Kadang ada yang salah memahami hadis yang artinya :

“Siapa yang mengenal dirinya maka kenal Tuhannya”.

Sehingga timbul fikiran kalau begitu Alloh itu manunggal (menyatu) dengan diri. Bila demikian berarti Alloh itu aku, aku juga Alloh. Untuk apa sholat, sebab aku ya Tuhan. (Ini namanya Njenar). Lama-lama bisa mengakui bahwa Alloh itu aku.
Manunggaling kawulo lan gusti (menyatunya hamba dengan Gusti), sepertinya tinggi. Manunggaling kawulo lan gusti tidak seperti manunggaling manisnya madu dengan madu, bukan seperti manunggaling panasnya besi dengan besinya, tidak seperti manunggaling sifat dengan mausuf, tidak lain juga tidak itu.
            
Manunggaling kawulo lan gusti, apakah kalau kawulonya kentut gustinya juga kentut?. Katanya ilmu ini tinggi, seberapa tingginya?. Malah yang lucu ilmu tersebut dikatakan langitnya langit, Satro Jendro Hayuningrat Pangruwat ing Bawono (karena manunggal kawulo gusti). Sampai tidak bisa membedakan gusti dengan kawulo, kawulo ya gusti, gusti ya kawulo. Kalau kawulonya ngantuk, gustinya juga ngantuk.
Dari kekeliruan memahami manunggaling kawulo gusti, timbulah kecaman dari orang-orang ahli kuliti (ahli dhohir) bahwa ilmunya itu (ilmu manunggaling kawulo gusti) adalah ilmu garingan (maksudnya ilmu kebatinan) sedangkan pengakuan ahli dhohir ilmu yang dimilikinya adalah ilmu telesan (basahan). Padahal keduanya sama-sama tidak faham (yang garingan tidak faham, yang telesan malah tidak faham).
Sebenarnya ilmu manunggaling kawulo lan gusti itu benar tapi maksudnya bukan demikian. Yang dimaksud Manunggaling kawulo gusti  itu bukanlah manunggalnya dzat hamba dengan Dzat Gusti (bukan dzat kawulo lebur kedalam Dzat Gusti atau Dzat Gusti lebur kedalam dzat kawulo). Bila sampai demikian jadilah faham ILHAQ yang mana menurut Ibnu Taimiyyah adalah lebih bahaya dari orang musyrik. Dan itu harus dibasmi, menurut kaum kerasin.
Akhir-akhir ini akan timbul lagi faham yang didominasi oleh fahamnya Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim, Wahabi. Mereka menamakan dirinya juga Ahli sunah wal jama’ah. Entah bagaimana nanti, semuanya rebutan benar. (Sebabnya rebutan benar karena kebenaran belum terpegang, bila telah terpegang tentunya tidak rebutan).
Oleh karena itu maka pendirian kita haruslah kuat, karena kalau tidak kuat akan seperti orang yang membeli himar (dalam kisahnya Luqman waktu mendidik anaknya).
Memang fahamnya tauhid ubudiyah itu manunggaling kawulo lan gusti, tapi yang dimaksudnya itu bukan manunggalnya Dzat melainkan manunggalnya karso, seperti : Gusti memerintahkan sholat – kita lalu sholat, Gusti memerintahkan puasa – kita puasa, Gusti memerintahkan zakat – kita zakat, Alloh melarang sesuatu – kita menjauhinya, Alloh memerintahkan sesuatu – kita mentaatinya. Beginilah yang disebut dengan manunggalnya karso. Dan inilah yang dinamakan Tauhid ubudiyah, yang mana menurut ilmu kalam tauhid ubudiyah itu adalah manunggaling kawulo lan gusti, maksudnya : Kawulo manunggal ing karsane Gusti.
Alloh pernah dawuh dalam hadis qudsi: Taatlah kepadaku, jauhilah laranganku, kamu akan mencapai hidup yang langgeng dan ucapanmu akan menjadi ucapan KUN FAYAKUN.
About these ads