Dari tulisan sebelumnya, silahkan diangan-angan, kalau tahun 12 kenabian baru diwajibkan sholat lima waktu, jadi selama 12 tahun itu kanjeng Nabi dan juga Siti Khodjijah dan juga para shohabat masih belum sholat lima waktu!.  Sedangkan sholat lima waktu itu adalah tiangnya Agama.
QOOLAROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAM : ASH SHOLAWAATUL KHOMSI ‘UMUUDUL ISLAAMI (ALHADITS)
Artinya :Bersabda Rosululloh SAW ; Sholat lima itu adalah tiangnya agama Islam”.
Jadi selama 12 tahun itu Islam belum diberi tiang (cagak jw.), belum berdiri, sebab Islam belum berdiri.
Apakah mungkin selama 12 tahun itu Islam belum diberi tiang…!
Apakah selama 12 tahun itu kanjeng Nabi belum sholat lima waktu…! Kalau begitu selama itu yang dikerjakan sholat  apa..!. Bila demikian sholat lima waktu itu bukan kewajiban awwal. Pada hal haditsnya .
AWWALU MAA IFTARODLOLLOOHU TA’ALA ‘ALA UMMATII
Silahkan dibaca sendiri dalam kitab hadits Jami’ush Shoghir jilid I bab huruf Alif hal. 195. Kalau diwajibkan waktu Isro’ Mi’roj bukan kewajiban awwal itu namanya, jadi itu khilaf.
Malahan di hadits yang menerangkan tentang Isro’ Mi’roj itu ada 50 hadits lebih. Di dalam hadits itu diterangkan, pertama diwajibkan sholat itu sejumlah 50 rokaat, kemudian Nabi Muhammad SAW diajari oleh Nabi Musa As. Nabi Musa As dawuh kepada Nabi Muhammad SAW, “Kamu minta, pengurangan..!”. Yang akhirnya Nabi Muhammad SAW kembali lagi minta keringanan, dan sehingga mendapat keringanan.  Nabi Musa As menanyakan lagi,”Dapat pengurangan berapa!”. Dijawab oleh Kanjeng Nabi “Dapat pengurangan, lima”. Demikian itu masih disuruh kembali lagi oleh Nabi Musa As.”Kamu kembali lagi “.
Jadi yang mendekte itu adalah Nabi Bani Isroil, sehingga Kanjeng Nabi itu naik turun-naik turun. Kalau begitu Kanjeng Nabi itu adalah Nabi Usulan, seperti Nabi rewel. Tapi itu di Hadits Bukhori, hadits shohih, siapa yang berani melawan Bukhori..! Jadi kalau mendengar Hadits Bukhori itu pasti berkata  iya (diakui shohihnya).
Bagi kami, bagaimanapun kalau tidak cocok dengan Al Qur’an tidak bisa menerima. Sedang dalam Al Qur’an tidak ada keterangan seperti tersebut di atas. Yang ada dalam Al Qur’an , kewajiban sholat lima waktu itu sudah diturunkan jauh sebelum Isro’ mi’roj . Lihatlah di dalam surat Al Muzammil, sedang surat Al Muzamil itu turun setelah surat Al ‘Alaq (Iqro’). Jadi turunnya surat Al Muzammil itu di tahun satu kenabian. Sedang di ayat 20 ,surat ke 73,sudah ada perintah:
FAQRO-UUMAA TAYAS SARO MINHU WA  AQIIMUSH SHOLAATA WA ATUZ ZAKAATA (AL AYYAH)
Artinya:”Sebab itu bacalah apa-apa yang mudah di antaranya dirikanlah sholat dan berikanlah Zakat”.(Al Muzammil / S.73/20).
Jadi  kalau ada ayat seperti di atas (aqiimush sholaata wa atuz zakaata) itu maksudnya adalah sholat lima waktu, begitulah yang ada dalam Al Qur’an.
KETETAPAN SHOLAT LIMA WAKTU
Surat AlMuzammil itu turun di tahun 1 ke nabian, dan di situ sudah ada perintah sholat lima waktu, itu dalam Al Qur’an. Kalau diwajibkan ketika Isro’ Mi’roj, itu berarti melawan ayat itu (Al Muzammil /ayat 20), jadi itu keliru faham.
Pada waktu Isro’ Mi’roj itu kanjeng Nabi diberi ketetapan sholat lima waktu , bukannya diberi kewajiban sholat lima waktu. Jadi ketetapan pada waktu Isro’ Mi’roj itu tidak akan dirubah-rubah dan tidak akan diganti. Di dalam hadits disebutkan :
QOOLAROSUULULLOOHISHOL LALLOOHU’ALAI HI WASALLAM : LAA YUBADDALU QOULII WA LAA YUMSAHU KITAABII (AL HADITS).
Artinya:” Bersabda Rosululloh SAW. ; Tidak bakal dirubah dan tidak bakal diganti”.
Sebab ada, hukum sholat yang dirubah, seperti sholat LAIL, yang awwalnya itu sholat wajib kemudian dirubah menjadi sholat Sunat. Tetapi  kalau sholat lima waktu itu wajib, kemudian pada waktu Isro’ Mi’roj  (tahun 12 kenabian) kewajiban itu ditetapkan tidak akan dirubah untuk selama-lamanya.
Yang mengatakan pada tahun 12 kenabian turunnya kewajiban sholat lima waktu itu salah faham, salah kaprah.
About these ads