PUASA HARI LAHIR MENTELADANI ROSULULLOH SAW
LAQOD KAANA LAKUM FII ROSUULILLAAHI USWATUN HASANATUN LIMAN KAANA YARJULLOOHA WAL YAUMAL AAKHIRO WADZAKAROLLOHA KATSIIRON
Artinya:” Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap-harap Rohmat Alloh dan kedatangan hari Qiyamat dan dia banyak-banyak menyebut Alloh”.(Al Akhzab/S.33/21)
‘AN ABI QOTADATAL ANSHOORI RODLIYALLOO HU’ANHU : ANNA ROSUULULLOOHI SHOLLA LLOOHU ‘ALAHI WASALLAMA, SU-ILA ‘AN SHOUMI YAUMIL ITSNAINI FAQOOLA DZAALIKA YAUMUN WULID TU FIIHI WA BU-ITSTU FIIHI WA UNZILA ‘ALAYYA FIIHI (rowahu Muslim / Buluughul Marom/Bab Shoumut Tathowwu’/ Hadits nomer 699)
Artinya: Keterangan dari Abi Qotadah Al Anshori RA: Sesungguhnya Rosululloh SAW ditanya tentang puasa hari Isnen. Maka Beliau bersabda:”Di hari Isnen itu saya dilahirkan dan saya diangkat menjadi Rosululloh dan diturunkan kepada saya pada hari itu Al Qur-an”.
Waktu Rosululloh SAW ditanya mengapa Rosul puasa hari Isnen, Rosul menjawab bahwa pada hari Isnen itu Rosululloh dilahirkan, sedangkan Rosululloh SAW itu adalah contoh yang baik, Rosululloh SAW derajat ketinggiannya tidak ada yang membandingi, meskipun demikian masih puasa hari lahirnya. Dan kita sebagai ummatnya, apakah tidak sebaiknya mencontoh Rosululloh SAW…?.
Kami merasa heran, Pernah mendengarkan ceramahnya ‘Ulama populer di TV, pada malam Jum’at (biasanya ada acara Santapan Ruhani). Waktu itu kami kebetulan mendengarkan bahasan masalah Ibadah Puasa, dan dalam ceramah tersebut menerangkan, bahwa orang puasa hari kelahiran itu adalah Bid’ah Dlolalah, perbuatan Bid’ah yang diancam Neraka, karena tidak ada dasar Al Qur-an dan Hadits Nabi. Kalau ceramah tersebut menerangkan seperti itu maka Nabi Muhammad SAW diancam Neraka juga…!. Ini keterangan aneh bin ajaib, katanya tidak ada keterangan dalam Al Qur-an dan Hadits Nabi (padahal ceramah ini ditayangkan dalam Televisi). Apakah betul tidak ada keterangannya dalam Al Qur-an dan Hadits, atau beliau itu yang tidak bisa menemukannya…!. Kadang-kadang orang itu tidak menemukan dasarnya, langsung diambil kesimpulan tidak ada. Padahal tidak ada dengan tidak ketemu itu lain/beda. Kalau dicari kemudian tidak ketemu itu jelas ada, adanya dicari itu karena ada, untuk apa dicari kalau tidak ada, hanya saja dicari akan tetapi tidak ketemu.
Dalil dalam Al Qur-an dan Hadits itu ada dalil Naqli yang dijelaskan dalam ayat-ayatnya, tapi juga ada dalil Mafhum yaitu dalil pengertian yang diambil dari dalil Naqli. Sedangkan keterangan tentang puasa hari kelahiran itu yang banyak dalil Mafhum bukan dalil Naqol /naqli.
Kita diperintah mencontoh Rosululloh SAW dan Rosululloh SAW sendiri puasa hari lahirnya, yang diberi contoh adalah kita ummatnya, apakah yang diberi contoh ini diam saja tidak mencontoh…?. Maka jelas mengenai puasa hari kelahiran itu ada dalilnya ada dasarnya. Memang ada sebagian Ulama mengatakan bahwa puasa kelahiran itu tidak ada dalilnya, biarlah mereka berkata seperti itu.Yang jelas puasa hari kelahiran itu ada Haditsnya, dan kita mencontoh Rosululloh SAW.
Jadi puasa hari kelahiran itu adalah niat mensyukuri nikmat wujud manusia pada hari itu
MENGAGUNGKAN HARI LAHIR
  • Hari lahir itu adalah Yaumil Awwal
  • Hari lahir itu adalah Yaumil Akhir
  • Hari lahir itu adalah Yaumil Jihad
  • Hari lahir itu adalah Yaumil Hijroh
  • Hari lahir itu adalah Yaumil Fithroh
  • Hari lahir itu adalah Yaumit Talkinul Awwal
  • Hari lahir itu adalah Yaumil Ba’tsul Awwal.dll.
Kalau menerangkan nama hari kelahir-an,Yaumil-yaumil ini ada 40 macam. Dan satu macam saja bahasannya panjang.
Sampai-sampai Alloh Ta’ala sendiri menghormati hari kelahirannya Nabi Yahya As.
WASALAAMUN ‘ALAIHI YAUMA WULIDA
Artinya:”Salam (selamat) untuknya (N.Yahya) pada hari ia dilahirkan”.(Maryam/S.19/15)
Nabi Isa As sendiri Ta’dhim menghormati hari lahirnya sendiri.
WAS SALAAMU ‘ALAIYA YAUMA WULID TU
Artinya:”Selamat sejahtera bagiku pada hari aku dilahirkan”.(Maryam/S.19/33)
Seandainya kita tidak dilahirkan ke dunia ini, apakah ada nikmat mata, nikmat telinga, nikmat hidung, nikmat macam-macam lainnya. Semua nikmat di dunia yang diberikan kepada kita berdiri di atas nikmat landasan, yaitu wujud kita sendiri ini, itu Al Qur-an sendiri yang menerangkan.
WALLOOHU AKHROJAKUM MIN BUTHUUNI UMMAHAATIKUM
Yang akhirnya (diakhiri dengan):
LA’ALLAKUM TASYKURUUNA
Jadi kita ini harus mensyukuri nikmat wujud kita.