat ” yang tersembunyi didalam kalbu. Dan disitulah tempat penilaian Allah SWT yang sesungguhnya. Dan hanya Allahlah yang tahu dan  akan menilai.

Orang yang berjuang Karena Allah  akan selalu berfikir bagaimana sebuah Pesantren, Yayasan dan Organisasi itu maju dan berkembang. Tidak meributkan kenapa dia tidak memimpin.
Dalam hal ini ada tanda-tanda dhohir yang harus dicermati yang akan menghantarkan kita kepada makna ketulusan dalam berjuang. Diantaranya adalah dengan tidak meremehkan kelompok lain atau lembaga lain selama  dalam sebuah perjuangan di jalan Allah SWT. Sebab meremehkan adalah kesombongan yang akan  menghantarkan seseorang untuk cinta pangkat dan sanjungan.

Seorang Ustadz yang mempunyai jamaah besar dalam pengajiannya akan begitu mudah mengomentari dan meremehkan Ustad lain yang jamaahnya lebih sedikit. Seseorang yang mempunyai santri banyak begitu mudah meremekan oraang lain yang santrinya lebih sedikit. Atau seseorang yang berpendidikan Luar Negeri begitu mudah meremehkan orang yang pendidikanya hanya di Dalam Negeri saja. Itu adalah benih-benih  Anti ketulusan. Dari kebiasaan meremehkan orang lain dan kelompok lain inilah akan subur kerakusan pangkat dan sanjungan. Sehingga sebuah keluarga besar Pesantren, Yayasan dan Organisasi menjadi ajang pertikaian dan tempat suburnya kedengkian dan dendam. Semoga Allah memberi kita ketulusan dalam berjuang!
 

MENGGAPAI HIDAYAH DENGAN KEINSYAFAN

Imam muslim mengabadikan sebuah kisah yang di sampaikan oleh Rasulullah. Kisah sebuah ketulusan kunci mendapatkan hidayah dan kemulyaan. Disebutkan bahwa Rasulullah bercerita tentang seorang kiai yang sangat gemar beribadah. Ia sengaja memilih tempat yang jauh dari kebisingan kota, di atas gununglah yang jadi pilihanya. Cukup lama ia berada di tempat tersebut, hari-harinya adalah hanya untuk bersujud dan berdzikir kepada Allah.
 

Ditempat yang berbeda, yaitu ditengah kebisingan manusia mencari dunia, hiduplah seorang pemuda yang bergelimang dalam dosa dan kenistaan. Ia adalah preman pasar yang dalam kesehari-harianya adalah menimbun dosa.
Pada suatu ketika sang kiai yang di atas gunung tersebut  kehabisan bekal makanan, maka iapun harus segera turun ketengah pasar untuk membeli bekal makanan secukupnya. Dalam waktu yang bersamaan, preman pasar yang terkenal dengan kejahatanya tersebut tiba-tiba tergerak hatinya untuk bertemu dengan kiai yang tinggal di lereng gunung. Ia yakini ia adalah orang soleh dan kedatanganyapun adalah untuk tujuan yang amat mulya yaitu ingin mendengar nasehat dan mendapatkan bimbingan dari sang kiai. Maka iapun mengambil keputusan untuk pergi keatas gunung untuk menemui orang tersebut.
 
Karena waktu untuk memenuhi keperluan dua manusia tersebut adalah sama maka mau tidak mau mereka harus berpapasan ditengan jalan. Di pegunungan yang ada adalah jalan setapak yang hanya cukup satu orang berjalan, jika ada orang lain yang datang dari arah berlawanan maka salah satu dari mereka harus mengalah. Begitulah pemandangan yang terjadi pada saat itu antara sang kiai yang ahli ibadah dan preman yang ahli maksiat.
 
Suasana yang amat mengagetkan sang preman saat itu, berpapasan dengan orang yang dikagumi dan di hormati ditempat yang tidak di duga yaitu di tengah jalan setapak. Ia merasa belum siap bertemu di tempat tersebut, ia ingin bertemu dengan sang kiai  dirumah dan tempat ibadahnya dan bukan di jalan. Sang preman merasakan didalam dirinya rasa takut, kagum dan hormat bercampur menjadi satu. Itulah yang menjadikan sang preman terduduk di jalan setapak tanpa ia sadari. Ia tidak mampu bertutur kata sepatah katapun dan ia hanya mampu memberi isyarat dengan tanganya kepada kiai tersebut yang maksudnya “silakan melewati jalan setapak ini!” Sang kiaipun berlalu dan mata sang premanpun tidak berpindah  dari sang kiai hingga lenyap dari pandanganya.
 
Suasana lain yang di rasakan sang kiai di saat matanya tertuju kepada sang preman yang berdiri di jalan setapaknya. Ia merasa risih dengan pemandangan itu maka iapun melewati sang preman dengan kesombonganya, tidak ia mengucapkan salam kepadanya, tidak ia bertanya keperluan dan tujuan sang preman ke atas gunung. Yang ada adalah keangkuhan dan kesombonganya karena merasa dia adalah kiai dan ahli ibadah yang seolah benar-benar  lebih dekat kepada Allah SWT lalu ia  memandang sang preman dengan mata merendahkan dan meremehkan. Ditengah-tengah cerita ini Rasulullah menjelaskan bahwa karena kesombongan sang kiai tersebut maka Allah mencabut hidayah dari hatinya dan karena keinsyafan, kekaguman dan rasa hormat sang preman kepada kiai  maka Allah memberikan hidayah kepadanya dan mengangkatnya menjadi kekasihnya.
 
Itulah penjelasan dari Rasulullah bahwa orang yang katanya ahli ibadah, alim, soleh akan tetapi jika itu semua menjadikan ia merendahkan orang lain maka hal itu akan menjadikan sebab di cabutnya hidayah Allah SWT. Begitu sebaliknya biarpun seseorang bergelimang dalam kejahatan dan kemaksiatan  akan tetapi ada keinsyafan, kekaguman dan cinta di hatinya kepada kiai, orang soleh dan ahli ibadah maka hal itu akan menjadikan sebab mendapatkan hidayah dari Allah SWT.
 
Itu adalah cerita dari Rasulullah SAW untuk kita, yang yang isinya adalah nasehat dan peringatan bagi kita.
 
Kita harus melihat diri kita, sebagai apa kita? Menginsyafi keberadaan kita. Jika kita sebagai ustadz harus insyaf dengan posisi ini dengan  senantiasa memandang orang yang belum mengerti dengan mata kasih dan cinta, bukan dengan kesombongan dan keangkuhan. Jika kita adalah orang yang tidak mengerti atau banyak dosa  maka kita harus menyadari kekurangan ini dengan senantiasa berusaha untuk bisa dekat dan mencintai para ulama dan orang soleh. Itulah pintu hidayah untuk mendapatkan kemulyaan dihadapan Allah SWT. Inilah yang akan menjadikan kiai semakin terlihat santun dan  indah dalam mengajak kepada kebaikan yang pada akhirnya menjadikan orang yang berada di jalan yang salah mudah untuk mencintai para kiai. Hasilnya adalah keindahan dari yang mengajak dan yang di ajak dan dari sinilah sebab mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

Apa Itu Khilafah?

Banyak diantara saudara kami yang sangat tegas menolak khilafah (termasuk saya pribadi). Tapi mereka juga saudara kami, jadi yang penting saling menghargai saling menghormati. Salah satu kader top mereka juga rekan dekat kami. Bertahun tahun kami selalu ditemani dan diatarkan  ke Pesantren kami, jika kami ada acara di Pesantren. Dia juga mengikuti pengajian-pengajian di pesantren kami. Tak pernah kami saling ejek, saling serang. Selalu damai sampai sekarang, meskipun kini  dia sudah di rekrut ke pusat di Jakarta.
 
Nah di sini kami “COPAS”kan tentang apa itu “KHILAFAH” , dari sumber utamanya, rumahnya HTI. Setidaknya mereka juga ingin pendapatya di dengar. Kalaupun setelah kita memahami maksud mereka, dan kemudian kita tetap tidak setuju , itu hak kita. Semoga manfaat.
 
***
Apa Itu Khilafah?
 
Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia. Khilafah bertanggung jawab menerapkan hukum Islam, dan menyampaikan risalah Islam ke seluruh muka bumi. Khilafah terkadang juga disebut Imamah; dua kata ini mengandung pengertian yang sama dan banyak digunakan dalam hadits-hadits shahih.
 
Sistem pemerintahan Khilafah tidak sama dengan sistem manapun yang sekarang ada di Dunia Islam. Meskipun banyak pengamat dan sejarawan berupaya menginterpretasikan Khilafah menurut kerangka politik yang ada sekarang, tetap saja hal itu tidak berhasil, karena memang Khilafah adalah sistem politik yang khas.
 
Khalifah adalah kepala negara dalam sistem Khilafah. Dia bukanlah raja atau diktator, melainkan seorang pemimpin terpilih yang mendapat otoritas kepemimpinan dari kaum Muslim, yang secara ikhlas memberikannya berdasarkan kontrak politik yang khas, yaitu bai’at.Tanpa bai’at, seseorang tidak bisa menjadi kepala negara. Ini sangat berbeda dengan konsep raja atau dictator, yang menerapkan kekuasaan dengan cara paksa dan kekerasan. Contohnya bisa dilihat pada para raja dan diktator di Dunia Islam saat ini, yang menahan dan menyiksa kaum Muslim, serta menjarah kekayaan dan sumber daya milik umat.
 
Kontrak bai’at mengharuskan Khalifah untuk bertindak adil dan memerintah rakyatnya berdasarkan syariat Islam. Dia tidak memiliki kedaulatan dan tidak dapat melegislasi hukum dari pendapatnya sendiri yang sesuai dengan kepentingan pribadi dan keluarganya. Setiap undang-undang yang hendak dia tetapkan haruslah berasal dari sumber hukum Islam, yang digali dengan metodologi yang terperinci, yaitu ijtihad. Apabila Khalifah menetapkan aturan yang bertentangan dengan sumber hukum Islam, atau melakukan tindakan opresif terhadap rakyatnya, maka pengadilan tertinggi dan paling berkuasa dalam sistem Negara Khilafah, yaitu Mahkamah Mazhalim dapat memberikan impeachment kepada Khalifah dan menggantinya.
 
Sebagian kalangan menyamakan Khalifah dengan Paus, seolah-olah Khalifah adalah Pemimpin Spiritual kaum Muslim yang sempurna dan ditunjuk oleh Tuhan. Ini tidak tepat, karena Khalifah bukanlah pendeta. Jabatan yang diembannya merupakan jabatan eksekutif dalam pemerintahan Islam. Dia tidak sempurna dan tetap berpotensi melakukan kesalahan. Itu sebabnya dalam sistem Islam banyak sarana check and balance untuk memastikan agar Khalifah dan jajaran pemerintahannya tetap akuntabel.
 
Khalifah tidak ditunjuk oleh Allah, tetapi dipilih oleh kaum Muslim, dan memperoleh kekuasaannya melalui akad bai’at.Sistem Khilafah bukanlah sistem teokrasi. Konstitusinya tidak terbatas pada masalah religi dan moral sehingga mengabaikan masalah-masalah sosial, ekonomi, kebijakan luar negeri dan peradilan. Kemajuan ekonomi, penghapusan kemiskinan, dan peningkatan standar hidup masyarakat adalah tujuan-tujuan yang hendak direalisasikan oleh Khilafah. Ini sangat berbeda dengan sistem teokrasi kuno di zaman pertengahan Eropa dimana kaum miskin dipaksa bekerja dan hidup dalam kondisi memprihatinkan dengan imbalan berupa janji-janji surgawi. Secara histories, Khilafah terbukti sebagai negara yang kaya raya, sejahtera, dengan perekonomian yang makmur, standar hidup yang tinggi, dan menjadi pemimpin dunia dalam bidang industri serta riset ilmiah selama berabad-abad.
 
Khilafah bukanlah kerajaan yang mementingkan satu wilayah dengan mengorbankan wilayah lain. Nasionalisme dan rasisme tidak memiliki tempat dalam Islam, dan hal itu diharamkan. Seorang Khalifah bisa berasal dari kalangan mana saja, ras apapun, warna kulit apapun, dan dari mazhab manapun, yang penting dia adalah Muslim.Khilafah memang memiliki karakter ekspansionis, tapi Khilafah tidak melakukan penaklukkan wilayah baru untuk tujuan menjarah kekayaan dan sumber daya alam wilayah lain. Khilafah memperluas kekuasaannya sebagai bagian dari kebijakan luar negerinya, yaitu menyebarkan risalah Islam.
 
Khilafah sama sekali berbeda dengan sistem Republik yang kini secara luas dipraktekkan di Dunia Islam. Sistem Republik didasarkan pada demokrasi, dimana kedaulatan berada pada tangan rakyat. Ini berarti, rakyat memiliki hak untuk membuat hukum dan konstitusi. Di dalam Islam, kedaulatan berada di tangan syariat. Tidak ada satu orang pun dalam sistem Khilafah, bahkan termasuk Khalifahnya sendiri, yang boleh melegislasi hukum yang bersumber dari pikirannya sendiri.
 
Khilafah bukanlah negara totaliter. Khilafah tidak boleh memata-matai rakyatnya sendiri, baik itu yang Muslim maupun yang non Muslim. Setiap orang dalam Negara Khilafah berhak menyampaikan ketidaksetujuannya terhadap kebijakan-kebijakan negara tanpa harus merasa takut akan ditahan atau dipenjara. Penahanan dan penyiksaan tanpa melalui proses peradilan adalah hal yang terlarang.
 
Khilafah tidak boleh menindas kaum minoritas. Orang-orang non Muslim dilindungi oleh negara dan tidak dipaksa meninggalkan keyakinannya untuk kemudian memeluk agama Islam. Rumah, nyawa, dan harta mereka, tetap mendapat perlindungan dari negara dan tidak seorangpun boleh melanggar aturan ini. Imam Qarafi, seorang ulama salaf merangkum tanggung jawab Khalifah terhadap kaum dzimmi:“Adalah kewajiban seluruh kaum Muslim terhadap orang-orang dzimmi untuk melindungi mereka yang lemah, memenuhi kebutuhan mereka yang miskin, memberi makan yang lapar, memberikan pakaian, menegur mereka dengan santun, dan bahkan menoleransi kesalahan mereka bahkan jika itu berasal dari tetangganya, walaupun tangan kaum Muslim sebetulnya berada di atas (karena faktanya itu adalah Negara Islam). Kaum Muslim juga harus menasehati mereka dalam urusannya dan melindungi mereka dari ancaman siapa saja yang berupaya menyakiti mereka atau keluarganya, mencuri harta kekayaannya, atau melanggar hak-haknya.”
 
Dalam sistem Khilafah, wanita tidak berada pada posisi inferior atau menjadi warga kelas dua. Islam memberikan hak bagi wanita untuk memiliki kekayaan, hak pernikahan dan perceraian, sekaligus memegang jabatan di masyarakat. Islam menetapkan aturan berpakaian yang khas bagi wanita – yaitu khimar dan jilbab, dalam rangka membentuk masyarakat yang produktif serta bebas dari pola hubungan yang negatif dan merusak, seperti yang terjadi di Barat.
 
Menegakkan Khilafah dan menunjuk seorang Khalifah adalah kewajiban bagi setiap Muslim di seluruh dunia, lelaki dan perempuan. Melaksanakan kewajiban ini sama saja seperti menjalankan kewajiban lain yang telah Allah Swt perintahkan kepada kita, tanpa boleh merasa puas kepada diri sendiri. Khilafah adalah persoalan vital bagi kaum Muslim.
 
Khilafah yang akan datang akan melahirkan era baru yang penuh kedamaian, stabilitas dan kemakmuran bagi Dunia Islam,mengakhiri tahun-tahun penindasan oleh para tiran paling kejam yang pernah ada dalam sejarah. Masa-masa kolonialisme dan eksploitasi Dunia Islam pada akhirnya akan berakhir, dan Khilafah akan menggunakan seluruh sumber daya untuk melindungi kepentingan Islam dan kaum Muslim, sekaligus menjadi alternatif pilihan rakyat terhadap sistem Kapitalisme. (hti)
 

ISLAM DAN DEMOKRASI

Apabila kita menengok barang sepintas tentang perkembangan Islam maka kita akan dihadapkan pada permaslahan yang kompleks sekali, bukan saja permaslahan tentang agama akan tetapi kita akan dihadapkan pada permaslahan politik, pemerintahan, organisasi, pergolakan dan lain-lain. Pada zaman dahulu orang islam sudah tidak asing lagi dengan masalah politik dan demokrasi, hal ini dibuktikan dengan sejarah mencatat bahwa pada zaman Rasullallah SAW. pengangkatan panglima perang, kepala pemerintahan di wilayah Islam yang telah ditakhlukkan itu berdasarkan musyawaroh yang bertempat di serambi masjid. Dimana pada waktu itu masjid bukan semata-mata untuk beribadah akan tetapi juga berfungsi untuk bermusyawaroh memecahkan masalah umat, hal ini bisa dibuktikan dengan pengangkatan khalifah sebagai penerus Nabi mulai Abu Bakar, Umar, Usman dan Al. Perlu digaris bawahi bahwa proses penunjukkan para sahabat untuk menjadi pengganti Nabi melalui proses musyawaroh yang memakan waktu cukup lama.

 
Dalam musyawaroh itu timbul silang pendapat yang sudah lazimnya dalam dunia demokrasi. Adapun di bidang politilk sudah tidak menjadi rahasia umum bahwa sebelum agama lain mencanangkan diri sebagai golongan yang ahli di bidang politik, islam sudah memulainya terlebih dahulu yaitu berawal dari urusan tentang Negara yang telah ditakhlukkan oleh Islam.
 
Pada masa itu Nabi menunjuk para panglima perang atau para sahabat yang sudah mampu untuk menjadi kepala Negara yang mengatur tentang hubungan pemerintahan urusan agama, bahkan pada masa itu sudah terbentuk berbagai majelis yang diberi nama sesuai dengan bidangnya masing-masing. Misalnya syuro yang mempunyai arti musyawaroh. Ini sebagaimana ilustrasikan di atas dalam pemilihan calon-calon kepala Negara.

Berdasarkan keterangan di atas dapat dirtarik suatu kesimpulan bahwa pandangan Islam dan demokrasi mempunyai beberapa persamaan dan perbedaan, antara lain: Islam dan demokrasi itu adalah dua sistem yang berbeda karena Islam adalah faham aqidah yang bersumber dari Al-qur’an dan hadits yang menitikberatkan pada keluhuran budi, sopan santun, hormat-menghormati. Sedangkan demokrasi dan politik seringkali menitik beratkan pada kebebasan berfikir dan berpendapat tanpa disadari oleh sikap yang saling menguntungkan dan perlu diketahui bahwa demokrasi dan politik terlahir dan tercipta oleh tangan manusia yang hanya bertitik pangkal pada kekuasaan serta jabatan. Sedangkan Islam lahir dan diciptakan oleh tuhan melalui Nabi Muhammad SAW. Secara garis besar Islam sudah mempunyai pedoman roda kehidupan yang sudah baku dan tidak akan berubah sampai akhir zaman yaitu Al-Qur’an dan Hadits.

 
Jadi menurut kami anggapan sebagian ahli tokoh barat yang notabene mereka merupakan orang non muslim yang mengatakan bahwa Islam itu hanya suatu golongan yang terbelakang, ketinggalan dalam masalah berpolitik, berdemokrasi. Itu sungguh salah besar karena pada dasarnya agama Islam dari dahulu hingga sekarang sudah mengajarkan dan menciptakan sistem berdemokrasi akan tetapi belum maksimal dalam prakteknya pada dewasa ini disebabklan karena beberapa faktor;
  1. Terjadi perselisihan, pertentangan di dalam tubuh umat Islam sendiri. Baik permusuhan dan pertikaian itu berpangkal pada aqidah, keagamaan, aliran kepercayaan dalam Islam sehingga dewasa ini seakan umat islam disibukkan pada masalah intern.
  2. Islam, demokrasi serta politik memang secara garis besar tidak bisa disamakan. Karena secara mendasar faham dan tujuan keduannya jauh berbeda dimana islam merupakan faham keagamaan yang bertitik pada masalah jiwa dan hati manusia yang berbudi pekerti luhur, saling hormat mengormati dan toleransi. Sedangkan politik demokrasi adalah dua sistem yang diciptakan manusia untuk meraih kekuasaan, jabatan demi memenuhi ambisi hawa nafsu.

Mencintai Diri Sendiri

Sudahkah Anda mencintai diri sendiri?
 
Banyak batasan makna kata tentang cinta ini. Namun apapun batasan makna yang diberikan, pada dasarnya ‘cinta’ bermakna perasaan puas dengan menjadi lengket melekat pada sesuatu atau seseorang. Sehingga, sesuatu atau seseorang yang dicinta biasanya mendapat perlakuan yang istimewa dari orang yang mencintainya, mendapat penjagaan dari segala hal yang dapat membahayakan keberadaannya. Semua hal yang dilakukan pecinta adalah demi menjaga keberadaan rasa puas yang dimiliki terhadap yang dicintai. Kalau yang dicinta itu berupa barang, barang itu tidak dibiarkan rusak, cacat, atau dirampas orang. Kalau yang dicinta itu berupa orang, orang itu diharap tidak berpaling darinya, syukur-syukur dapat membalas cintanya dengan cinta padanya. Sehingga, betapa menyenangkan orang yang mencintai seseorang yang mencintai dirinya, pucuk dicinta ulam tiba. Sebaliknya, apabila orang yang dicintai itu berpaling darinya, menjauhinya; cinta yang muncul dan berkembang itu bisa berubah menjadi kebencian, benci karena perasaan puasnya untuk lengket melekat tidak terpenuhi.
 
Yang disebut ‘diri sendiri’ artinya bukan orang lain, bukan pihak lain, atau dengan istilah lain yaitu ‘aku’. Kata ‘diri’ itu sendiri meliputi tubuh dan batin.
 
Jadi, mencintai diri sendiri artinya adalah mencintai tubuh dan batin sendiri. Sebagaimana seseorang yang mencintai tubuhnya sendiri, ia akan merawat tubuh dengan memberinya makan dan minum, menjaganya dari hal-hal yang dapat membahayakan tubuh, mengobatinya bila sakit, membersihkannya dari kotoran yang melekat, dsb. Seseorang mencintai batin sendiri dengan mencari hal-hal yang memuaskan perasaan sendiri, melihat bentuk-bentuk yang menyenangkan, mendengarkan suara-suara yang menyenangkan, mencium bau-bauan yang menyenangkan, merasakan rasa-rasa yang menyenangkan, menyentuh sentuhan-sentuhan yang menyenangkan, memikirkan hal-hal yang menyenangkan, dsb.
 
Kebanyakan orang apabila ditanya, ”Sudahkah Anda mencintai diri sendiri?” akan menganggap pertanyaan itu sebagai pertanyaan bodoh, pertanyaan orang blo’on. Adakah orang yang tidak mencintai diri sendiri? Tiap orang mengatakan bahwa sudah tentu ia mencintai diri sendiri. Memang benar, setiap orang mencintai diri sendiri. Diri sendiri adalah yang paling dicinta. Apa pun yang seseorang kerjakan adalah berdasar pada kecintaannya pada diri sendiri.
 
Namun, apabila ditanya lagi dengan sebuah penekanan, ”Sudahkah Anda benar-benar mencintai diri sendiri?” kebanyakan orang juga akan terperanjat, mundur selangkah, urung untuk menganggapnya sebagai pertanyaan bodoh, pertanyaan orang blo’on. Di sinilah letak perbedaannya. Orang mencintai diri sendiri, tetapi sudah benar-benar mencintai diri sendirikah ia? Hampir setiap orang, dengan alasan demi diri sendiri, mengatasnamakan demi kepentingan sendiri, demi kepuasan dan kebahagiaan diri sendiri, berpikir, berbicara dan bertindak-tanduk, apapun bentuk pikiran, kata-kata yang diucapkan dan perbuatan yang dilakukan.
 
Banyak orang salah langkah dalam upaya mencintai diri sendiri, berpengharapan baik bagi diri sendiri, menganggap hal yang buruk sebagai upaya hal yang baik untuk diri sendiri. 
 
Pelaku keburukan menganggap keburukan adalah baik sepanjang keburukan itu belum masak. Tetapi, setelah keburukan itu masak, ia baru menyadari bahwa keburukan adalah hal yang buruk.
 
Bentuk cinta pada diri sendiri yang dimaksud oleh para bijaksanawan adalah menanamkan kebaikan dalam diri sendiri, berlatih untuk berkeyakinan pada ajaran benar, bersemangat, ulet, bijaksana, murah hati, rendah hati, dsb. Cinta diri sendiri bukan sikap egois, karena tindakan egois adalah tindakan pemuasan nafsu kesenangan bagi diri sendiri dengan merampas hak-hak orang lain. Cinta diri sendiri justru sebagai sikap logis. Siapa utamanya yang bisa membuat diri sendiri kalau bukan diri sendiri. Orang-orang yang telah banyak memupuk kebajikan, menyempurnakan akidah adalah cara ideal dalam upaya mencintai diri sendiri. Para suciwan adalah bukti orang-orang yang mencintai diri sendiri secara sempurna.

FITNAH DAN KEMUNAFIKAN

Agama Islam adalah agama yang mengajari keindahan. Saat Nabi Muhammad SAW merintis persatuan dan kebersamaan di dalam komunitas kaum muslimin. Beliau menawarkan kepada orang-orang di luar Islam untuk hidup dengan tenang bersama kaum muslimin. Maka dibuatlah perjanjian dan kesepakatan untuk hidup berdampingan dengan agama yang berbeda beda.

Bagi Nabi Muhammad hal ini tidak menghawatirkan kaum muslimin sebab keberadaan mereka sangat bisa di kenali dengan simbul-simbul keagamaan mereka dan pengakuan mereka dari semula yang berbeda dengan kaum muslimin. Dan disaat terjadi pengkhinatan dari orang-orang diluar Islam tersebut akan dengan mudah Rasulullah SAW membuat suatu peringatan atau teguran kepada mereka.

Akan tetapi akan menjadi rumit permasalahanya jika hal itu telah ada campur tangan orang-orang yang seolah mengikuti Rasulullah SAW akan tetapi mereka lebih dekat dengan orang di luar Islam . Mereka itu adalah orang-orang munafik yang secara dhohir sholat bersama Rosulullah SAW disiang hari akan tetapi jika malam tiba mereka berkumpul dengan oang-orang kafir.

Ada pertanda yang amat jelas pada orang orang munafik tersebut , yaitu disaat umat Islam terlukai dan dibohongi mereka seolah?olah tidak tahu atau bahkan malah memancing di air keruh,sehingga keberadaanya benar-benar bagai duri didalam daging bagi muslimin.

Untuk memperkuat fitnah yang dihembuskan mereka akan membungkus kejahatanya dengan berbagai sampul indah beraroma Islam namun didalamnya adalah segala kebusukan. Diantara yang di jadikan pembungkus fitnah saat itu adalah masjid. Orang-orang munafik membangun masjid dengan tujuan memecah belah umat Islam. Dan pembangunan masjid ini dibantu oleh orang-orang diluar Islam[yahudi saat itu] yang sangat dendam dengan kaum muslimin. Mereka dengan sangat mudah membantu orang-orang munafik untuk membangun masjid. Dan benar, dari masjid ini tersebar fitnah diantara kaum muslimin. Hal itu sangat difahami oleh orang-orang pilihan seperti Rasulullah SAW dan para sahabat setia beliau. Maka dengan tegas Rasulullah memerintahkan agar menghancurkan masjid yang dibangun oleh orang munafik bersama orang yahudi ini. Itulah majid Dhiror, masjid yang penuh fitnah yang membahayakan.

Yang terjadi dizaman Rasulullah SAW ini akan terus terulang-ulang hingga ahli iman masuk surga dan para munafik dan orang kafir masuk neraka. Dan dizaman inipun tidak lepas dari orang-orang beriman yang senantiasa memperjuangkan agama Allah menghadapi orang-orang kafir. Begitu juga ada ahli fitnah yang berkedok Islam namun sepak terjangnya selalu merugikan kaum musliman.

Ada sekelompok orang yang mereka itu keluar dari agama Islam karena mengakui adanya nabi setelah nabi Muhammad Dan nabi palsu tersebut mengatakan dengan tegas bahwa yang tidak beriman kepadanya adalah tergolong orang kafir dan belum bisa disebut sebagai orang Islam.

Disaat seperti ini orang-orang pilihan Allah akan segera faham akan kekafiran ini. Maka terlihat diwajah mereka kasih sayang kepada kaum muslimin. Tidak rela jika ada kaum muslimin yang terjerumus dalam akidah kafir ini. Maka mereka terus berusaha untuk menghentikan kekafiran agar tidak menjangkit kaum muslimin.

Akan tetapi disaat itu juga muncul orang-orang munafik yang disaat kaum muslimin di aniaya di beberapa wilayah Indonesia mereka tidak tergerak untuk menolong mereka. Akan tetapi disaat ada gerakan dari ahli Iman untuk menghentikan kebohongan orang kafir yang yang berkedok Islam itu, orang-orang munafik ini bangkit membela kebatilan dan menentang bahkan dengan terang-terang mengadakan permusuhan kepada kaum muslimin demi membela kekafiran. Tidak beda ciri-ciri orang munafik ini dengan apa yang ada di zanman Rasulullah Saw, yaitu membuat proyek fitnah yang berkedok Islam, hanya bentuknya saja yang berbeda.

Jika di zaman Rasulullah SAW mereka membuat masjid fitnah kalau dizaman ini mereka membuat kelompok dan jaringan Islam yang penuh dengan fitnah. Dan yang membiayaipun tidak beda dengan apa yang ada di zaman Rasulullah SAW yaitu musuh-musuh Islam. Muatan jaringan dan perkumpulan ini adalah menfitnah dan merendahkan Islam yang di kemas dengan kajian-kajian keislaman. Dan bisa disaksikan, setiap yang bergabung dengan perkumpulan ini akan lebih senang membela orang di luar Islam daripada membela orang Islam.

Semoga Allah menjaga Iman kita semua.

RUH YANG BER-SHOLAWAT

Jenis ibadah dalam ajaran Islam banyak macamnya, tapi ibadah yang paling aneh sendiri adalah ibadah membaca sholawat.

Ibadah membaca sholawat itu pasti diterima oleh Alloh, tapi kalau ibadah-ibadah lain selain sholawat itu mungkin diterima dan mungkin tidak diterima.
 
Sholawat itu mengandung rahasia yang besar, dan tidak sembarang orang mengetahuinya.
           
Disini perlu kami terangkan ayat Al Qur-an yang memerintahkan orang mukmin supaya membaca sholawat :
 
INNALLOOHA WA MALAAIKATAHU YUSHOLLUUNA `ALANNABII YAA AYYUHAL LADZIINA AAMANUU SHOL-LUU `ALAIHI WASALLIMUU TASLIIMAA. ( Al Ahzab ).
“ Sesungguhnya Alloh dan Malai kat-MalaikatNya bersholawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah kamu semua kepada Nabi dan mengucap salam dengan sung-guh-sungguh “.
           
Bagi orang yang mengamalkan sholawat diusahakan supaya hafal ayat ini sebagai muqoddimahnya membaca sholawat.
 
Dan tata caranya apabila sedang membaca muqoddimah ayat ini adalah :
1. Ketika sedang membaca :
YAA AYYUHAL LADZIINA AAMANUU
harus sadar bahwa dirinya itu termasuk orang aamanuu.
2. Ketika sedang membaca : 
SHOL-LUU `ALAIHI WASALLIMUU TASLIIMAA
didalam hati harus merasa bahwa RUHnya diperintah langsung oleh Alloh Ta`ala untuk membaca sholawat.dan membaca salam kepada Kanjeng Nabi, kemudian bila sudah merasa demikian itu maka didalam hati mengucap :
SAMI’NAA WA ATHO’NAA
 
Begitulah rahasianya, dan ini hadiahnya kita mau ngikuti jalanpincang.com walaupun suhu diluar sangat panas.. mau perang kayaknya!!
 
***Bersambung

TARGET SHOLAWAT

Mengapakah kita diperintah membaca sholawat padahal sholawat itu do`a.

Bila saya yang mengartikan ayat ini, artinya akan aneh :
Pertama, Alloh berfirman :
(INNALLOOHA) : “ Sesungguhnya Alloh “.
(WA MALAAIKATAHU) : “ Dan seluruh Malaikat Alloh “ ( Jumlahnya malaikat itu tidak terbilang banyaknya bahkan jumlahnya malaikat itu lebih banyak dari pada pasir yang ada di lautan ).
(YUSHOLLUUNA) : Ini ada dua macam ; ada sholawatnya Alloh dan ada sholawatnya malaikat.
 
Alloh membaca sholawat ditujukan kepada Kanjeng Nabi dan malaikat juga membaca sholawat yang ditujukan kepada Kanjeng Nabi.
Akan tetapi sholawatnya Alloh itu tidak sama dengan sholawatnya malaikat dan sholawatnya kita-kita, jangan disamakan.
Sholawatnya Alloh ialah : Alloh melimpahkan Rohmat Khusus kepada Nabi.
Sholawatnya malaikat ialah : Malaikat berdoa/ meminta kepada Alloh supaya Nabi Muham-mad terus dilimpahi rohmat dan salam.
           
Dan setelah pernyataan dari Alloh seperti itu tadi, barulah Alloh Ta`ala perintah :
YAA AYYUHAL LADZIINA AAMANUU SHOLLUU `ALAIHI WASALLIMUU TASLIIMAA.
Artinya : “ Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu membaca sholawat kepada Nabi dan membaca salam dengan sungguh-sungguh “.
           
Cobalah kita renung-renungkan ! , padahal tanpa kita mintakan rohmat kepada Kanjeng Nabi, toh sudah pasti Alloh selalu melimpahkan Rohmatnya kepada Nabi, sebab Alloh sendiri yang menyatakan hal itu.
Tapi mengapa kita diperintah memintakan rohmat kepada Alloh ? Padahal sudah dilimpahi rohmat.
Mungkin saja Alloh menjawab : “ Lho kamu kok memintakan rohmat untuk Nabi, ya seharusnya justru kamu yang minta rohmat dari Nabi “.
Kalau kita memintakan rohmat untuk Nabi, lalu manakah Rohmatan lil aalamiin pada diri Nabi itu ? Kan sudah jelas dalam Al Qur-an :
WAMAA ARSALNAAKA ILLAA ROH-MATAN LIL `AALAMIIN. ( Al Anbiya`/107).
Artinya : “ Dan tiadalah Aku utus engkau (Muhammad) kecuali untuk Rohmat seluruh alam “.
 
Padahal Kanjeng Nabi itu Lautan Rohmat, lho kok dimintakan rohmat, seakan-akan kita menuangkan air satu cangkir kedalam lautan.
Rohmat manakah yang belum dilimpahkan Alloh kepada Kanjeng Nabi ? Adakah yang belum dilimpahkan ?
Dan yang kamu mintakan untuk Nabi itu rohmat yang mana ?
Padahal Alloh terus menerus memberikan rohmat.
Manusia : “ Ya Alloh, berikanlah rohmat kepada Nabi “.
Alloh : “ Sudah Kuberikan, bahkan terus-menerus “.
Manusia : “ Tapi ini yang perintah kan Panjenengan sendiri ? “.
Muser kan ?
           
Apakah Nabi Muhammad itu masih miskin rohmat sehingga seluruh manusia perlu memintakan rohmat dan salam kepada Nabi ?
Alloh sendiri yang berfirman bahwa Nabi Muhammad itu kekasihNya dan beliau sudah dijamin keselamatannya oleh Alloh tapi mengapa kok kita disuruh mendoakan ?
 
Apakah Nabi Muhamaad belum pasti selamat?
Kan beliau itu MA`SHUM artinya : Orang yang dijaga oleh Alloh dari keluputan-keluputan.
 
Mendengar ini, umat selain Islam senang, dan persoalan ini dijadikan celah untuk menyu-dutkan Islam supaya timbul keragu-raguan di kalangan umat Islam. Tujuan akhirnya adalah supaya orang-orang Islam itu pindah agama kemudian memeluk agama Kristen.
 
Kristen : “ Nabimu itu tidak patut, Nabi kok minta didoakan selamat, berarti belum tentu selamat. Kalau Nabiku justru menjadi Penebus dosa atau Juru selamat karena anaknya Alloh.Kalau Nabimu minta didoakan selamat, tapi kalau Nabiku justru juru selamat “.
Seandainya dipoyok-i demikian, apakah hati kita tidak panas ?
           
Jadi kita diperintah membaca sholawat itu ; secara dhohir mendoakan Kanjeng Nabi, tapi hakekatnya bukan mendoakan Kanjeng Nabi.
 
**>> Bersambung lagi